Oleh: Vania Puspita Anggraeni

Sejak adanya pandemi COVID 19 pada bulan Maret 2020 lalu di Indonesia, jumlah korban semakin bertambah. Baik korban positif ataupun meninggal. Pemerintah dituntut berpikir semakin keras untuk menyelesaikan permasalahan pandemi yang menyerang negeri. Belum lagi, permasalahan di segala aspek yang muncul sebagai dampak adanya pandemi turut membuat negeri ini semakin terpuruk.

Kini, pandemi sudah hampir satu tahun bertengger di negeri khatulistiwa. Memporak porandakan perekonomian, kesehatan, bahkan keselamatan bangsa. Pemerintah, terus melakukan upaya sebagai bentuk tindakan preventif ataupun kuratif untuk meredam persoalan pandemi. Upaya preventif yang dilakukan pemerintah untuk masalah pandemi adalah gerakan 3 M, atau biasa disebut dengan protokol kesehatan. Yaitu. Menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Adapun untuk tindakan kuratif, pemerintah masih berupaya mengadakan vaksin agar penanganan semakin optimal. Dengan harapan, hal ini dapat menurunkan grafik pada kurva penyebaran virus COVID 19.

Namun, melihat permasalahan pandemi saat ini, seolah terlalu kompleks untuk diselesaikan dengan vaksin saja. Dilansir dari artikel online tirto.id, Epideimolog Griffith University, Dicky Budiman mengatakan bahwa ada pemahaman yang keliru jika masyarakat mengira dengan adanya vaksin semua akan selesai. Sebab vaksin bukan solusi ajaib, tapi hanyalah salah satu cara untuk membangun kekebalan individual dan perlindungan masyarakat.

Penanganan COVID 19 yang terlanjur merebak ke seluruh penjuru negeri saat ini, layaknya menemukan jarum di tumpukan jerami. Begitu sulit dan rasanya kurang efektif jika terlalu memusatkan pada vaksin. Karena, penduduk Indonesia sangat banyak sekali dan COVID 19 adalah musuh yang tidak nampak bagi kita semua. Penderita COVID 19 tanpa gejala atau yang biasa disebut OTG, juga bisa saja berkeliaran kemana saja dan tanpa disadari hal itu bisa menjadi pemicu virus semakin menyebar. Sementara untuk penerapan protokol kesehatan, hal itu seolah nyaris tidak berpengaruh pada pencegahan COVID 19. Karena tidak semua orang paham dan patuh akan protokol kesehatan. Terlebih, saat ini kepercayaan rakyat terhadap adanya virus COVID 19 juga semakin surut. Alhasil banyak sekali pelanggaran protokol kesehatan dengan sengaja sebagai akibat dari rasa percaya yang mulai menghilang pada keberadaan virus COVID 19.

Sebagai contoh, dilansir dari Kompas.com, meski aturan protokol kesehatan telah digaungkan, hal tersebut tidak berlaku pada Camden Bar, Menteng. Kerumunan masih saja ditemukan di tempat itu pada 10 Januari 2021 lalu oleh polisi ketika melakukan patroli bersama. Sejumlah saksi dan barang bukti telah diperiksa oleh petugas terkait.

Tidak hanya itu, dikutip dari liputan6.com pada Juni 2020 lalu pasien berstatus OTG atau yang biasa disebut orang tanpa gejala di Manado masih saja berkeliaran tanpa menerapkan protokol kesehatan. Karena hal itu, Kapolsek Urban Wanea AKP Bartholomeus Dambe menuturkan telah mendampingi Dinkes Kota Manado dan telah mengevakuasi pasien tersebut.

Kedua contoh tersebut adalah gambaran mengenai protokol kesehatan yang tidak begitu diindahkan di masa pandemi saat ini. Parahnya, kesadaran diri untuk saling menjaga satu salam lain dan memutus penyebaran virus seolah sudah hilang melalui bukti konkrit pasien OTG yang enggan menaati protokol kesehatan. Jika sudah demikan, bisa jadi virus semakin susah dikendalikan karena faktor penyebaran itu sendiri tidak bisa dikendalikan.

Maka, perlu adanya penanganan yang tidak hanya keseluruhan tapi juga mendasar terkait upaya pencegahan COVID 19. Sehingga, kurva pada grafik peneyabaran virus diharapkan dapat ditekan secara optimal jika pemicunya dapat dihentikan secara komprehensif dan mendasar.

Islam sebagai agama yang memiliki aturan secara kompleks dan bersumber dari Allah, memiliki solusi dalam situasi pandemi seperti saat ini. Menurut islam, pandemi tidak hanya diselesaikan dengan vaksin sebagai tindakan kuratifnya dan protokol kesehatan sebagai tindakan preventifnya. Islam mengajarkan agar pandemi diatasi dengan karantina virus dan pengobatan bagi penderitanya. Dalam hal ini, pemerintah bertindak sebagai penyedia kebutuhan rakyat selama masa karantina. Sehingga, rakyat dengan suka rela melakukan karantina tanpa takut kelaparan.

Perlu kita ingat, bahwa virus ini berasal dari Allah. Sudah seharusnya solusi yang kita pakai adalah solusi islam yang bersumber dari Allah agar tidak salah penanganan. Bukan malah menggunakan aturan lain yang bersumber dari akal manusia yang terbatas. Indonesia perlu adanya penangan semacam itu agar korban tidak semakin banyak berjatuhan akibat salah penanganan atau bahkan keterlambatan dalam tindakan.