Oleh : Titi Ika Rahayu, A.Ma.Pust.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama , Muhammad Zain menegaskan guru non muslim tak melanggar aturan untuk mengajar di madrasah.
Hal itu ia sampaikan untuk merespon kabar viral di media sosial yang menunjukkan seorang Guru Mata Pelajaran Geografi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja non muslim. “Penempatan CPNS guru Geografi yang non muslim di MAN Tana Toraja, tidak melanggar aturan,” kata Zain dalam keterangan resminya, Rabu (3/2/2021).
Meski demikian, Zain memberikan catatan bahwa guru pengampu mata pelajaran agama di Madrasah wajib beragama Islam. Sebab, Madrasah merupakan sekolah dengan ciri khas Islam. ( SindoNews.com 03/02/2021)
Wakil Ketua Umum Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah (PPKN) Tjetjep Muhammad Yasin angkat bicara terkait polemik ini.
Menurutnya, kebijakan pemerintah menempatkan guru non-Muslim di madrasah sangat berbahaya. Sebab hal ini sama saja membenturkan perbedaan.
Setahu saya yang awam, madrasah adalah tempat pendidikan yang mengajarkan ilmu umum dan agama beserta uswahnya. Sekolah madrasah itu didirikan oleh para ulama untuk mencetak pelajar di bidang agama. Ini berbeda dengan sekolah umum. Jika ada guru non-Muslim diperbolehkan mengajar di madrasah meskipun di pelajaran umum tetap saja tidak boleh. Kecuali dalam kondisi darurat. Seperti jika di suatu daerah jumlah Muslim minoritas dan tidak ada pengajar Muslim yang mumpuni soal pelajaran tersebut,” terang Gus Yasin. ( RMOLJatim 4/2/2021).
Ditambahkan Gus Yasin, yang namanya Islam itu selalu toleransi pada semua agama. Yang namanya perbedaan selalu membawa rahmat. Namun perbedaan itu tetap ada koridornya.


Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk manusia yg berkarakter, yaitu memiliki kepribadian Islam, memiliki tsaqafah Islam dan menguasai ilmu sains dan teknologi. Sehingga output yang diharapkan dari Madrasah Aliyah ini bukan hanya pintar tapi juga berkepribadian Islam.
Untuk mendukung keberhasilan dalam mencetak generasi yang berkepribadian islam, seharusnya faktor pendukung seperti tenaga pengajar dan kurikulum pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan tersebut. Apalagi Indonesia adalah negara Muslim terbesar dunia. Bukan hal yang sulit untuk mendapatkan pengajar berkualitas yang beragama islam. Hal ini bukan termasuk tindak diskriminasi, karena memang Madrasah Aliyah adalah lembaga pendidikan yang berbasis Islam.
Pemilihan tenaga pengajar begitu sangat penting karena sebenarnya mendidik itu bukan hanya sekedar transfer ilmu saja, melainkan juga transfer pemikiran dan karakter.
Seorang guru bukan hanya bertanggung jawab mengajar mata pelajaran yang menjadi tugasnya, tetapi juga mendidik moral, etika dan karakter siswanya.


Dalam istilah jawa, guru itu digugu lan ditiru. Maksudnya guru akan dipercaya dan diikuti. Sehingga sebagai seorang guru, harus bisa memberikan contoh yang baik bagi murid-muridnya. Karena mereka akan melihat dan meniru apa yang mereka lihat. Jadi, jika dalam lembaga pendidikan yang berbasis islam seperti Tsanawiyah dan Aliyah terdapat guru yqng non muslim, kemungkinan besar Akidah Islam peserta didik akan terpengaruh dengan akidah pengajar yang berbeda keyakinan tersebut. Hal ini jelas berbahaya karena dapat mendangkalkan akidah peserta didik.