Oleh : Ning Hari Wuriani

Beberapa waktu lalu kabar viral, seorang guru non muslim bernama Eti Kurniawati mengajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja. Eti yang non muslim mendapatkan surat keputusan (SK) untuk mengajar Geografi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja. Hal ini pun menjadi perdebatan, pasalnya Eti merupakan pemeluk agama Kristen.

Kebijakan menetapkan guru yang beragama Kristen di sekolah Islam atau madrasah sejalan dengan Peraturan Menteri Agama ( PMA) Republik Indonesia. Tentang pengangkatan guru madrasah pada Bab VI pasal 30. Dalam pasal tersebut dicantumkan tentang standar kualifikasi umum calon guru (khususnya pada poin a) yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak disebutkan harus beragama Islam.

Peraturan yang dikeluarkan oleh pemangku kebijakan dengan mengatas namakan moderasi dan guru non muslim dapat mengajar di madrasah adalah keliru. Inilah bukti dari sistem pendidikan sekuler yang diterapkan di negeri ini. Sistem yang memisahkan aturan agama dari kehidupan, telah melahirkan faham liberalisme. Artinya kurikulum pendidikan di negeri ini terkhusus madrasah tidak lagi disandarkan pada Islam, tetapi pada kebebasan. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan yang seharusnya ditujukan untuk membentuk kepribadian Islam tidak akan bisa didukung dengan guru yang mampu mewujudkannya dalam sistem pendidikan sekuler.

Pengajar atau guru bukan hanya bertugas untuk memberikan ilmu. Tetapi juga, menanamkan kepribadian atau moral bagi peserta didik. Bagaimana jika guru yang menanamkan kepribadian itu guru non muslim ke peserta didik yang muslim? Jelas ini merupakan sesuatu yang sangat keliru. Karena dari segi agama saja berbeda sudah pasti banyak perbedaan. Apakah kebijakan yang di keluarkan oleh penguasa ini merupakan bagian dari toleransi dalam beragama?

Kebijakan yang di keluarkan oleh pemangku kebijakan, bukan bagian dari toleransi. Islam adalah agama sangat menjunjung toleransi. Toleransi sendiri tidak boleh di praktikan dalam hal akidah termasuk dalam pengajaran peserta didik beragama Islam yang akan diajarkan oleh guru beragama lain.

Jika hal ini terjadi, maka adanya pendangkalan akidah terhadap para peserta didik yang beragama Islam. Sangat mustahil jika peserta didik tidak meniru apa yang dilakukan oleh guru dan lambat laun umat Islam keluar dari aqidah dan pengamalan syariat. Maka sangat tidak efektif jika guru non muslim mengajar kepada peserta didik yang muslim.

Jika satu negara hancur bukan karena perang atau bencana alam, keduanya bukanlah faktor yang melatarbelakangi kemunduran satu bangsa melainkan pendangkalan akidah.

Problematika pendangkalan akidah, adalah bagian yang tidak luput dari pendidikan. Pendidikan adalah langkah awal mengatasi pendangkalan akidah. Sangat keliru jika persepsi orang diluar sana memandang subtansi pendidikan tidak punya efek apa-apa terhadap masyarakat, sebaliknya diluar sana orang melaju dengan langkah sepuluh kali dengan cepat karena subtansi dari pendidikan tersebut.

Pendidikan dalam Islam sangat memperhatikan dan menjaga akidah. Karena akidah merupakan salah satu pilar terpenting pada diri seorang muslim. Sehinga negara bertanggung jawab dalam menjaganya. Caranya yaitu dengan menjadikan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Dengan demikian akan terlahir generasi yang memiliki keimanan dan ketaqwaan yang kokoh, berkepribadian Islam, dan menguasai ilmu berbagai ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu terapan.

Islam juga telah menetapkan metode pendidikan yang akan membangun pemahaman, bukan hanya transfer ilmu tetapi juga mengharuskan guru mampu menggambarkan fakta atau ilmu yang disampaikan kepada peserta didik. Sehingga proses penerimaan yang disertai proses berfikir dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku mereka.

Penunjukan dan penempatan guru bukanlah hal yang sepele. Karena hal itu berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pendidikan dalam Islam. Yaitu membentuk kepribadian Islam pada peserta didik.

Hanya sistem Islam yang mampu melahirkan generasi yang berkualitas. Oleh karena itu, sudah saatnya Islam kaffah diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pendidikan. Wallahu a’lam bishshawab.