Disusun oleh : Lutfia Annisa (Mahasiwi dan Aktivis dakwah)

Musibah bencana alam belum juga berakhir, Indonesia kembali dihebohkan dengan berita penuduhan siswa non-muslim yang dipaksa berkerudung. Peristiwa ini terjadi di SMKN 2 Padang. Republika.co.id (28/1/2021) melaporkan tudingan pemaksaan ini tidak pelru dipermasalahkan. Masalah penudingan ini cukup bisa diselesaikan melalui jalur musyawarah untuk mencegah adanya perpecahan umat antar agama. Bahkan saat ini siswa non-muslim sudah mulai tidak mengenakan jilbab ketika pergi ke sekolah. Siswa non-muslim merasa lebih nyaman dan berani karena ada instruksi tegas dari Mendikbud (KOMPAS, 26/1/2021). Wakil Ketua MUI menuturkan bahwa penuduhan terhadap intoleransi Islam di sekolah ini akan terbukti salah apabila memaksakan peraturan pada siswa non-muslim (CNN Indonesia, 27/1/2021). Faktanya, tidak ada paksaan kepada siswa non-muslim di sekolah tersebut. Kasus intoleran ini sudah banyak terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Misalkan di tahun 2014 hal yang sama terjadi di sekolah-sekolah Bali. Tetapi, kasus intoleran ini sebenarnya tidak hanya diperuntukkan kepada Islam semata. Banyak kasus lain yang juga intoleran terhadap kaum muslim, seperti kasus tahun 2017 di SMAN 1 Maumere dan SD Inpres 22 Wosi yang melarang mengenakan jilbab (Tempo.co 24/1/2021). Kasus intoleran baik terhadap kaum muslim dan non-muslim sama-sama melanggar Pancasila, UUD, dan UU. Hal ini menyalahi prinsip intoleransi kebhinekaan Indonesia.

Islam telah menempatkan perempuan sebagai seseorang yang sangat dihargai dan dijaga. Posisi perempuan di tengah masyarakat tidak ada bedanya dengan laki-laki. Islam mengatur perempuan untuk menjada diri dengan mengenakan jilbab dan kerudung syar’i, tidak tabarruj, serta menjaga hubungannya dengan laki-laki. Perintah Allah swt sangat jelas tertuang pada Al-Qur’an QS. Al-Ahzab ayat 59 serta An-Nur ayat 31. Ketaatan perempuan dalam menjaga diri dengan menutup aurat akan menghindarkan dari kasus kriminal. Islam datang dengan membebaskan perempuan dari belenggu definisi “cantik” ala Barat yang terus berganti tiap kurun waktu. Tubuh perempuan bukanlah tontonan dan konsumsi publik yang dengan mudahnya dinikmati oleh lawan jenis. Islam akan dengan mudah menjaga perempuan tanpa embel-embel intoleran apabila Islam diterapkan secara total dalam kehidupan. Bukti tinta emas sejarah sistem Islam dalam menjaga perempuan pada pemerintahan Al-Mu’tashim. Pada saat itu ada perempuan yang dianiaya dan menjerit seraya memanggil nama Al-Mu’tasim di wilayah Amuria. Cerita tersebut di dengar oleh Khalifah Al-Mutashim, hingga Khalifah mengirimkan surat pada raja Amuria. Surat ancaman tersebut mampu menggetarkan singgasana raja Amuria saat membaca surat sang Khalifah. Pada akhirnya, perempuan tersebut berhasil dibebaskan tentara muslim dan Amuria berhasil ditaklukkan pula oleh tentara kaum muslim.

Demikianlan sedikit gambaran bahwa sistem Islam sangat menjaga perempuan dengan segala aturannya. Islam benar-benar meninggikan kehormatan dan menjaga perempuan dengan sangat baik.[]