Oleh Nadhifah Zahra

Viral dimedia sosial Masithoh seorang anak yang menjadi kuasa hukum dan menggugat ayahnya sebesar 3 milyar, akhirnya meninggal sehari sebelum persidangan karena serangan jantung. Masithoh adalah kuasa hukum Deden anak kedua Koswara (ayah).
Gugatan tersebut berawal dari tanah warisan seluas 3.000 meter persegi milik orangtua Koswara. Sebagian tanah tersebut disewa oleh Deden untuk dijadikan toko. Namun tahun ini, tanah itu tak lagi disewakan oleh Koswara karena akan dijual dan hasil penjualannya akan dijual kepada ahli waris termasuk saudara kandung Deden. Deden tidak terima dan akhirnya menggugat ayahnya 3 milyar ke pengadilan Bandung. KOMPAS.COM (22/01/2021)

Dalam sistem kapitaslis materialis hal semacam ini bisa saja terjadi dimanapun dan kapanpun. Demi kepentingan materi maka mereka rela mengorbankan segalanya bahkan hubungan kekeluargaan pun hancur demi memperoleh materi yang diinginkannya.

Lemahnya pemahaman umat terhadap ajaran Islam, sesungguhnya menjadi faktor utama kenapa kondisi ini terjadi. Ajaran Islam telanjur dipahami sebatas ritual saja, hingga tak mampu berpengaruh dalam perilaku, baik individu, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Dengan minimnya pemahaman itu tak sedikit individu muslim mengalami disorientasi hidup, mudah menyerah pada keadaan. Dalam konteks keluarga, tak sedikit yang mengalami disharmoni bahkan disfungsi akut hingga keluarga kehilangan keharmonisannya.

Adapun masyarakat, kian kehilangan fungsi kontrol akibat individualisme yang mengikis budaya amar makruf nahi mungkar. Sementara negara, tak mampu menjadi penjaga umat akibat sibuk berkhidmat pada asing dan pengusaha.

Hanya Kepada Islam Kita Kembali
Islam telah memberi solusi tuntas atas seluruh permasalahan umat manusia, termasuk masalah keluarga. Bekal iman dan takwa akan mendorong siapa pun untuk melaksanakan aturan-aturan Allah, karena inilah yang akan membawa kepada ketenteraman dan kebahagiaan. Hanya aturan Allah dan Rasul-Nya sajalah yang memuaskan akal, sesuai fitrah manusia, dan tidak akan pernah berubah sampai akhir zaman.

Hanya saja, hukum Islam tidak dapat tegak kecuali dengan menerapkan tiga pilar: pembinaan individu yang mengarah kepada pembinaan keluarga, kontrol masyarakat, dan adanya suatu sistem terpadu yang dilaksanakan Negara sebagai pelaksana aturan Allah dan Rasul-Nya.

Ketakwaan menjadi penentu lahirnya individu-individu muslim yang hanya patuh pada Allah SWT, ikhlas dengan Islam yang diyakininya. Ia akan mampu membentengi diri dari segala sesuatu yang membahayakan kehidupan mereka. Sehingga terlahir keluarga yang terbina ketaqwaan nya.

Islam juga sangat memperhatikan pentingnya hidup bermasyarakat dengan amar makruf nahi mungkar yang dilakukan menyeluruh, baik di keluarga, lingkungan kaum muslimin, dan jemaah-jemaah dakwah.

Keluarga Muslim Bahagia dalam Naungan Khilafah

Khilafah Islam adalah sistem pemerintahan berdasarkan akidah Islam. Syariat Islam mengatur seluruh aspek bermasyarakat dan bernegara. Penerapan Islam oleh Khilafah tidak hanya mewujudkan kesejahteraan rakyat, namun juga ketenteraman hidup setiap warganya.

Dalam pandangan Islam, selain memiliki fungsi sosial, keluarga juga memiliki fungsi politis dan strategis. Secara sosial, keluarga adalah ikatan terkuat sebagai pranata awal pendidikan primer, dengan ayah dan ibu sebagai sumber pengajaran pertamanya sekaligus tempat membangun dan mengembangkan interaksi harmonis untuk meraih ketenangan dan kebahagiaan satu sama lain.

Secara politis dan strategis, keluarga berfungsi sebagai tempat paling ideal untuk mencetak generasi unggulan, yakni generasi bertakwa, cerdas, dan siap memimpin umat membangun peradaban ideal di masa depan, hingga umat Islam muncul sebagai khayru ummah. Dari sinilah akan lahir generasi-generasi yang akan menghargai dan menghormati pengorbanan orang tua yg telah melahirkan dn mendidik mereka. Anak-anak yang senantiasa mengharapkan keridhaan orang tua dalam segala aktivitasnya. Serta anak-anak yg selalu berbakti kepada orang tuanya, lebih-lebih dimasa tuanya.

Sementara Negara, sebagai pelindung bagi rakyatnya, akan menjamin terpenuhinya hak-hak warga negaranya berdasarkan aturan Islam. Negara wajib berperan aktif dan turut campur melindungi akidah umat dan menjaga ketakwaan rakyatnya agar tidak mudah tergerus berbagai macam godaan dan musibah yang melanda. Melalui sistem pendidikan Islam yg komprehensif yang mencetak generasi yang berkepribadian Islam. Semua ini hanya mungkin terjadi jika syariat Islam diterapkan total dalam naungan Khilafah.

Telah sangat jelas, hanya Khilafah yang mampu menjamin terwujudnya ketenangan dan kebahagiaan dalam keluarga. Islam dengan syariatnya (yang diterapkan Khilafah) akan mampu menjaga rakyatnya dalam keimanan dan ketakwaan yang kukuh, sehingga tidak mudah tergoyahkan derasnya permasalahan yang menghantam atau tipu daya pihak-pihak yang ingin menjauhkan dari Islam, termasuk pemikiran kapitalis materialistis.

Wallahu a’lam bishowwab.