Oleh: Maman El Hakiem

Suasana pagi hari Kota Bogor sudah berkabut, hujan biasanya turun setelah Dzuhur. Jalanan ramai, bahkan macet, meskipun fly over telah dibangun. Jumlah kendaraan yang selalu bertambah, terutama kendaraan pribadi telah menjadikan nasib angkutan kota kian tersisihkan.

Untuk mencapai sasaran target “Tahu Jelethot Pak Kumis”, sengaja menyamar dengan naik angkutan kota. Wah…ternyata naik kendaraan umum selalu ada cerita kehidupan. “Punten, neng ongkosnya, mau kemana?” Tanya kondektur, biasanya kalau gak ada kondektur, penumpang bayar langsung ke supir saat penumpang turun di tempat tujuan.

“Arah Dramaga mang.” Jawab Sherli singkat. Sementara Desi dan Nur duduk di sampingnya.

“Mau kuliah ya?” Tanya kondektur, yang diiyakan oleh Sherli, lumayan karena beda tarif pelajar-mahasiswa dengan umum, padahal hari itu tidak ada mata kuliah, sekedar hunting gorengan.

“Astaghfirullah…saya berbohong hanya karena uang selisih dua ribu rupiah.” Ucap Sherli dalam hati. Sepanjang jalan mereka, tidak banyak mengobrol, di dalam angkot hanya tinggal mereka dan seorang ibu dengan bakul yang sepertinya berisi barang untuk jualan.

“Apa itu Bu, yang ada di bakul?” Nur yang matanya memang tajam, memberanikan bertanya.

“Ini..bakul jualan Ibu, ada kue-kue basah tradisional, seperti misro atau ketimus, bakpia, lemper juga ada.” Jawab Ibu sambil menunjukkan dagangannya.

“Oh kirain gorengan Bu, ya…boleh juga sih, mau gak Dan? Tanya Nur pada Desi, yang dari tadi hanya senyum-senyum saja memperhatikan Nur, dia memang selalu ngiler lihat makanan.

“Ingat loh…misi kita gorengan, bukan yang lain.” Jawab Desi mengingatkan.

“Nih…dikasih tahu, kalau kita membantu meringankan beban orang lain, pasti akan membuka pintu pertolongan dari Allah.” Nur memang pintar mencari dalil untuk menguatkan pendapatnya.

“Oh iya Bu, jualan keliling? Punya anak berapa?” Tiba-tiba Desi juga penasaran bertanya.

“Ya neng, ibu jualan keliling di komplek IPB, lumayan buat menambah penghasilan suami, anak ibu ada tiga semuanya laki-laki di pondok tahfiz.” Jawab Ibu itu menceritakan dirinya.

“Tuh kan, hanya dengan membeli misro atau ketimus ibu ini…setidaknya membantu anaknya yang ingin menjadi hafiz, kita kebagian pahalanya loh..” Ucap Nur sedikit menceramahi.

“Ya gak sama pahalanya Nur, akadnya jual beli. Yang dapat pahala ibu itu saja karena ia berusaha mencari rezeki yang halal dengan berjualan untuk biaya tahfiz anak-anaknya. Nah, kalau kita paling kecipratan pahala karena telah membahagiakan hati orang.” Jawab Desi gak mau kalah.

Para pemburu gorengan tersebut akhirnya memborong jualan si Ibu tersebut. “Wah rezeki memang datang tidak diduga.” Ucap si Ibu dengan wajah senangnya. (Bersambung)