Oleh: Maman El Hakiem

Harapan Mamah akhirnya kandas. Menjadi seorang dosen yang idealis di negeri kapitalis, harus siap menerima pil pahit. Dikeluarkan, hanya karena bertahan dengan pilihan jalan hidup, berdakwah menyerukan Islam yang kaffah.

Udara kota yang panas menyengat, tak terasa membuat keringat bercucuran. Namun, Sherli telah siap untuk menghadapi hari-harinya tanpa adalagi rutinitas di ruang kampus. Memang ada sesuatu yang hilang dalam keseharian, dunia ilmu sepertinya harus terhenti. Namun, seperti pelangi sehabis hujan, akhirnya ada secercah harapan untuk menggeluti dunia literasi, menulis rasanya menjadi dunia yang memberinya kebebasan untuk mencurahkan idealismenya.

“Kamu harus sabar Sherli, toh…menjadi dosen tidak membuat dunia berduka. Justru mungkin hikmahnya bisa lebih banyak waktu di rumah, bisa bantu mengembangkan usaha bakery kita” Ucap Johan, suaminya menghibur hati Sherli.

Suami Sherli adalah usahawan kuliner, segala resep kue dikuasainya. Awalnya martabak, pizza, roti, sampai akhirnya ingin mencoba membuat bakpia. “Mas tuh hebat, kue apa saja bisa dibikin, saya baru sadar jika usaha rumahan ini yang akan menjadi andalan usaha.” Ucap Sherli memuji suaminya. “Tapi, Mas dunia literasi kayaknya sudah menjadi passion saya” Lanjut Sherli.

“Ya bagus juga sih, tidak harus membantu bikin kuenya…promosinya yang penting, bisa menggunakan jaringan relasimu kan?” Tanya Johan memberikan saran.

“Nah, paling itu yang bisa saya bantu, kue bakpia Atilah saja namanya ya biar sudah familier, punya nilai jual.” Jawabku.

“Terserah, yang penting bisa laku di pasaran, kue itu tidak tahan lama, jadi promosinya harus gencar agar setiap produksi habis terjual.” Ucap Johan dengan penuh rasa optimis.

Akhirnya di awal tahun 2021 ini bakpia launching dengan penjualan secara online. Penjualannya, meskipun baru sembilan box, tapi harus tetap disyukuri, karena dalam usaha yang terpenting rasa syukurnya. Seperti halnya, seorang yang membawa kapak lalu pergi mencari kayu bakar untuk dijualnya, itu lebih terhormat daripada bekerja hanya ongkang-ongkang kaki, namun bergelimang dosa riba atau korupsi.

Bakpia atau bagi sebagian orang ada yang menyebutnya hopia artinya “kue yang enak”, secara tekstur memang termasuk kue kering, terbuat dari tepung terigu, gula, kacang hijau, rasanya manis tapi agak kelat. Panganan yang dipanggang ini sebenarnya akultuasi budaya Cina dengan nama “tou luk pia’, artinya kue berisi daging, namun di Nusantara ini berisi kacang hijau atau gula. Inilah nilai toleransi budaya yang sebenarnya dalam Islam, saling melengkapi nilai-nilai kemaslahatan dalam perkara yang dibolehkan dalam agama. Bukan toleransi dalam perkara akidah dan ritual ibadah.

“Sisa bakpia masih banyak ya, apa besok kita bikin bakpia lagi?” Tanya Johan.

“Usaha itu ibarat anak belajar naik sepeda, gak langsung lancar, perlu keseimbangan dulu. Rasanya penjualan hari ini lumayan juga.” Jawab Sherli.

“Besok, kayaknya iklannya harus lebih gencar lagi ya!” Pinta Johan, karena melihat Sherli memang pandai menulis di medsos.

Sherli hanya senyum kecil, di pikirannya ia berkata: “Menulis bukan untuk iklan bakpia, tapi mencerahkan umat tentang wajibnya penerapan syariah secara kaffah”. Ada-ada saja ya! ***