Oleh: Maman El Hakiem

“Hidup ini jangan banyak mengeluh, kalau kritis boleh, apalagi pada penguasa? Bahkan wajib, rakyat mengoreksi kebijakan penguasanya.” Ucap Pak Asep, meskipun tukang bubur keliling, tapi ia rajin ikut pengajian di kampungnya.

“Wah seneng, kalau sudah beli bubur Pak Asep, bonus tausyiah.” Ucapku saat bersama Firman memesan dua mangkok bubur.

“Ya. Buburnya enak, tetapi yang membuat rasa itu semakin berselera cara ia melayani dan tentu nilai dakwahnya. Mantap tenan!” Ujar Firman, ia memang penikmat bubur sejati. Segala bubur ia suka, bubur ayam, bubur kacang, kecuali bubur kertas (pulp) hehe.

“Ah Mas Firman bisa aja, saya itu sekedar menyampaikan apa yang harusnya disampaikan. Bubur itu makanan ramah lambung, tetapi prosesnya memerlukan kesabaran, begitupun dakwah harus sabar. Belajar melayani dan mengayomi umat dengan bijak.” Ucap Pak Asep penuh hikmah.

“Pak Asep dulu kuliah atau pesantrenan?” Tanyaku penasaran.

“Kuliah agama dalam pesantren kehidupan.” Jawabnya singkat. Tapi, malah membingungkan.

“Maksud Pak Asep bagaimana? Tanya Firman yang juga penasaran, sementara Pak Asep sambil melayani pembeli yang lain, sedikit memberi isyarat supaya kami sabar.

“Hidup itu adalah pesantren sesungguhnya, agama adalah pelajaran utamanya, kalau ilmu cara bikin bubur dan keahlian lainnya bisa dengan keberanian untuk mencoba. Saya kuliah teknik, tetapi yang diterapkan adalah ilmu agama berupa syariat dari Allah SWT.” Ucapan Pak Asep yang membuat kami takjub atas pemikirannya.

“Lah…sekarang banyak orang justru takut mengamalkan syariat Islam, kalaupun ada hanya bagian kulitnya saja, ajarannya dibenci, tetapi duitnya diincar hehe..” Ucap Firman masih saja kocak.

“Tadi saya perhatikan, cara kamu makan bubur seperti kebanyakan orang Fir? Tanya Pak Asep.

“Memang kenapa, saya makan dari pinggirnya dulu, biar gak panas, cara makan bubur saja kok ribet? Jawab Firman, seperti ingin protes.

“Lah…iya, itu seperti orang memakai ajaran Islam, gak mau yang panas-panasnya, yang bagian dingin diincar, padahal kalau tahu yang bagian panas bubur itu penuh dengan kelezatan, ada irisan daging, cakue, bawang polong dan lainnya.” Jawab Pak Asep agak panjang.

“Wah ini bahasa sastra kelas ulama nih, maksudnya gimana sih?” Tanya Firman.

“Penasaran ya? Itulah khilafah yang menerapkan ajaran Islam secara kaffah, mahkotanya kewajiban yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan hidup karena diatur oleh hukum yang menenteramkan dunia dan akhirat. Anehnya, orang masih saja mengeluhkannya ya?” Pak Asep dengan sabar menjelaskan.

“Denger tuh Firman, aku sependapat dengan Pak Asep, orang banyak mengeluh harusnya bukan karena ujian dari Allah, tetapi karena banyak didzalimi oleh penguasanya, saat kehidupan rakyat morat-marit, kesabaran rakyat diuji, namun harusnya pahala dakwah banyak dicari. Bukan begitu Pak Asep?.

“Bener banget, bapak senang bisa ngobrol dengan kalian. Oh iya hari ini jangan ada nota baru ya?” Sungguh pertanyaan Pak Asep yang tidak bisa dijawab spontan, karena utang kemarin belum bisa dibayar. Kebiasaan anak kost seperti kami saat akhir bulan. Tuman!. ***