Oleh : NS. Rahayu

Sebelum masuk komunitas kelas menulis, yang saya tahu hanya menulis karena ada amanah nulis, kemudian serahkan tulisan pada penanggung jawab kepenulisan, beres. Sesederhana itu, tidak tahu bagaimana kualitas tulisan saya, tidak tahu sudah benar atau salah dalam KBBI, sudah menggunakan kalimat efektif atau belum dan tidak tahu apapun tentang media untuk kirim.

Bahkan ketika diberitahu alamat media, juga malas mencoba untuk kirim sendiri. Dan mungkin masih banyak yang seperti saya kala itu. Alasan melakukan hal itu, karena tidak mau ribet, belum tahu, dan tidak mau mandiri (milih bergantung terus). Dan merasa tenang-tenang saja, karena yang penting sudah nulis dan setor.

Jadi menulis hanya untuk menggugurkan kewajiban. Alasan tersebut juga tidak salah selama aqad (janji) menulis yang sudah dibuat tertunaikan. Lantas masalahnya dimana? Inilah yang perlu penulis ketahui, terutama yang masih awal terjun dalam kepenulisan.

Ada beberapa hal mengenai tulisan yang seringkali menjadi keluhan editor yang akan mempengaruhi layak atau tidaknya tulisan kita ditayangkan. Editor yang paling bertanggungjawab memoles tulisan anggotanya agar lebih cantik.

Ketika tulisan sudah masuk ke redaktur, maka seleksi tulisan akan disensor. Dari membaca 1 atau 2 paragrap sudah mulai terseleksi, jika bagus berlanjut ke paragrap 4 sampai 5, jika sesuai tema, maka akan dibaca sampai akhir.

Jadi apabila ada kesalahan sedikit, maka akan dieditkan, tapi jika banyak bahkan fatal, pasti langsung dieliminasi. Baik dengan pemberitahuan ataupun tidak. Itu hak media.

Sebagai penulis harus siap dengan semua konsekuensi tersebut dan tetap terus menulis untuk melentikkan jemari dan mengolah rasa. Pada akhirnya pengalaman akan membuat penulis mahir. Ada tips yang dapat dijadikan alat ketika menulis, agar tulisan menjadi berdaging dan menarik redaktur yakni sunting tulisan.

Dalam tulis menulis, sunting tulisan ini bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tulisan itu sendiri. Sehingga penulis harus bisa melakukan sunting minimalis tulisan sendiri, sebelum kirim ke PJ, terlebih media. Waduh, saya gak punya ilmunya! Ini alasan klasik yang harus ditinggalkan.

Percaya dirilah bahwa kita mampu, mempercantik, memperlangsing tulisan agar enak dibaca. Tulisan yang berdaging (cantik dan langsing) sulit untuk ditolak media. Ada beberapa tips bagi penulis pemula yang bisa dilakukan agar tulisan bisa berdaging dengan sunting minimalis sendiri, antara lain :

  1. Jangan mengulang kata yang sama, makna yang sama dalam satu paragrap. Buat kalimat menjadi lebih efektip. Hal ini akan membuat tulisan berdaging yakni dengan membuang lemak-lemak yang ada dalam kalimat tersebut.
  2. Perbanyak penggunaan titik dan koma untuk mempertegas kalimat. Hindari satu paragrap yang berisi empat baris atau lebih, hanya punya satu koma dan satu titik. Karena akan melelahkan untuk dibaca.
  3. Typo (salah ketik), untuk menghindari typo, penulis dapat membacanya berulang, sehingga kelebihan atau hilang huruf dapat diperbaiki sendiri.
  4. Buat dalam satu paragrap berisi maksimal 4/5 baris dengan satu tema yang ingin disampaikan.
  5. Yang juga sering dilupa oleh penulis pemula adalah menyertakan pada fakta yang dirujuk. Jangan lupa mencantumkan nama media, tanggal/bulan/tahun agar lebih akurat.

Tidak sulit kan? Dengan melakukan swasunting minimalis akan sangat membantu tulisan kita sendiri untuk dilirik redaktur media. Tidak ada yang sulit ketika kita terbiasa melakukannya. Proses teknis diatas yang sering saya lakukan hingga saat ini, ketika menulis. Semoga bisa menginspirasi.