Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd

“Hak untuk memakai atribut keagamaan adanya di individu. Individu itu adalah guru, murid, dan tentunya orang tua, bukan keputusan sekolah negeri tersebut,” ujar Mendikbud Nadiem. (Kompas.com, 5/2/2021)

Menanggapi fenomena seorang siswi non muslim yang merasa dipaksa mengenakan hijab di salah satu sekolah negeri Padang, Mendikbud menggandeng Menteri dalam Negeri dan Agama membuat Surat Keputusan Bersama. Isi SKB 3 menteri ini mengatur tentang seragam beratribut agama dan sanksi jika terjadi pemaksaan.

Tujuan Pendidikan

Banyak yang menyayangkan keputusan ketiga menteri ini. Jika dilihat kembali tujuan berpendidikan, salah satunya adalah menjadikan insan yang bertakwa. Lantas bagaimana caranya anak didik bisa jadi insan yang bertakwa jika dalam berpakaian sekolah saja tidak dididik, tapi dibebaskan memilih.

Bagi orang dewasa yang sudah paham syariat Allah, mood tidak mood, suka tidak suka, apapun kondisi kita, jika sudah berhadapan dengan syariat Allah, maka sami’na wa atho’na yang muncul. Walau sedang tidak mood sholat, tidak suka dengan puasa Ramadhan, tapi karena sudah paham itu adalah kewajiban dari ilahi. Maka, kita memaksakan diri menjalankannya.

Bagaimana bisa kita memaksakan diri menjalankannya? Karena sudah paham konsekuensi meninggalkan kewajiban itu. Dosa dan siksa menanti di akhirat sana. Justru karena masih merasa tidak mood, atau bahkan tidak suka, kita tergerak untuk mencari tahu keutamaan ibadah tersebut. Sehingga tak menjadi beban dan bisa menikmati semua bentuk syariat ilahi. Bersenang-senang dalam ibadah.

Bersenang-senang dalam Ibadah

Mindset bersenang-senang dalam ibadah ini tak muncul dengan sendirinya. Sebagaimana kita mengajarkan anak-anak untuk sholat, ada tahapannya. Begitupun kita mengajarkan anak-anak untuk menutup aurat, ada tahapannya.

Sejak kecil anak-anak harus diberikan teladan oleh kedua orangtua tentang cara berpakaian yang sesuai syariat. Inilah tahap perkenalan hingga anak-anak familiar dengan pakaian yang sesuai syariat.

Belikan beberapa pasang pakaian untuknya yang sesuai syariat. Tak perlu dipaksa, karena memang anak-anak kecil belum terbebani hukum syara’. Inilah masanya menanam. Biarkan ia memilih pakaiannya. Tentu dengan pendampingan dan sounding jika pakaian wanita muslimah itu seharusnya seperti apa. Apa fungsi pakaian muslimah. Betapa Allah suka dan sayang jika kita mau menuruti aturan Nya. Pahala dan surga menanti kita. Sounding terus hingga saat baligh ia paham bahwa ia diwajibkan untuk menutup aurat.

Tanggungjawab Siapa?

Betul, orangtua adalah pendidik pertama anak-anak, khususnya ibu. Oleh karena itu, ibu juga disebut madrasatul ula. Tapi, dalam perjalanan menuju ketaatan, agar bisa bersenang-senang dalam ibadah, sangat perlu support system.

Keluarga yang memberikan teladan dan penguatan tentang beribadah, termasuk cara berpakaian. Masyarakat yang taat dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Dan tentu, peran negara sebagai pembuat kebijakan dengan memberikan teladan, menerapkan aturan dan kurikulum yang bisa mengkondisikan keimanan.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah ada support system itu? Adanya SKB 3 menteri justru membuat kerja keras orangtua dalam mendidik anaknya semakin sulit. Karena pemerintah tidak ikut berperan dalam mengkondisikan anak-anak dalam ketaatan pada Allah. Bukannya dikondisikan dalam ketaatan malah disuruh memilih atas nama kebebasan.

Sekulerisme Alergi Syari’at

Inilah potret sekulerisme yang alergi akan syariat. Atas nama kebebasan, perintah Allah dijadikan pilihan. Padahal Allah sudah berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata” (QS. Al Ahzab:36)

Kali ini pakaian, kemarin sistem ekonomi, sebelumnya lagi sistem pemerintahan. Semua yang berhubungan dengan agama seolah sebuah bentuk kejahatan yang tak terampuni. Harus segera dimusnahkan dalam sistem sekulerisme ini. Wajar akhirnya banyak muslim yang justru alergi pada syariatnya sendiri. Dan tujuan pendidikan pun tak akan tercapai dalam sistem ini. Tersesat dalam pikiran sendiri. Tak sinkron antara tujuan dan aksi. Justru semakin menjauhkan dari insan takwa.

Lantas masihkah kita berharap pada sistem ini? Sudah saatnya kita kembali pada sistem Ilahi. Sistem yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw untuk kita hingga akhir masa, Islam. Wallahu’alam bish shawab.