Oleh : Hervilorra Eldira, S.ST

Aplikasi pesan singkat WhatsApp menunda keharusan bagi penggunanya membagi data pribadi ke platform Facebook. Mulanya, tenggat itu direncanakan berlaku mulai 8 Februari.

Mengutip AFP dilaman cnnindonesia (15/1/2021), WhatsApp menunda karena cemas penggunanya eksodus pindah menggunakan aplikasi pesan singkat lainnya jika kebijakan itu diberlakukan. “Kami akan memundurkan jadwal dan akan meninjau terlebih dahulu tanggapan para pengguna,” tutur WhatsApp mengutip AFP, Jumat (15/1).

Saat ini WhatsApp membagikan kategori informasi tertentu dengan Perusahaan-Perusahaan Facebook. Informasi yang dibagikan dengan Perusahaan Facebook lainnya mencakup informasi pendaftaran akun (seperti nomor telepon), data transaksi, informasi yang terkait dengan layanan, informasi mengenai cara berinteraksi dengan pengguna lain (termasuk bisnis) ketika menggunakan Layanan, informasi perangkat seluler, alamat IP, dan mungkin termasuk informasi lain yang disebutkan di bagian ‘Informasi yang Kami Kumpulkan’ dalam Kebijakan Privasi, atau informasi yang didapatkan dengan pemberitahuan kepada kita, atau berdasarkan persetujuan kita.

Sejak Whatsapp diakusisi Facebook, sebetulnya selesai sudah jaminan privasi kita. Tahun 2019 saja ada 9 kasus security. 3 diantaranya cukup serius. Smartphone dapat dengan mudah di-hack hanya dengan sebuah panggilan telpon via Whatsapp, baik diangkat atau tidak. Kemudian, dengan mengirim sebuah gambar atau video melalui pesan Whatsapp, hacker dapat menjalankan kodenya secara remote di smartphone kita. Salah satu korbannya adalah Jeff Bezos, CEO Amazon.

Privasi data pengguna amatlah penting. Tak heran publik beragam menyambut rencana Whatsapp tersebut. Bahkan mulai beralih ke aplikasi komunikasi dan pesan Turki BiP karena menilai aturan baru Whatsapp tersebut melanggar privasi pengguna. Mengutip dari blog resmi Whatsapp , Penggunanya tembus angka 2 miliar secara global. Dan sebanyak 83 % pengguna internet Indonesia memakai Whatsapp. Bahkan Indonesia masuk dalam 3 besar pengguna Whatsapp.

Umat muslim di Indonesia sendiri mencapai lebih dari 207 juta orang, terbesar di dunia, dan merupakan pengguna media sosial aktif. Menurut Balea (2016), 85% masyarakat Indonesia memiliki ponsel, dengan 43% di antaranya adalah smartphone. Tapi, uniknya jumlah ponsel yang terjual jauh melebihi jumlah total populasi Indonesia mencapai lebih dari 300 juta unit. Artinya, satu orang dapat memiliki dua atau lebih ponsel.

Hal ini membuat kita tahu bahwa umat islam itu memiliki potensi dan kekuatan. Sikap umat Islam yang berani memutus hubungan dengan korporasi kapitalis global sehingga mampu menggertak raksasa teknologinya seperti Whatsapp. Namun, potensi dan kekuatan ini belum disadari umat ini. Apalagi bila umat ini bisa hidup dalam kepemimpinan Islam maka kekuatan demografi, politik dan ekonominya pasti mampu meruntuhkan kesombongan musuhnya.

Kekuatan demografi tidak akan ada artinya tanpa Islam yang ditegakkan secara keseluruhan. Apalagi jika Islam hanya diambil aturan individu saja atau masalah ritual semata. Tentu besarnya demografi tidak artinya apa-apa. Padahal ratusan tahun yang lalu Rasulullah SAW sudah memberikan kita kunci untuk bisa menjadi penakluk dunia dan pemenang di akherat.

Rasul Muhammad SAW bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan sunah Rasul.” (HR Malik, Muslim dan Ash-hab al-Sunan).

Rahasia kekuatan muslim memang terletak pada ideologinya yang tertuang dari itu pemikiran (fikrah) dan metode pelaksanaannya (Thariqah). Hukum Islam itu datang untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Artinya ketika kita menerapkan islam dalam kehidupan kita, kita akan bisa menyelesaikan permasalahan yang saat ini sedang merundung umat islam.

Potensi demografi telah terpampang nyata. Ideologi Islam telah banyak dibahas di kitab-kitab mutabannat ulama yang dilandaskan pada Alqur’an dan Sunnah Rasul. Tinggal generasi muslim hari ini apakah akan mau untuk bersungguh-sungguh mengkajinya kemudian mendakwahkannya dan menerapkannya dalam kehidupan atau tidak.

Jika hanya kepemimpinan Islam yang mampu menggunakan potensi tersebut sebagai senjata umat muslim untuk menjadi umat terbaik (khairu ummah), maka selayaknya kita juga ikut andil dalam memperjuangkannya.
Wallahu’alam.