Oleh: Maman El Hakiem

“Cepat tidur ya Nak!” Mak selalu bilang begitu,padahal jam baru menunjukkan pukul 20.00 waktu di kampung.

“Ya, Mak…kenapa sih, padahal masih banyak tugas sekolah yang belum dikerjakan.” Jawabku, selalu ingin tahu kenapa gak boleh tidur agak malam. Bukan hanya itu saja, tidak boleh makan di depan pintu, katanya bisa sulit mendapatkan jodoh bagi seorang gadis .

“Nanti juga, tahu sendiri jawabannya Nak, jendela kamar sudah ditutup rapat sejak sore bukan? Tanya Mak lagi, selalu mengingatkan karena katanya “ “sareupna pamali” (waktu jelang maghrib pantrangan). Entah mitos atau apalah, keluarga selalu mengunci jendela rapat-rapat sebelum adzan Maghrib berkumandang.

Seiring waktu, aku bukan gadis kecil lagi, tapi mahasiswi di perguruan tinggi negeri. Tinggal di kost-an, tentu banyak sekali aktifitas sampai malam. Ada saja tugas kuliahan yang harus diselesaikan, hingga tak terasa waktu hampir tengah malam.

“Wah…gawat hampir jam Cinderela, harus tuntas semuanya. Kata orang bijak, jangan membawa pikiran ruwet sebelum tidur.” Pikiranku berkecamuk, tiba-tiba ingat lagi pesan Mak di Kampung, aku harus segera tidur untuk istirahat malam.

Tak terasa malam kian beranjak, tugas kuliah memang masih numpuk, tapi apa boleh buat, akhirnya pesan Mak yang kuturuti. Pukul 21.00 sudah menjadi rutin untuk bebas dari kesibukan, aku harus segera tidur, karena kata Mak lagi, cepat tidur biar cepat bangun pula. Mak ternyata benar, bangun pagi-pagi sebelum Shubuh terasa lebih fresh.

Pukul 03.00 teng, weker berbunyi. Suasana dini hari ternyata membuat syaraf manusia kembali normal, inilah hikmah betapa Allah SWT memberikan keutamaan di sepertiga akhir malam untuk banyak bermunajat. Aku segera melepaskan selimut, sewaktu masih tinggal Mak di kampung, selalu saja kulihat emak telah memakai mukena untuk shalat tahajud. Padahal, jujur aku bangun karena ada hajat ke kamar kecil hehe…Suasana di tempat kost tentu berbeda, aku harus mandiri.

“Masya Allah betapa nikmatnya bangun dini hari, seolah kehidupan ini baru saja di mulai.” Bisikku dalam hati. Segera mengambil air wudlu, dan mengambil mukena, rasanya nasihat Mak benar, pada akhirnya aku sendiri akan tahu jawabannya. Aku bukan Cinderela yang dapat kutukan, sihir kesibukan tidak harus membuat tidur tengah malam.

Astaghfirullah…tak terasa air mata ini menitik saat sujud, teringat pesan Mak, bahwa kaum hawa aktifitas di luar rumahnya dibatasi sampai menjelang Maghrib. Kalau sudah malam, manusia harusnya segera istirahat untuk menyiapkan diri bermunajat dengan Allah di sepertiga waktu akhir malam.***