Oleh : Ummu Aqeela

Saat ini bahaya dan dampak narkoba atau narkotika dan obat-obatan pada kehidupan dan kesehatan pecandu dan keluarganya semakin meresahkan. Bagai dua sisi mata uang narkoba menjadi zat yang bisa memberikan manfaat dan juga merusak kesehatan. Seperti yang sudah diketahui, ada beberapa jenis obat-obatan yang termasuk ke dalam jenis narkoba yang digunakan untuk proses penyembuhan karena efeknya yang bisa menenangkan. Namun jika dipakai dalam dosis yang berlebih, bisa menyebabkan kecanduan.

Penyalahgunaan ini mulanya karena si pemakai merasakan efek yang menyenangkan. Dari sinilah muncul keinginan untuk terus menggunakan agar bisa mendapatkan ketenangan yang bersifat halusinasi. Meski dampak narkoba sudah diketahui oleh banyak orang, tetap saja tidak mengurangi jumlah pemakainya. Bahaya narkoba hingga menjadi kecanduan tersebut memang bisa disembuhkan, namun akan lebih baik jika berhenti menggunakannya sesegera mungkin atau tidak memakai sama sekali.

Berbagai berita tertangkapnya pengguna ataupun pengedarnya pun tidak pernah sepi dari media, hampir setiap harinya selalu ada. Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng Kombes Pol Ignatius Agung Prasetyoko diwakili oleh Wadir Resnarkoba AKBP Rizki Ferdiansyah mengungkapkan, tindak pidana narkoba selama 2020 mengalami peningkatan 3% dibanding 2019. Yakni dari 1.709 kasus dengan 2.132 tersangka menjadi 1.765 kasus dengan 2.173 tersangka.
“Adapun barang bukti yang berhasil disita sabu 14.929,86 gram, ganja 9.400 gram, ekstasi 1.860 gram, ganja sintetis 3.461,55 gram, psikotropika 9.221 butir. Termasuk pula obat tradisional 1.006.183 butir, serta 450 gram serbuk jamu. Sedangkan ungkap kasus terbesar di tahun 2020 adalah 9.100 gr sabu dan 5.708 butir ekstasi pada 25 Agustus 2020,” ujarnya didampingi Kabidhumas Polda Jateng Kombes Pol. Iskandar Fitriana Sutisna diwakili Kasubbid Penmas AKBP Maulud, Selasa (2/2/2021).

Selain itu, pada Januari 2021 Ditresnarkoba Polda Jateng dan Satresnarkoba jajaran juga telah mengungkap 185 kasus dengan 243 tersangka. Atau menurun 6% dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yaitu 196 kasus dengan 231 tersangka. Adapun kasus menonjol yang diungkap Ditresnarkoba sebanyak tiga kasus. Sedangkan Satresnarkoba jajaran yakni Polrestabes Semarang, Polres Kendal dan Polres Grobogan sebanyak empat kasus, dengan varang bukti sabu di atas 100 gram. Para pengedar gelap narkoba disebutkan didominasi oleh pria sebanyak 93% (226 orang), berusia produktif 19-29 tahun 48% (117 orang), berpendidikan akhir SLTA 66% (160 orang) dengan pekerjaan swasta 58% (142 orang). ( https://jatengdaily.com/2021/januari-2021-polda-jateng-ungkap-185-kasus-narkoba-dan-243-tersangka/ )

Dari data satu kota diatas saja sebagai orang tua saya merasa miris dan teriris, bagaimana tidak yang terbayang adalah begitu beratnya beban orang tua dijaman sekarang dengan kondisi luar yang tidak kondunsif, seolah-olah kitalah benteng satu-satunya saat ini yang bertahan dari gempuran hal yang merusak generasi. Narkoba hanyalah satu momok yang menyeramkan, belum momok lain yang mungkin jika disebutkan akan membuat para orang tua putus asa bahkan menyerah untuk berjuang. Namun tentu saja hal itu tidak dapat kita lakukan sebagai orang tua, karena kita adalah satuan keluarga, sebuah pilar dasar, pondasi utama untuk menjaga generasi dari ambisi yang menjerumuskan. Ambisi segelintir manusia yang mengambil keuntungan tanpa perduli keuntungan yang mereka peroleh adalah membuntungkan orang lain, Naudzubillah. Jika bukan kita yang berperan siapa lagi? Karena saat ini kita berjuang sendiri.

Masyarakat luaspun sebagai pilar kedua tidak bisa kita harapkan total, karena kehidupan individualis begitu kental disistem kapitalis. Mereka sebagian besar hanya berfokus bagaimana kehidupan mereka sendiri, jangankan berfikir menjaga orang lain, keadaan mereka sendiripun masih pontang panting dengan urusan pribadi masing-masing. Tidak menyalahkan 100% dengan semua itu, karena mereka sendiripun adalah kumpulan-kumpulan manusia yang kurang terriayah juga, akhirnya meriayah diri sendiri memaximalkan sebegitu rupa dengan imbasnya kurang peka terhadap kondisi sekelilingnya.

Bagaimana dengan benteng terbesar? Yaitu sebuah Negara atau Pemerintah sebagai atapnya? Yang merupakan tonggak bangunan melindungi pondasi bawah (keluarga) dan tembok-tembok didalam rumah (masyarakat). Saat ini atap itupun rapuh, tergerus dengan hujan batu sekulerisme dan angin kapitalisme yang memporak porandakan tatanan, sehingga apapun gempuran dan hantaman dari luar langsung menyasar tembok (masyarakat) dan pondasi dasar (keluarga). Atap sudah tidak berdaya melawan, karena atap sendiri bukanlah atap yang mumpuni dan kokoh. Mungkin ada beberapa atap yang masih utuh, namun apalah daya jika itu hanya beberapa karena untuk melindungi bangunan rumah sepenuhnya dibutuhkan kumpulan atap utuh dan kuat, dan atap itu hanya bisa kuat jika disandarkan pada syari’at secara mutlak.
Dengan semua gambaran tersebut untuk itu, sebagai pondasi utama saat ini kita harus mengembalikan fitrah kita sepenuhnya, berperan sesuai porsinya.

Ayah sebagai kepala keluarga merangkap Imam, haruslah pribadi yang tangguh dan patuh, karena hanya kepatuhan atau keta’atan pada Allah lah yang mampu memberi batasan antara haram dan halal. Ayah bukan hanya bertugas mencari nafkah namun ada peran yang lebih utama yaitu memastikan seluruh anggota inti keluarganya berjalan dan bertindak sesuai syari’atNYA, tentu saja dengan pantauan dan bimbingannya. Sedang Ibu, sebagai madrasah utama dan pertama untuk anak-anaknya haruslah sosok yang sabar dan berwawasan atau berilmu terutama Ilmu Agama. Karena hanya dengan agama berserta seperangkat syaria’tNYA secara kaffah, akan mampu menghalau berbagai gempuran dan momok yang akan menghantui anak, ketika berada diluar jangkauan orangtua.

Menanamkan dan mengenalkan akidah serta menumbuhkan keta’atan dan ketakutan akut akan Allah semata adalah modal utama atau senjata yang ampuh untuk berfikir bahkan tidak akan sempat berfikir melakukan hal yang melanggar syari’at.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang orang yang dipimpinnya.
Penguasa adalah pemimpin bagi manusia, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka.
Wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin terhadap harta tuannya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang harta yang diurusnya.
Ingatlah, masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar)

Andai saja semua bagian bangunan tersebut berjibaku saling berdiri dan berfungsi sesuai fitrahnya, Insyaa Allah bangunan akan berdiri dengan kokohnya melindungi setiap yang ada didalamnya. Tentu saja itu tidak mudah jika semuanya masih berkiblat pada aturan manusia, karena setiap aturan yang tercipta dari tangannya hanyalah berdasar hawa nafsunya semata. Untuk itu satu-satunya jalan dan tidak ada jalan lain adalah kembali ke aturan yang benar, bersumber pada kebenaran yaitu Al Quran dan As Sunah, dan perintah dari sang Pencipta Manusia, yaitu Allah SWT.

Wallahu’alam bishowab