Oleh : Kak Ence

Lagi dan lagi tidak ada habisnya dipermasalah mengenai kerudung ini. Baru-baru ini tiga Menteri RI mengeluarkan SKB (Surat Keputusan Bersama) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, mengenai atribut sekolah dan pakaian seragam sekolah yang digunakan oleh peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah negeri, kompas.com (04/2/21).

Ada 6 SKB yang dikeluarkan dalam surat keputusan tersebut, salah satunya ialah “Pemda dan sekolah tidak boleh mewajibkan ataupun melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama.” Begitulah isi SKB (Surat Kepetusan Bersama) yang diberlakukan di sekolah negeri yang telah resmikan oleh tiga menteri antara lain, Nadiem Makarim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Tito Karnavian Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Yaqut Cholil Qoumas Menteri Agama (Menag) kompas.com (04/2/21).

Adapun tujuan di tetapkannya SKB salah satunya yaitu “Pakaian dan seragam dan atribut bagi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di lingkungan sekolah yang diselenggarakan pemerintah daerah merupakan salah satu bentuk perwujudan moderasi beragama dan toleransi atas keragaman agama.”

Artinya, para siswa muslimah bebas dalam menggunakan seragam dan atribut sekolah yang tidak menampakkan identitas dirinya. Padahal dengan diterbitkannya peraturan yang demikian akan semakin melemahkan pengetahuan pemuda Islam akan identitasnya.

Mereka akan semakin jauh dari kerudung, yang mana adalah identitas pengenal bahwa dirinya seorang muslim. Dan jika itu pun atas nama toleransi seharusnya merekalah yang bertoleransi kepada umat islam, sebab mereka berada pada negara yang dihuni oleh mayoritas penduduk Islam.

Lagi-lagi ini bukan toleransi yang mereka gembar-gemborkan. Inilah bentuk pengdiskreditan ajaran Islam, bentuk ketidaksukaannya dengan ajaran Islam salah satunya kerudung. Pasalnya, kenapa harus kerudung yang jadi sorotan, padahal kerudung bukanlah permasalahan yang besar.

Masih banyak permasalahan yang lebih besar yang harus ditangani dengan serius, misalnya masalah pelajar yang tawuran, pelajar yang terjerat narkoba dan murid yang semena-mena terhadap gurunya. Bahkan, masih banyak permasalahan pelik terkait kondisi pendidikan yang harus segera ditangani. Lalu, kenapa lagi-lagi kerudung?

Ironi berada dalam negara yang menganut sistem sekuler, yang benar-benar menginginkan urusan agama dipisahkan dari kehidupan. Kemaksiatan di dukung secara sistematik, demikian dibuktikan dengan turunnya tiga menteri dengan menetapkan keputusan yang menjauhkan umat Islam dari ajarannya.

Hal itu semakin memberikan kaum muslim celah untuk tidak taat. Oleh karena itu sangat dibutuhkan sebuah perlindungan dari negara agar kaum muslim yang ingin selalu taat, terhadap perintah Sang Pencipta dapat tercapai tanpa ada gangguan dari pihak manapun.

Negara yang memberikan penjagaan, perlindungan dan memastikan rakyatnya terikat dengan aturan Sang Pencipta secara totalitas akan melarang segala bentuk kampanye yang menyuarakan hal-hal bertentangan dengan akidah islam.

Baik yang disebarkan melalui media massa ataupun kurikulum yang di terapkan disekolah. Negara juga memastikan landasan dari setiap organisasi yang bergerak ditengah-tengah masyarkat agar tidak bertentangan dengan akidah islam. Negara wajib mengawasi orang yang menyebarkan pemikiran-pemikiran asing atau yang bertentangan dengan islam. Anehnya, hari ini malah sebalikannya, mengawasi orang-orang yang kokoh pada pemikiran islam.

Tak hanya itu, negara juga wajib mengajarkan, bahwa umat islam harus hidup dalam suasana keimanan dan ketakwaan. Sebab, dengan ini mereka akan mampu membedakan baik dan buruk perbuatan sesuai dengan aturan Islam.

Terakhir, negara juga akan memberikan sanksi bagi orang yang mencela ajaran Islam. Namun disayangkan, hari ini yang mencela, bahkan yang menyebar keburukan tentang Islam justru dilindungi bukan diberi sanksi. Sebab, kita bukan berada pada Negara yang menerapkan syariat Islam secara totalitas.