Oleh: Hasriyana, S.Pd
(Pemerhati Sosial Asal Konawe)

Isu radikalisme kembali mencuat di ranah publik, lebih khusus di provinsi Sulawesi Tenggara kota Kendari. Kapolda Sultra Irjen Pol Yan Sultra Indrajaya bersama pihak yang terkait pun telah menandatangani Momerandum Of Undertanding, bersama dengan pengurus wilayah Nahdatul Ulama Sultra di Kendari, upaya tersebut untuk mencegah paham radikalisme di wilayah Kendari khususnya dan Sulawesi Tenggara pada umumnya.

Seperti yang dilansir di media antranews.com Kapolda Sultra Irjen Pol Yan Sultra Indrajaya mengatakan bahwa ada beberapa poin penting dalam kerja sama tersebut dilakukan yaitu upaya mencegah menangkal paham radikalisme, paham terorisme dan intoleransi. Ketiga poin itulah yang menjadi hal urgent pada penandatanganan MOU tersebut.

“Kedatangan kami yaitu mengadakan MoU yaitu kerjasama nota kesepahaman dalam penanganan masalah masalah radikalisme, terorisme dan intoleransi. Karena kita tahu Nahdlatul Ulama ini sudah berperan aktif dan merupakan salah satu pendiri negara kesatuan Republik Indonesia,” kata Yan Sultra.

Lebih lanjut dia menyampaikan, bahwa pihaknya telah melakukan upaya menangkal paham-paham tersebut selama ini, namun menurut dia, hal tersebut lebih baik jika dilakukan bersama pihak-pihak terkait lainnya. “Kita sudah jalan menangkal paham paham ini, namun untuk lebih baiknya kita bersinergi dengan bentuk nota kesepahaman,” ujar Kapolda.

Sejalan dengan itu Ketua Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Sultra, KH Muslim juga mengatakan sangat mendukung upaya tersebut dalam rangka melindungi negara Indonesia khususnya di Sulawesi Tenggara dari paham paham yang dapat memecah bela bangsa. Melihat upaya kepolisian dalam mencegah paham-paham yang memecah belah persatuan bangsa, sebenarnya patut di acungi jempol. Tetapi pada sisi yang lain pemerintah tidak secara jelas menjelaskan bahwa paham radikalisme, paham terorisme dan intoleransi yang seperti apa yang harus di cegah dari pemikiran masyarakat.

Sehingga dengan begitu ketidak jelasan paham-paham yang perlu pencegahan ini dapat membingungkan masyarakat. Lebih dari itu akibat belum jelasnya paham yang seperti apa yang dimaksud akan membuat siapa saja bisa jadi sasaran di kriminalisasi, sekalipun masih terduga terapiliasi pada paham radikal, Miris.

Selama ini korban paham-paham yang dianggap memecah belah negara juga selalu yang di bidik Ustad, Habib dll yang lantang mengoreksi penguasa dan bersimbol Islam, cingkrang, goog looking, sorban, cadar dan lain-lain. Sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa yang dibidik sebenarnya adalah Islam itu sendiri, dengan begitu masyarakat akan pobia dengan agamanya bahkan Islam akan terlihat sebagai ‘monster’ yang menakutkan.

Padahal masih banyak kasus yang amat penting diselesaikan oleh pihak penegak hukum di dalam negeri ini seperti Narkoba, Kriminalisme, Koruptor dll. Bukan justru ikut campur dalam penanganan radikalisme sehingga lalai mengontrol masyarakat. Lihat saja bagaimana kasus narkoba yang kian merajalela, korupsi juga tidak mau ketinggalan, kriminalitas angkanya semakin tinggi. Inilah seharusnya yang menjadi fokus penegak hukum.

Sebagai organisasi masyarakat dan perpanjangan tanganan pemerintah dalam memberi rasa aman dan tentram pada masyarakat umum, harusnya memberikan solusi dan edukasi kepada masyarakat agar bisa keluar dari persoalan hidup yang kompleks, yang sampai hari ini belum terselesaikan.

Tidak perlu menebar ketakutan pada rakyat dengan mengangkat isu radikalisme, sebab Islam adalah agman yang rahmatan lil alamin, tidak pernah mengajarkan membunuh nyawa manusia tanpa hak, bahkan Allah pun mengatakan menghancurkan bumi beserta isinya lebih mudah daripada menghilangkan satu nyawa manusia.

Dalam Islam setiap muslim akan di didik dengan tsaqofah Islam, bahkan hal yang utama dari proses pendidikan di dalam Islam adalah mengesahkan Allah SWT, bahwa yang menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan itu adalah Allah SWT, sehingga dengan begitu keyakinan yang menancap kuat pada diri seseorang akan melahirkan manusia-manusia yang taat pada pencipta dan berpegang teguh pada aturan Allah SWT. Bahkan tidak akan takut terhadap simbol-simbol Islam itu sendiri.

Allah SWT telah menegaskan dalam firman-nya yang artinya:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.. (Ali-Imran ayat 103).

Dengan keyakinan yang kuat pula seseorang akan melaksanakan syari’at dengan hati yang ikhlas semata-mata untuk mendapatkan keridhoan dari sang maha pencipta. Bahkan keyakinan itu pula yang akan mendorong negara, kelompok jama’ah dan individu untuk mendakwahkan Islam kaffah di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu tidak perlu lagi menggoreng isu radikalisme untuk memojokkan Islam sebab Islam adalah solusi yang diberika Allah untuk mengatasi semua persoalan hidup manusia, Walahualam.