Oleh : Indri NR

Masyarakat harus hati-hati dan lebih waspada, menyusul ditemukannya varian baru dari virus corona (Covid-19). Virus corona varian baru itu disebut lebih cepat menular dibandingkan dengan yang sebelumnya.

Menurut epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman, varian baru Covid-19 dari Inggris itu diduga telah menyebar ke Indonesia. Apalagi dikabarkan telah masuk di negara tetangga Indonesia yakni Singapura.( jateng.inews.id, 29/12/2020)

Untuk diketahui, saat ini pemerintah tengah melarang masuknya WNA dari seluruh dunia seiring dengan meningkatnya penularan Covid-19. Namun kebijakan diatas kertas berbeda dengan kenyataan di lapang.

Sebanyak 153 WNA asal China masuk ke Indonesia pada 23 januari lewat Bandara Soekarno-Hatta. Informasi tersebut dibenarkan Kasubbag Humas Ditjen Imigrasi Ahmad Nursaleh ketika menanggapi isu kedatangan tenaga kerja asing (TKA) asal China yang beredar di media sosial.

Tidak hanya itu, pada tahun 2020 juga banyak TKA Cina masuk ke Indonesia. Pada akhir Juni hingga awal Juli 2020, 500 WNA asal China masuk ke Indonesia melalui Bandara Haluoleo, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Mereka tiba secara bertahap di Bandara Haluoleo untuk bekerja di PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stainless Steel yang berlokasi di Sulawesi Tenggara. Masuknya 500 WNA asal China itu juga terjadi di tengah larangan WNA dari seluruh dunia masuk ke wilayah Indonesia untuk mencegah penularan Covid-19. (nasional.kompas.com, 25/01/2021)

Sungguh ironi ditengah penanganan pandemi. Disaat negara lain di dunia membatasi jumlah WNA yang masuk, justru Indonesia memberikan keleluasaan ratusan WNA masuk tanpa mempertimbangkan dengan matang keselamatan rakyat sendiri.

Berbagai alasan kedatangan WNA ke Indonesia tidak bisa dibenarkan begitu saja, baik alasan sebagai tenaga kerja atau yang lainnya. Kedatangan WNA ke Indonesia setidaknya memiliki dua dampak berbahaya.

Pertama, sebagai tenaga kerja asing mereka telah menutup peluang pribumi untuk mendapatkan pekerjaan terkhusus di masa pandemi yang berdampak pada ekonomi. Banyaknya TKA Cina yang masuk ke Sulawesi Tenggara dan wilayah lainnya telah merenggut kesempatan anak bangsa untuk memperoleh pekerjaan. Tidak hanya itu pendapatan negara juga akan lari keluar negeri.

Kedua, kedatangan WNA akan dapat meningkatkan resiko tertular Covid-19. Kasus Covid-19 di Tanah Air belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Kasus aktif pun masih di atas 100.000. Data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 pada Jumat (5/2/2021) hingga pukul 12.00 WIB menunjukkan, dalam 24 jam terakhir ada sebanyak 176.672 kasus aktif Covid-19 di Tanah Air dari total kasus 1.134.854. Jumlah tersebut bertambah 1.874 kasus dari data sebelumnya. Adapun saat ini sudah sebanyak 510 kabupaten/kota di 34 provinsi yang terpapar Covid-19.

Perlindungan Terhadap Rakyat Harus Diutamakan

Virus Covid-19 memiliki kecepatan peularan yang cukup tinggi berdasarkan data yang ada. Oleh karenanya kebijakan dalam penanggulangannya harus serius. Keselamatan rakyat harus menjadi prioritas utama pemerintah. Penyelematan dalam aspek ekonomi dan kesehatan perlu diperbaiki. Longgarnya kebijakan keluar masuk WNA adalah wujud mengesampingkan keselamatan rakyat. Ironis, rakyat dalam negeri dibatasi aktivitasnya, namun melonggarkan kebijakan masuknya warga negara asing.

Diperlukan adanya paradigma yang benar dalam penanganan wabah. Paradigma benar tersebut dapat kita jumpai dalam sistem Islam. Solusi Islam dalam mengatasi wabah tidak bisa dilepaskan dari komprehensivitas ajaran Islam. Berikut ini beberapa paradigma Islam tentang penanganan wabah:

Paradigma pertama yaitu Ri’ayah (mengurusi dan mengayomi rakyat). Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dia pimpin.” (HR al-Bukhari).

Dalam Islam pemimpin harus benar-benar berupaya sekuat tenaga mencurahkan segala potensi yang ada. Tampilnya seorang memimpin dalam ikthiar penyelesaian wabah merupakan bagian dari amanah Allah SWT yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Keselamatan rakyat yang dipimpinnya harus diutamakan melebihi yang lain.

Paradigma kedua yaitu wajib menjaga nyawa manusia (hifzh an-nafs). Di antara maqashid asy-syari’ah (tujuan syariah) adalah hifzh an-nafs, yakni menjaga jiwa. Islam mengajarkan bahwa nyawa manusia harus dinomorsatukan. Oleh karena itu, pembunuhan dianggap sebagai dosa besar dan pelakunya mendapat sanksi yang sangat berat, yaitu qishash. Bahkan terkait dengan nyawa, Rasulullah saw bersabda, “Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Mukmin tanpa haq.” (HR an-Nasa’i dan at-Tirmidzi).

Dengan demikian dalam pandangan Islam, nyawa manusia harus diutamakan, melebihi ekonomi, pariwisata, atau pun lainnya. Oleh karennya Khilafah akan tegas dalam menegakan aturan penanganan wabah termasuk didalamnya melarang WNA masuk jika memang dianggap membahayakan bagi rakyat. Allahu’alam bi showab