Oleh: Maman El Hakiem

“Mas jadi bagaimana besok, kita usaha apa?” Tanya Nur, baru kali ini agak bingung mendapatkan uang. Setelah suaminya terpaksa berhenti sementara dari kerjaan. Sebagai seorang pekerja kontrak di Batam, memang harus siap menerima resiko jika ada pemangkasan pekerja. Biaya hidup yang cukup tinggi di tengah sistem kapitalisme di negeri ini, membuat semua rakyat kecil harus pontang-panting untuk sekedar bertahan hidup di tengah pandemi.

“Sabar dulu, rezeki pasti selalu ada, bagaimana kalau kita coba bikin bakso? Kebetulan kamu kan pernah kuliah di tata boga, juga saya, meskipun lulusan teknik, tapi punya warisan ilmu orang tua bikin bakso.” Jawab Joko, seolah punya ide mencari solusi dengan usaha kuliner.

“Mas tuh gimana, lah…kita belum punya modal besar.” Jawab Nur masih juga bingung.

“Usaha itu gak usah mikirin modal besar dulu, yo wis nanti telpon teman sekerja, barangkali masih ada simpanan, kita pinjam tiga ratus ribu dulu, kiranya cukup untuk modal awal.” Jawab Joko kemudian ia menelpon temannya tersebut.
“Alhamdulillah…Pak Iksan mau memberikan pinjaman, in syaa Allah besok pagi, setelah Subuh di masjid depan, saya ke rumah Pak Iksan ambil uang, lalu langsung belanja bahan-bahan bakso ke pasar.” Ucap Mas Joko dengan wajah sumringah.

Bakso adalah kuliner sejuta orang, meskipun bukan kuliner asli pribumi, dalam bahasa Hokkien dikenal “bak-so” secara harfiah berarti “daging giling”. Nah, bakso sekarang ini sudah banyak macam variasinya, Mas Joko dan Mbak Nur mencoba membuka inovasi sendiri, bakso isi telur puyuh. Mereka menamakannya Bakso Lubna.

“Kita tawarin kemana ya, Nur?” Tanya Joko.

“Gak usah repot Mas, sekarang jaman online, tadi sudah sebar iklan via medsos.” Jawab Nur, kemudian ia mengcek layar hapenya. “Masya Allah, cukup banyak juga yang pesan Mas.” Ucap Nur yang membuat hatinya bahagia.

Hari itu pun menjadi pagi yang sibuk bagi pasangan keluarga yang sudah dikaruniai empat anak tersebut. Mereka berbagi tugas antar-antar pesanan sampai siang hari. Rutinitas baru yang dijalani sebagai pengusaha bakso yang laris manis, bakso dengan rasa yang luar biasa. Nama yang terinspirasi dari anaknya yang juga luar biasa prestasinya, serasa rezeki yang tidak diduga sebelumnya. Begitulah cara Allah SWT memberikan jalan pintu rezeki bagi hamba-Nya.

Hari kedua, modal pinjaman sudah bisa dikembalikan kepada Pak Iksan, lagian kalau utang itu harus segera dibayar, tidak baik menunda-nunda pembayaran. Karena utang akan dibawa mati.

“Mas, untung dari usaha bakso hari ini masih ada sisa dana seratus lima puluh ribu, kita simpan atau bagaimana?” Tanya Nur.

“Menyimpan uang itu hukumnya gak boleh, jika tanpa tujuan berapapun nilainya. Jadi, kita niatkan laba usahanya disimpan untuk membeli dorongan.” Jawab Joko, maklum ayah yang selalu Subuh di masjid tersebut sudah mengaji kitab sistem ekonomi Islam, jadi paham tentang hukum menyimpan harta(kanzul mal).

“Wah, Mas mau jual baksonya dorongan? Bisa bikin maju usaha kita dong….karena di dorong hehe.” Canda Nur dengan ketawa renyahnya, membuat suasana keluarga mereka selalu hangat penuh rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT. ***