Oleh : Reni Adelina

Sudah berkali-kali, aksinya gagal, namun Mak Datok dan para pengikutnya mengatur rencana ulang yang begitu besar. Mereka menyiapkan senapan dengan peluru bius yang berisi racun. Lalu apa yang terjadi ? Sang harimau mampu membalas serangan Mak Datok beserta pengikutnya. Sang harimau mengamuk besar, lalu mengejar semua orang yang tega menyakitinya.

Dengan buas dan ganasnya, menerkam, dan mencabik-cabik para pengikut Mak Datok. Tiba lah pada giliran Mak Datok, nyawa sudah di ujung tanduk, dengan kalap, harimau menerkam Mak Datok dengan penuh amarah. Lenyaplah satu persatu manusia jahiliyah di kampung Sei Sekapur. Sesepuh Mak Datok telah mati dalam keadaan mengenaskan.

Lelaki tua itu sampai berkeringat dan pucat pasi, melihat sahabatnya marah dan murka. Rasa ketakutan juga timbul dalam dirinya, sang harimau yang telah murka akhirnya secara perlahan meninggalkan lelaki tua itu menuju hutan di belakang surau. Tanpa banyak kata dan isyarat, seolah-olah batin raja rimbanya kembali muncul. Sedih bercampur takut, lelaki tua itu ingin memeluk sahabatnya, namun apalah daya, situasi sedang tidak bersahabat. Lelaki tua itu berusaha istighfar dan menenangkan diri secara perlahan. Setelah tenang, lelaki itu mengambil wudhu dan tetap berdoa memohon perlindungan dan kekuatan dari Allah SWT.

Matahari sudah terbenam, langit sudah merindukan malam, bertanda waktu maghrib sudah datang. Lelaki tua itu tetap mengumandangkan azan dengan suara serak sedih. Tuntaslah dia menyelesaikan panggilan sholat tersebut. Ketika berbalik badan ingin menunaikan sholat sunnah, terkejutlah ia bahwa sudah ada banyak warga yang ingin kembali sholat. Matanya berbinar-binar, mengucap syukur dalam hati yang terdalam. Tersusunlah dua saf saat sholat. Semua jamaah merapatkan barisan hingga salam mengakhirnya.

Dalam kerinduan yang mendalam kepada sang harimau, hikmah matinya Mak Datok, para warga pun akhirnya meminta kepada lelaki tua itu untuk mengajarkan mereka Islam secara menyeluruh. Bukan hanya memperbaiki sholat, namun seluruh aspek kehidupan. Secara perlahan, hiduplah dakwah Islam di kampung Sei Sekapur yang dipelopori oleh lelaki tua di ujung surau.

Perjalanan dakwahnya terus bergulir, hingga waktu yang cukup lama, rambut putih dan tongkat kusam menjadi saksi perjalanan dakwahnya. Proses tidak mengkhianati hasil, sampailah banyak orang yang tersadarkan oleh Islam. Menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan. Berkat bantuan sahabat baiknya dakwah ini berjalan di luar prediksinya. Harimau tersayang, kembali menuju habitat. Lelaki tua tetap berdakwah sampai batas usia menutupnya. Dakwah sampai Allah berkata waktunya pulang.
——- Selesai——–