Oleh: Ulfah (Mahasiswi Unsultra Kendari)

Kekerasan seksual di negara ini sudah sangat sering terjadi dikalangan masyarakat baik di lingkungan keluarga, lingkungan pekerjaan, sekolah maupun universitas. Kebanyakan yang menjadi korban dari kekerasan seksual adalah kaum wanita baik dewasa maupun anak-anak. Bentuk pelecehan sendiri terdiri dari dua macam, yakni secara verbal seperti memberikan komentar, siulan, seruan yang bernada melecehkan. Kedua non verbal atau tindakan yang lebih berani layaknya menyentuh, meraba, penyerangan seksual, menguntit, pemerkosaan, sampai menunjukkan alat kelamin.
Hal ini yang membuat Komnas Perempuan menyambut baik Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) kembali masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2021. Sebab, RUU PKS tersebut sudah diusulkan sejak 2012. “Komnas Perempuan mengapresiasi DPR RI yang telah menetapkan RUU PKS dalam Prolegnas Prioritas 2021. RUU PKS diusulkan sejak 2012, artinya, pengesahannya sudah 8 tahun ditunda,” kata Komisioner Komnas Perempuan, Theresia Iswarini saat dihubungi, Jumat (15/1/2021).
Lantas apakah RUU ini mampu mengatasi masalah ini dengan baik? Mengingat negara kita masih menganut sistem sekularisme dimana aturan agama itu terpisah dengan aturan kehidupan bermasyarakat seperti cara memperlakukan perempuan, cara berpakaian, bergaul antara lawan jenis terkadang kita sering melupakan bahwa ada batas-batasan untuk aktivitas tersebut. Dalam Islam sudah sangat jelas bahwa ada aturan yang mengatur kehidupan bermasyarakat dan itu sering kita abaikan. Dalam sistem sekuler seperti sekarang kekerasan seksual itu sangat rentan terjadi karena lemahnya aturan yang diterapkan dalam masyarakat.


Adapun untuk masalah seperti itu Islam juga punya solusi yang tentunya bersumber dari Sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT yaitu yang berasal dari Al-quraan dan As-sunnah mulai dari mengatur urusan berpakaian, berinteraksi sampai dalam masalah penjagaan terhadap unsur-unsur pornografi yang bertebaran di masyarakat, baik melalui medsos, TV, musik, buku, dll .
Harus adanya aktivitas dakwah yaitu amar ma’ruf nahyi munkar yang terus disampaikan kepada masyarakat. Karena Islam memandang, bahwa manusia bukanlah robot, karena apabilah seorang manusia diberi pemahaman tentang mana yang benar dan salah, akan tetap ada kecenderungan didalam dirinya untuk mengingkari apa yang telah masuk ke dalam sistem berfikirnya. Manusia punya kecenderungan memilih yang menurutnya nyaman dan mudah ia lakukan tanpa susah payah. Artinya, kecenderungan untuk berbuat salah akan tetap muncul. Maka di sinilah Islam menempatkan peran amar ma’ruf, nahyi mungkar sebagai sebuah alat kontrol sosial.
Dalam Islam pun dalam memberlakukan hukuman tidak secara serampangan tapi mengharuskan adanya sanksi yang keras atau tegas kepada pelaku kekerasan seksual contohnya tindak perkosaan, maka dalam hal ini para ulama’ menyatakan, bahwa sanksi bagi pelaku tindak perkosaan ini yang mempunyai saksi adalah had zinâ, yaitu dirajam (dilempari batu) hingga mati, jika pelakunya Muhshan (sudah menikah); dan dijilid (dicambuk) 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun, jika pelakunya Ghair Muhshan (belum menikah). Sebagian ulama’ menambahkan kewajiban membayar mahar kepada perempuan yang menjadi korban.
Oleh karena itu pentingnya penerapan syariat islam dalam kehidupan bermasyarakat agar aturan yang bersumber dari Allah SWT dapat dilaksanakan dan kita terhindar dari hal-hal yang Allah SWT. Haramkan. Hal ini tentunya dibutuhkan peran Negara agar aturan tersebut dapat dilaksanakan secara menyeluruh. Wallahu ‘alam bishowab[]