Oleh: Choirin Ummu Mush’ab (Ibu Generasi)

Miris sungguh miris. Membaca dan menyaksikan banyaknya anak durhaka di negeri ini. Seorang anak yang memenjarakan ibunya, seorang anak yang menuntut ganti rugi pada ayahnya, seorang anak yang berani berkata kasar, hingga membunuh orang yang telah melahirkannya menjadi headline di berbagai media.

Sungguh, sebagai ibu yang telah mengorbankan nyawa, waktu, tenaga untuk putra putrinya tak layak mendapatkan perlakuan demikian. Sungguh, sebagai ayah yang bertanggung jawab atas kehidupan anak mulai 0 bulan hingga ia dewasa tak layak mendapatkan perlakuan keji tak beradap. Dan sungguh, bagi kedua orangtua layak mendapatkan perlakuan terbaik yang bisa dilakukan anaknya.

Nyatanya dalam peradaban ala sekularisme yang mendewakan aturan manusia itu takkan terjadi. Anak yang sejatinya harus memperlakukan orangtua dengan baik sebagaimana perintah Allah, tidak banyak ditemui. Karena, mereka telah menjauhkan aturan Allah dari kehidupan, sehingga mengkriminalkan orangtuanya sendiri adalah tindakan legal.

Ngerinya negeri ini. Aturan Allah yang memuliakan orangtua dikebiri. Anak tak lagi punya adab. Mereka sering memperturutkan hawa nafsu hanya demi memuaskan keinginan saja. Hingga, orangtuanya pun tak bisa berbuat apa-apa.

Memang benar ada peribahasa yang menyatakan bahwa buah jatuhnya tak jauh dari pohonnya. Dengan, makna bahwa anak akan memiliki kesamaan dengan orangtua. Jika orangtua mendidik buah hatinya dengan baik, maka, anak pun akan menjadi baik. Sebaliknya, jika orangtua mendidik mereka dengan keburukan, niscaya keburukan pula yang didapat.

Nah, 2 sisi ini memang tak bisa dipisahkan. Antara orangtua dan anak yang memiliki saling ketersinambungan. Namun, perlu diingat bahwa sistem yang diterapkan oleh masyarakat dan negara juga amat mempengaruhi relasi keduanya. Jika sistem sekularisme yang jadi panduan maka tak heran jika orangtua mendidik putra-putrinya jauh dari Islam dan menghasilkan generasi tak beradab.

Maka, mencetak generasi Islam tak hanya bisa dibebankan pada individu ataupun keluarga. Harus ada peran negara yang membuat aturan baku ala Islam yang mampu menjamin bahwa pendidikan yang diterapkan oleh setiap orangtua kepada anaknya adalah pendidikan Islam. Negara pun harus menjamin bahwa masyarakat tempat anak dan orangtua tinggal adalah masyarakat yang menjadikan Islam sebagai standar kehidupan. Sehingga, dari sini terlahirlah generasi taat bukan generasi ahli maksiat. Generasi perindu surga bukan generasi durhaka yang siap neraka. Wallahu a’lam.