Oleh: Desi Wulan Sari, M.,Si.
(Muslimah Pegiat Literasi)

Sebagai umat Islam yang besar di dunia , akan banyak potensi yang menjadi aset bagi negara. Sebaagaiama Islam Allah hadirkan di muka bumi ini, akan selalu membawa manfaat bagi umat manusia dan seluruh alam.

Begitupun, umat muslim di negeri ini, sebagai mayoritas umat muslim Indonesia banyak hal yang harus disyukuri. Potensi besar yang ada ini, merupakan aset bangsa yang menjadi salah satu nikmat Islam dalam memberikan solusi bagi setiap problematika umat manusia. Seorang muslim yang baik, akan selalu taat dan menjalankan perintah Allah. Dengan meneladani Rasulullah saw, telah banyak menorehkan kesuksesan dalam mengurus sebuah negara menuju kemakmuran. Karena semua muslim yang menjalankan syariat-Nya akan selalu taat dan tunduk pada aturan Allah. Dibawah kepemimpinan penguasa yang amanah, bentuk-bentuk ketaatan seperti membayar zakat, sedekah, wakaf, berjual beli, pengelolaan sumber daya alam, dan sebagainya. Akan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin bagi kepentingan umat. Semua ketaatan itu merupakan cerminan kepribadian seorang muslim yang selalu terikat pada syariat dan akidah yang kuat dalam dirinya. Yang tidak mungkin dipisahkan satu dengan lainnya. Sehingga, umat muslim yang menjadi mayoritas negeri ini harus dijaga dan dirangkul keberadaannya, sebagai tanda perhatian mayoritas pemimpin negeri pada mayoritas pemeluk agama terbesar ini.

Penduduk negeri yang walaupun beraneka ragam budaya dan agamanya adalah pemilik bumi nusantara dengan kekayaan sumber daya alamnya, dengan tujuan dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyat. Terutama Islam, yang mengajarkan umatnya untuk selalu terikat pada syariat Allah. Salah satu ajaran islam yang terpenting adalah zakat, puasa, ibadah haji, dsb. Termasuk wakaf juga merupakan salah satu ajaran islam, dimana wakaf merupakan bentuk sedekah harta yang brsifat permanen, dimana seseorang yang mewakafkan hartanya untuk membekukan atau membatasi pemanfaatannya untuk hal-hal yang yang diperbolehkan dalam syariat Islam.

Namun, berita terbaru terkait wakaf mernjadi mrenarik, karena wacana yang disampiakan oleh pejabat negara bahwa potensi wakaf di Indonesia bisa mencapai 217 trilyun atau setara dengan 3,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. (Republika.co.id, 24/10/2020). Bagi tokoh dan ulama agama Islam, dibutuhkan kajian lebih dalam lagi, jangan sampai makna wakaf dalam Islam hanya digunakan sebagai instrumen politik karena besarnya potensi penduduk muslim. Ada kekhawatiran perubahan makna dan tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan yang telah disyariatkan.

Bagi umat muslim wakaf tidak hanya sebagai tindakan beramal, menyerahkan hartanya saja untuk agama Islam, tetapi pahala yang dijanjikan Allah swt bagi pemberi wakaf juga mrenjadi tujuan yang ingin dicapainya. Jika wakaf akan diatur negara menurut kebutuhan pemerintahan saja, akan terindikasi hilangnya amalan seorang muslim saat menjalankan syariat agamanya tersebut.

Seperti yang dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah, seorang dermawan muslim sahabat Rasulullah, yaitu Utsman Bin Affan,yang tanpa ragu membeli sumur penting kebutuhan orang banyak, dari seorang Yahudi yang penuh perhitungan, yaitu dengan pahala yang dijanjikan Rasululah saw, beliau bersabda:

Rasulullah lantas menyeru kepada para sahabatnya untuk menyelesaikan persoalan air dan sumur tersebut. Beliau menjanjikan siapapun yang membeli sumur miliki Yahudi itu dan mewakafkannya untuk umat Islam, maka kelak ia akan mendapatkan minuman di surga, sebanyak air dalam sumur tersebut. ((HR. Muslim).

Maka, perlunya kebijaksanaan yang ditinjau ulang, agar tercapai target pemimpin dan rakyat dalam memanfaatkan setiap potensi umat yang ada. Jangan sampai, potensi dana umat yang besar ingin dimanfaatkan, tetapi Islam itu sendiri tidak mendapat tempat di hati penguasa negeri.

Faktanya hingga hari ini, sistem kapitalisme tidak mampu membawa solusi atas problematika umat. Berbagai solusi yang ditawarkan akan selalu mendatangkan masalah baru didalamnya. Maka, jika sistem Islam mampu membawa keberkahan dan kesejahteraan, maka janganlah meragukan lagi, bahwa hanya Islam lah satu-satunya solusi segala problematika umat di seluruh belahan dunia manapun. Wallahu a’lam bishawab.