Oleh: Maman El Hakiem

Berjalanlah kemanapun sampai ditemukan ujungnya dunia. Langit akan selalu menaungi dan bumi yang terhampar masih kau pijak. Tidak akan pernah hati nyaman, jika Allah SWT ditinggalkan. Perjalanan hidup manusia berasal dari setetes air yang dianggap hina, namun ruh yang suci ada dalam raga, menjadikan kehadirannya di dunia sebagai makhluk mulia.

Jasad yang bergerak dan menikmati indahnya dunia siang dan malam, hanyalah waktu yang telah ditetapkan kapan berakhirnya. Nilai kemuliaan seseorang bukan pada rupa jasadnya, tetapi pada amal dalam kehidupannya. Karena itu nilai dari perbuatan seseorang harus ada “ruhiyah”, yaitu ikatan amal, berupa kehadiran Allah SWT dalam setiap perbuatan, harus sesuai dengan perintah atau larangan-Nya.

Dalam perkara ibadah atau ubudiyah sifatnya tauqifiyah, artinya terlarang jika tidak ada dalil dari seruan atau perintah Allah SWT. Sedangkan dalam perkara interaksi sosial atau muamalah berlaku akad yang tidak kaku, melainkan hasil ijtihad dari para alim ulama. Mereka yang senantiasa menukil dalil agar beramal berdasarkan ilmu, tidak melanggar hukum syara dan amal yang sia-sia.

Tidak selayaknya kita berpisah hanya karena perbedaan harokah, mazhab, maupun hizbiyah lainnya, selama satu akidah dan mengambil hukum syara sebagai rujukan dalam perbuatannya. Kita adalah umat yang bersatu, mereka yang terpecah belah harusnya hanya karena satu alasan, yaitu berbeda akidah, selain Islam. Selama pemikiran dan perasaannya Islami, maka mereka bersaudara yang harus saling membela.

Tidak boleh kita keluar dari jamaah kaum muslimin, karena itu akan menjadi mangsa buat mereka yang selalu mengintai ingin mencabik-cabik persatuan umat. Dari sini harusnya umat menyadari, bid’ah yang sesungguhnya ketika umat cerai berai hanya karena golongan atau nasionalisme yang ditanamkan oleh kaum kafir. Sesama saudara muslim tidak boleh saling membenci, memata-matai dan merampas harta atau jiwanya.

Seperti hikmah dalam shalat berjamaah, harusnya memiliki satu kepemimpinan umum untuk seluruh kaum muslimin. Agar bisa saling menjaga dan membela. Hadits al-Muttafaq ‘alayh dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata: “Rasululalh saw bersabda:
«لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ»، رواية مسلم
“Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Allah dan bahwa aku adalah rasulullah kecuali dengan satu dari tiga perkara: orang yang sudah menikah berzina, jiwa karena membunuh jiwa dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jama’ah” (HR Muslim).

Wallahu’alam bish Shawwab.