Oleh: Maman El Hakiem

“Jangan lupa loh Des, bahan rendang itu daging, kelapa, sereh, kunyit dan rempah lainnya.” Pesan Mamah setiap mau hari raya lebaran, selalu saja menyuruhku dibikinin rendang.

“Ya Mah, pasti aku ingat resep yang dari Mamah.” Jawabku, lalu bergegas menyalakan motor matic untuk segera pergi ke pasar.

Rendang itu sebenarnya, menurut literasi berasal dari kata “marandang” yang bermakna “secara lambat”. Makna tersebut merujuk pada lamanya waktu memasak rendang untuk menghasilkan tekstur daging yang kering dan aroma rempah yang kuat dengan warna cokelat gelap serta bercitarasa maksimal. Jadi, sebenarnya rendang adalah suatu teknik memasak, bukan nama makanan.

Suami Desi berasal dari tanah Minang, maklumlah jika resep rendang diwariskan secara turun temurun. Udo Hendra, pasti senang jika istrinya bisa mewarisi resep rendang dari Datuknya.

“Ayo dong…kita ini harus bisa berusaha mandiri, tidak lagi menjadi karyawan, terlebih jika pensiun nanti, pasti harus ada usaha yang menjadi pundi penghasilan kita.” Ucap Hendra suatu waktu.

“Benar juga ya, kita harus memulai usaha rumahan…” Jawab Desi, lalu merenung untuk bagaimana memulai usaha rumahan. “Ah, gini aja, kita coba bikin tester rendang buatanku, nanti Mas bawa ke kantor untuk dicoba, syukur kalau ada pemesanan.” Desi seakan mendapatkan ide cemerlang.

“Nah, itu ide bagus, biar besok saya bawa beberapa porsi, orang bilang biar tekor asal nyohor dulu.” Ucap Hendra yang mulai semangat untuk sama-sama merintis usaha.

Esok paginya, sebelum waktu Subuh. Desi sudah sibuk di dapur memasak rendang. Karena memasak rendang yang memiliki citra rasa tinggi tidaklah mudah dan memerlukan waktu lama, tiga jam minimalnya agar daging rendang lembut dan aroma rempahnya meresap. Di saat harga gas mahal, memasak dalam waktu tiga atau empat jam non stop tentu menjadi beban biaya.

“Akhirnya rendang sudah siap santap nih, silahkan dicicipi dulu? Desi menawari suaminya dengan senyumannya yang manis.

“Wah istri yang shaliha,…eh tapi kan ada Mamah, alangkah baiknya kita tawarin Mamah dulu, karena resepnya kan dari beliau. Pasti dia bangga punya mantunya sudah jago bikin rendang kesukaannya…hehe.” Ucap Hendra yang membuat Desi tersipu malu.

“Ceritanya…gak mau jadi korban pertama masakan istri nih? Kan baru pertama masak, kemungkinan peluang gak enaknya besar.” Sindir Desi, lalu ia mencoba mencicipinya sendiri.

“Tuh…kan masih agak kasar, wah kalau Mamah tahu ia bakalan protes.” Kata Desi.

“Nah loh….gak apa-apa sini biar aku yang habisin, masakan istri itu harus dihargai. Hikmah bikin rendang itu adalah kesabaran, ketekunan dan kebijaksanaan dalam hidup.” Ucap Hendra yang memberi semangat agar Desi tidak mudah putus asa.***