Oleh Nadia Fransiska Lutfiani (Aktivis Dakwah, Pendidik, Pegiat Literasi )

Gen-Z atau generasi Z adalah mereka yang lahir saat perkembangan informasi atau internet mulai pesat, dalam teori sosiolog tentang pembagian generasi salah satunya dibahas generasi Z dimana mereka yang lahir antara tahun 1990 – 2000 atau kisaran usia 21 tahun, sebagai peralihan dari generasi X atau milenial. Kehidupan gen Z memang sudah terfasilitasi hidup yang serba bebas.

Nasib generasi sejalan dengan nasib bangsanya, karena generasi adalah sumbangan utama atas perannya mengandalikan dan mengembalikan kemajuan suatu negara. Namun perannya tidak sempurna jika dukungan yang hadir juga tidak menyempurnakannya. Tanpa dukungan dan minim penjaminan sama saja mengabaikan nasibnya.

Fakta dan harapan kini berbanding terbalik dan tidak sejalan. Dibalik arus kemudahan yang terfasilitas di era modernisasi hari ini, ternyata tidak sedikit yang sakit karna lumrahnya kehidupan yang serba hedonistik. Maka tidak bisa kaum muda atau generasi berjuang jika peran sinergitas tidak nampak memberikan dukungan, baik kelurga, masyarakat, kebijakan bahkan pemerintahan dalam sebuah negara.

Menilik apa yang terjadi di Sumatera Selatan tepatya di Palembang, seorang siswi kelas 1 Menengah Pertama harus menjalani perawatan di RS Jiwa Ernaldi Bahar. Menurut Kepala Instalasi Humas dan Layanan Pengaduan RS, Iwan Andhyanto menjelaskan siswa tersebut sebagai pasien rawat jalan dengan riwayat kasus kecanduan konten porno karna masifnya penggunaan gadget. Sehingga dibutuhkan bimbingan psikologis klinis agar masalah kecanduan terkikis. Ia juga menyampaikan kasus ini perlu peran keluarga sebagai benteng terakhir untukmelindunginya. (kumparan.com, 20/ 101/ 2019)

Tidak hanya itu, di Jawa Timur tepatnya Poliklinik Jiwa RSUD Dokter Koesnadi Bondowoso, terdapat dua pasien remaja rentan usia SMP dan SMA yang dirawat dengan riwayat sama karna kecanduan gawai, hingga menyebabkan anak tersebut tidak mau bersekolah beberapa bulan, yang paling fatal adalah perubahan kepribadian menjadi tempramental jika tidak diberikan gawai bahkan bisa menyakiti dirinya sendiri (liputan6.com, 17 /1/ 2018 )

Kehidupan Sekuler Kapitalis Menyuburkan Generasi Hedonistik

Empat asas kebebasan : hak milik, berperilaku, berkeyakinan, dan berpendapat menjadi patokan hak yang harus didapatkan. Dukungan kebebasan yang memfasilitasi dalam aturan demokrasi hari ini menjadikan pedoman hidup berputar pada arus yang sama. Terkait bagaiamana kebebasan mutlak menjadi bagian dalam dirinya. Dua kejadian yang sama dan berbeda tahun menunjukan kehidupan demokrasi pada akhirnya menunjukan sisi terpuruknya dalam menangani kehidupan generasi.

Inilah hasil cetakan generasi hari ini, realita kehidupan dibawah kukungan sekulerisasi,prinsip yang lahir dari induk kapitalisme tertuang dalam demokrasi liberal. Selama jerat kebijakan dengan landasan sistem kapital tidak dihilangkan dari benak umat, dan semakin erat mencekram, maka selam itu pula kehidupan jauh dari keselamatan jiwa.

Semakin manusia dibebaskan, bahkan meletakkan kedaulatan ditangan rakyat sama saja memberi ruang manusia menjadi penguasa kehidupan melebihi penciptanya, mereka akan tetap tunduk pada hawa nafsunya. Ketika aturan diserahkan kepada manusia maka syarat kepentingan juga tidak bisa lepas dari aturan yang diberlakukannya.

Kebebasan dalam demokrasi hari ini menjadikan manusia bebas pula membuat aturan hanya unuk mengeyangkan kebahagian dan kepentingan dirinya. Maka wajar jika penanganan ataupun penjaminan nasib generasi kini dipertaruhkan dalam sistem kapitalis. Aturan-aturan yang lahir hanya sedikit mampir pada tepi masalah, menyibak gelombang masalah dari sisi tepi berharap kering selesai teratasi namun semakin basah dan merambah tidak tertopang.

Pendidikan disuguhkan dengan kurikulum yang mendewakan barat yang nyatanya tangan-tangan pusatnya liberalisasi. Pergaulan dan kehidupan sosial semakin tidak terkendali, arus informasi yang semakin mudah diakses, ekonomi yang meroketkan beban kebutuhan rakyat semakin menanjak, standar kehidupan juga tidak jauh dari sesuatu yang menyenangkan mata, terlihat mewah dari fisik.

Padahal itulah yang menyebabkan rusak seluruh sendi kehidupan. Sumbu kerusakan dari standar hidup yang mendewakan kemewahan belaka minim keakhiratan.

Generasi Khairu Ummah Harapan Umat Hanya Lahir di Sistem Islam Kaffah

“Belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka”. Keadaan umat ini hari ini tidak pernah baik sebelum diperbaiki dengan cara bagaimana generasi awal dulu diperbaiki (Imam Malik )

Hebatnya generasi islam dalam penyumbang kejayaan kala itu memang tidak bisa dihilangkan atau dibungkam sejarah panjangnya. 2/3 dunia dibawah naungannya selama 13 abad lamanya. Bahkan sejarawan dunia mengatakan tidak ada yang bisa mengalahkan masa kejayaan islam, kegemilangannya menjadi penyumbang peradaban saat ini, hutang besar dengan islam.

Islam memang pernah memimpin dunia namun keruntuhannya bukan berarti lemahnya islam dalam masa sekarang, bukan juga ketidaklayakan islam, karna kemenangan islam juga sudah dijanjikan dihadirkan kembali dalam kehidupan, bagi penentang atau pejuang tentu akan berbeda.

Menelisik bagaimana sistem pemerintahan dalam islam sungguh sangat luar biasa dan dirindukan. Politik pendidikan yang diterapkan bertujuan mencetak generasi dengan pola pikir dan jiwa islami, didukung dengan kurikulum yang menunjang tujuan, dari pola pembelajaran atau mata pelajaran, semua ilmu-ilmu diajarakan dengan dasar penanaman aqidah dalam benaknya.

Bahkan pengajaran yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan merupakan kewajiban negara dalam menjaminnya bahkan memfasilitasi dengan Cuma-Cuma dengan pelayanan terbaik dan memadai tercapainya output yang diinginkan.

Pendidikan Rasulullah mengutamakan dua hal dalam mendidik seorang anak, pertama mengajarkan pemahaman agama Islam (adab) sejak dini, kedua menanamkan kepada umat Islam untuk menjadi umat terbaik, maka wajib untuk belajar (ilmu) hingga ke negeri yang jauh sekalipun.

Sehingga bukan hanya keluarga saja yang diharapkan sebagai tembok pertahanan terakhir dalam mencetak generasi namun dukungan negara yang terkoordinasi secara kompleks tidak hanya bergantung satu pihak saja, semua saling bekerjasama.

Terjaminya pendidikan sebagai wadah mencetak generasi didukung dengan sistem ekonomi, dimana kebutuhan pokok rakyat dijamin penuh oleh negara, ekonomi tanpa riba, pemasukan negara berasal dari batul mal, bukan lagi pajak dan hanya diberlakukan jika terpaksa dan darurat.

Informasi yang beredar akan ditangani langsung dibawah Direktorat Penerangan menjamin informasi yang disevarkan, pemimpin redaksi bertanggungjawab penuh terhadap setiap bentuk pemberitahuan bagi publik,tujuan utamanya adalah membangun masyarakat yang kuat dan kokoh, menghilangkan keburukan serta terciptanya kegaungan islam dan keadilannya.

Itulah dukungan penuh dan keseriusan pemimpin dibawah naungan daulah islam menangani generasi dari kerusakan ide kufur yang melunturkan iman dalam benak umat.

Sebaliknya akan membangun dan memenuhi hak rakyat demi terciptanya kehidupan islam yang kaffah akan mendorong tercipta stabilitas dalam mencetak jiwa-jiwa kuat generasi yang mulia bermartabat dengan keimanan dan kuatnya aqidah menopang kepribadiannya serta mampu membawa islam keseluruh dunia.

Wallahu’alam bisshawab **