Oleh: Khasiatul Fadilah
(Aktivis Remaja Muslimah Karawang)

Kian Hari, kredit menjadi salah satu penjamin untuk membentuk atau membantu perusahaan agar terus berkembang. Salah satu bentuknya adalah pemberiam jaminan kredit kepada perusahaan yang bergerak dibidang daur ulang botol plastik.

International Development Finance Corporation (DFC) memberikan jaminan kredit sebesar US$35 juta untuk mobilisasi investasi US$100 juta bagi para pengusaha perempuan. (cnnindonesia.com, 14/1/2021)

Tujuan DFC untuk memobilisasi modal dan memberi intensif kepada sektor swasta dalam rangka pemberdayaan perempuan dalam bidang ekonomi. Perempuan kian hari dijadikan perisai ekonomi, mereka didorong untuk terjun kedunia bisnis dan ekonomi.

Jaminan kredit? Bagaimana caranya untuk mengembalikan jaminan tersebut?
Tidak menutup kemungkinan jaminan kredit tersebut ada transaksi riba atau bunganya.

Padahal Allah sudah mengharamkannya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰۤوا اَضْعَا فًا مُّضٰعَفَةً ۖ وَّا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۚ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
(TQS. Ali ‘Imran 3: Ayat 130)

Sudah dilarang malah dilanggar akhirnya nambahlah beban utang yang pastinya ditanggung para pengusaha perempuan tersebut.

Perempuan itu dimuliakan, apa yang dilakukan DFC ini seolah menguntungkan buat para perempuan padahal ini adalah sebuah jebakan agar perempuan sukarela ikut dalam industri ekonomi yang menghasilkan uang bagi kapitalis.

Bukan hanya itu keikutsertaan perempuan dalam ekonomi juga untuk menutup kegagalan kapitasil dalam mewujudkan kesejahteraan perempuan.

Disistem kapitalis perempuan harus banting tulang, bekerja keras untuk menyambung hidup demi keluarga hingga fisik dan psikisnya lelah. Tidak aneh ketika para ibu stres, selain anak dan keluarga yang menjadi korban nyawa dan kehormatan inipun menjadi taruhan.

Tugas perempuan itu menjadi ibu dan pengatur rumah, mereka tidak dibebani kewajiban mencari nafkah sedangkan laki-laki diperintahkan untuk menjamin kebutuhan sandang, pangan dan tempat tinggal.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لْوَا لِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَا دَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَا مِلَيْنِ لِمَنْ اَرَا دَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَا عَةَ ۗ وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِا لْمَعْرُوْفِ ۗ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَآ رَّ وَا لِدَةٌ بِۢوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُوْدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖ وَعَلَى الْوَا رِثِ مِثْلُ ذٰلِكَ ۚ فَاِ نْ اَرَا دَا فِصَا لًا عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَا حَ عَلَيْهِمَا ۗ وَاِ نْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْۤا اَوْلَا دَكُمْ فَلَا جُنَا حَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّاۤ اٰتَيْتُمْ بِا لْمَعْرُوْفِ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(TQS. Al-Baqarah 2: Ayat 233)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْـتُمْ مِّنْ وُّجْدِكُمْ وَلَا تُضَآ رُّوْهُنَّ لِتُضَيِّقُوْا عَلَيْهِنَّ ۗ وَاِ نْ كُنَّ اُولَا تِ حَمْلٍ فَاَ نْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتّٰى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ فَاِ نْ اَرْضَعْنَ لَـكُمْ فَاٰ تُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ ۚ وَأْتَمِرُوْا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوْفٍ ۚ وَاِ نْ تَعَا سَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهٗۤ اُخْرٰى ۗ 

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan kandungannya, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu maka berikanlah imbalannya kepada mereka; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.”
(TQS. At-Talaq 65: Ayat 6)

Maha benar Allah dengan segala firman-nya.

Dalam sistem Islam banyak jenis pemasukan diantaranya dari kepemilikan umum Sumber Daya Alam (SDA) yang akan dikelola oleh negara dan hasilnya untuk kepentingan rakyat bukan untuk keuntungan pribadi yang menjadi beban rakyat

Allah Maha Adil dengan segala pembagian tugas kepada Mahluk yang diciptakan dan hanya peraturan Allah lah sebaik-baiknya peraturan.

Wallahu’alam.