Oleh: Maman El Hakiem

Hujan gak pernah salah. Kalau hujan salah, apa harus ia minta maaf? Sementara saat musim kemarau, kamu selalu merengek, mengeluh, bahkan sampai bertaruh harta dan jiwa, hanya untuk mendapatkan setitik air. Curah hujan pun turun dengan kadarnya, cuma saja wadah untuk menampungnya kini telah dipersempit, bahkan hilang menjadi pabrik-pabrik dan sarana infrastruktur yang dibangun asal saja, demi kepentingan orang-orang yang hanya numpang hidup di negeri ini.

Mereka yang kehilangan habitatnya, hutan hijau yang telah rata menjadi lahan-lahan kehidupan, sementara satwa-satwa harus berpindah tempat tinggal. Ribuan bahkan jutaan hektar serapan air telah menghilang. Saat hujan datang ke bumi demi memenuhi panggilan doa orang-orang yang kehausan, tanah-tanah yang kekeringan dan tanaman yang mau bertumbuh. Kamu bilang hujan sebagai sumber bencana.

Ah, jiwa kamu sangat kerdil. Selalu menyalahkan hujan. Padahal, tanganmu itu yang tak mampu mengatur supaya infrastruktur bisa ramah lingkungan, pabrik-pabrik tidak mengganggu lahan produktif. Debit air yang tinggi saat musim hujan itu wajar, karena hidup ada musimnya, siklus alamiah yang harusnya kamu berpikir, menyiapkan sarana yang mampu menyalurkannya sehingga hujan tidak mampir ke pemukiman penduduk.

Musibah saat musim hujan harusnya tidak boleh terulang, tanah longsor, bencana banjir bagi orang yang berpikir adalah teguran atas segala kelalaian. Pelajaran berharga dari setiap bencana harusnya mampu mengubah perilaku diri, memandang kehidupan sebagai amanah yang harus dijaga dan dipelihara dengan aturan yang telah diberikan Allah SWT.

Aturan hidup dalam Islam, bukan saja mengatur urusan pribadi tentang kebutuhan hidup dan pemenuhan naluri yang dimilikinya, tetapi juga menyangkut urusan hubungan dengan manusia lain dan alam semesta. Kamu jangan egois, hujan dengan segala keiklasannya tidak pernah meminta balas jasanya, hanya satu yang ia pesan cintai alam dengan syariat-Nya.

Kamu dan hujan, terapkan syariat Islam.

Wallahu’alam bish Shawwab.