Oleh : Andri Septiningrum, S.Si
( Ibu Pendidik Generasi )

Ada sosok yang begitu dimuliakan dalam Islam. Sosok yang kehadirannya bagaikan pelita yang menerangi kehidupan. Sosok yang kehadirannya menjadi salah satu tonggak berdirinya sebuah peradaban. Dia adalah guru. Dalam buku “Begini Seharusnya Menjadi Guru” karya Fu’ad bin Abdul Aziz asy Syalhub dijelaskan bahwa seorang guru merupakan ujung tombak sebuah gerakan perubahan. Dipundak seorang guru terpikul tanggung jawab yang besar yaitu membentuk generasi dan mengarahkan ke jalan Allah. MasyaaAllah. Seorang guru dalam Islam sadar betul bahwa apa yang diajarkan kepada anak muridnya kelak akan diminta pertanggungjawabnya oleh Allah.

Rasa harap dan cemas dalam diri guru hadir dalam hadits yang disampaikan oleh abu Umamah. Hadits tentang keutamaan mengajarkan sebuah kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi, sampai pun semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” [Hadis Abu Umamah Al Bahili Riwayat Tirmidzi dishahihkan oleh Al Albani].

Ungkapan Mu’adz bin Jabal juga menjadi penyemangat bagi seorang guru yang kehidupannya begitu dekat dengan ilmu.

“Pelajarilah ilmu, mempelajari ilmu karena Allah itu mencerminkan ketaatan, mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, mengajarkannya adalah sedekah, membelanjakannya untuk keluarga adalah taqarrub. Ilmu adalah pendamping saat sendirian dan teman karib saat menyepi.” 

Sebagaimana Ustadz Budi Ashari,  beliau juga menyampaikan bahwa keikhlasan hati sang guru akan berpengaruh pada kebesaran murid-muridnya. Keteladanan sang guru adalah kekuatan untuk mengarahkan murid-muridnya menjadi pribadi yang luar biasa.

Islam menjelaskan dua point besar yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu kedekatan dirinya dengan sang pemilik kunci hati dirinya dan muridnya serta keteladaannya sebagai guru. Ilmu itu sering kali tidak terajarkan lewat kata tapi lewat sikap. Bagaimana mungkin itu bisa hadir pada guru-guru yang punya keyakinan berbeda dengan muridnya.

Keyakinan akan melahirkan sikap dalam diri. Sudah bisa dipastikan keyakinan berbeda pasti akan melahirkan sikap yang berbeda pula. Maka, kebolehan seorang guru non muslim mengajar di sekolah muslim menjadi pilihan yang kurang tepat. Seperti halnya yang terjadi pada Eti, guru CPNS alumni Universitas Negeri Makassar yang beragama kristen yang ditempatkan mengajar di MAN Tana Toraja (suarasulsel.id, 30/01/2021).

Sebuah kewajaran dalam sistem yang memang memisahkan Islam dengan kehidupan (sekuler). Sistem yang beranggapan bahwa aturan agama hanya untuk mengatur urusan ibadah yang sifatnya sempit (seperti sholat, zakat, puasa dan haji). Dalam sistem ini memang beranggapan seorang guru hanya mentransfer ilmu saja tanpa harus menghadirkan ruh (hubungan dengan Allah) dalam diri muridnya. Sistem yang kebahagiaannya berupa materi. Kekayaan yang diagungkan dalam sistem ini adalah kekayaan materi. Sistem yang kemudian berupaya mencetak generasi yang akan menghasilkan materi sebanyak-banyaknya. Tidak menjadi masalah apabila seorang guru non muslim mengajar di sekolah muslim untuk pelajaran diluar pelajaran Islam.

Sedangkan dalam Islam, seorang guru menjadi tolak ukur perbaikan generasi. Tercatat dalam sejarah bagaimana berkat didikan dari kedua gurunya Syekh Ahmad bin Ismail Al-Qurani dan Syekh Aaq Syamsuddin. Sultan Muhammad kecil tumbuh menjadi pemuda bergelar Al Fatih (sang penakluk) Konstantinopel. Kita juga mengenal Nuruddin Zanki, sosok guru yang karena didikan beliau hadir Shalahuddin al Ayubi, sang pembebas Yerusalem. Dalam Islam kedekatan seorang guru dengan RabbNya akan sangat mempengaruhi anak didiknya. Walhasil bahwa guru dalam kacamata Islam tidak mungkin terwujud dengan adanya guru non muslim.

Teringat ungkapan ibunda Sufyan Ats-Tsauri, “Wahai Sufyan anakku, belajarlah. Aku yang akan menanggungmu dengan usaha memintalku”. ⁣

“Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! Apakah kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Allah), kelemah-lembutanmu, dan ketenanganmu? Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu. Ia tidak bermanfaat bagimu.”⁣

Semoga Allah membimbing kita menjadi guru baik untuk anak-anak kita, sahabat-sahabat kita, tetangga-tetangga kita ataupun masyarakat di sekeliling kita. Aamiin. Waallahua’lam bi showwab.