Oleh : Amirah Syafiqah
(Aktivis Mahasiswi Malang Raya)

Akhir-akhir ini perbincangan dinar dirham seperti tiada hentinya, semuanya berawal dari adanya pasar muamalah di Depok yang melakukan jual-beli dengan menggunakan dinar dan dirham. Pendiri dari pasar muamalah Zaim Saidi akhirnya ditangkap sebagai tersangka karena menjadikan dinar dan dirham sebagai alat pembayaran.

Zaim Saidi menjadi tersangka atas 2 pelanggaran pasal, yakni Pasal 9 UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dan Pasal 33 UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

Dalam cara kerja pasar muamalah yakni ingin untuk mengikuti tradisi ketika zaman Nabi, dan juga transaksi yang dilakukan ialah tanpa dipungut biaya, tanpa biaya sewa, dan jual-beli dilakukan dengan alat tukar seperti uang rupiah, koin emas, koin perak, koin tembaga, dan komoditas lainnya seperti jagung, beras, dll.

Namun, dilain sisi ketua PP Muhammadiyah bidang Ekonomi Anwar Abbas, juga mempertanyakan terkait dengan proses hukum yang dilakukan dalam menjalankan pasar muamalah ini, menurutnya jika dibandingkan dengan penggunaan mata uang asing bahkan dolar yang ada di Bali, maka dapat dilihat bahwa penggunaan mata uang asing ini masih sangat masif di Indonesia, yang pada hakikatnya, jika menggunakan mata uang asing maka akan terjadi dampak negatif yakni akan melemahkan kebutuhan masyarakat terhadap rupiah.

Selain itu, beliau juga menyebutkan bahwa penggunaan dinar dan dirham bukanlah menjadi menjadi sebuah pelanggaran, sebab dinar dan dirham bukanlah sebuah mata uang yang digunakan oleh negera lainnya, yang berarti ia bukan mata uang negara asing. Bahkan beliau menambahkan bahwa penggunaan mata uang dinar dan dirham dalam pasar muamalah ini ialah sama dengan sistem barter yaitu pertukaran antara komoditi (emas atau perak) dengan komoditi lainnya seperti televisi, sepeda, kuliner dan lain-lain.

transaksi tersebut juga mirip dengan penggunaan voucher dan koin yang lazim terjadi di Indonesia, di mana pihak yang berkepentingan membeli atau menukarkan terlebih dahulu rupiahnya sebelum bertransaksi.

“Dinar dan dirham yang mereka pergunakan itu mirip dengan penggunaan koin di tempat permainan anak-anak di mana kalau sang anak ingin mempergunakan mainan A, misalnya, maka dia harus mempergunakan koin dalam bentuk dirham tertentu dan seterusnya,” ucapnya (CNNIndonesia.com) 

Sebab itu lah, dengan dijeratnya Zaim Saidi dalam mendirikan sebuah pasar yang diketahui bahwa transaksinya ialah menggunakan Dinar Dirham, yang tak lain dianalisis sama dengan sistem barter, seharusnya dapat membuat mata masyarakat semakin terbuka, bahwa telah terjadi sebuah kriminalisasi terhadap dinar dan dirham yang diketahui bersama bahwa mata uang ini hanya digunakan ketika adanya sebuah negara menggunakan sistem islam yang sistem ekonominya juga dari sistem ekonomi Islam.

Melihat kondisi ini membuktikkan bahwa adanya virus islamofobia didalam tubuh pemerintah yang sedang disiapkan untuk menyerang pemikiran masyarakat. Namun, tidak dipungkiri pula bahwa ada semangat didalam diri masyarakat untuk hidup dalam aturan-aturan Islam, meskipun masih dilingkup individu dan ekonomi.

Perlu dikatahui, bahwa islamofobia ini adalah salah satu produk dari kapitalisme-sekularisme yang memang pada asasnya berbeda sekali dengan Islam, sehingga dari asas yang beda pun menjadikan aturan yang ada didalam sistem kapitalis dan Islam juga sangat berbeda. Dalam ekonomi saja aturan kapitalis sekular membiarka pemilik modal menjadi pemegang satu-satunya sumber daya alam. Berbeda dengan Islam, didalam aturan Islam sumber daya alam akan dikelola sepenuhnya oleh negara dan akan dikembalikan kepada rakyat.

Inilah salah satu faktor yang ditakuti oleh orang-orang kapitalis, sehingga mereka akan menggunakan segala cara untuk menghalangi kebangkitan Islam dan tegaknya hukum Islam dimuka bumi ini. Mereka akan menjadikan kaum muslimin untuk takut dengan agamanya dan menjauhi agamanya, alih-aih kaum muslimin tidak sadar dan para kapital lah yang akan menggerogoti mereka dan mengeksploitasi kekayaan negeri kaum muslimin.

Oleh sebab itu kaum muslimin harus cerdas dalam menyikapi setiap fenomena yang terjadi ditengah-tengah umat saat ini, dan harus peduli dengan kondisi umat agar dapat mewujudkan penerapan Islam secara Kaffah.

Wallahu ‘alam bissowwab