Oleh : Ustafzah Ruhana Zulaikhah
(Mubalighoh kab. Magetan)

Mengetahui fungsi sebuah keluarga adalah perkara yang penting bagi kita semua. Keluarga adalah benteng terakhir bagi kehidupan umat ini. Keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak anak punya fungsi dan perannya masing-masing.

Perlu dipahami bahwa anak adalah amanah sang pencipta untuk orang tuanya, untuk mengawal tumbuh kembang potensi anak agar bisa menjadi manusia yang berguna. Kewajiban anak adalah berbakti kepada orang tua dan tidak boleh durhaka pada orang tua. Ketika tidak demikian, keluarga bisa kehilangan fungsinya.

Kasus Anak Gugat Orang Tua Meningkat

Saat ini, banyak peristiwa yang membuat kita prihatin dengan perlakuan anak terhadap kedua orangtuanya. Kedurhakaan anak pada orang tua, nampak jelas dengan tindakan kriminal dan gugatan hukum pada ayah atau ibunya sampai ke pengadilan.

Pada awal tahun 2021 di bulan Januari, di Demak Jawa Tengah, ada anak polisikan ibu kandungnya. Di Banyuasin Sumatra Selatan ada ibu (nenek berusai 78 tahun) digugat 3 anaknya gegara tanah warisan. Di Bandung, ayah (kakek 85 tahun) digugat anaknya Rp 3 miliar. (www.kompas.tv).

Dosen Fakultas Hukum Unpad Sonny Dewi Judiasih mengatakan, secara norma anak tidak diperbolehkan mengajukan gugatan ke orang tua. Tindakan ini tidak sejalan dengan norma yang ditetapkan dalam Undang-undang Perkawinan.

UU Perkawinan mewajibkan seorang anak untuk menghormati orang tua serta wajib memelihara jika anak sudah dewasa, berdasarkan Pasal 46 Ayat 1 dan 2. Ia juga menyebut hampir sebagian besar kasus anak gugat orang tua didasarkan atas motif ekonomi, yang salah satunya terkait pembagian harta waris. (kumparan.com)

Keberadaan norma ataupun undang undang yang berlaku saat ini ternyata tidak membuat turun apalagi menghilangkan kasus anak gugat orang tua. Persoalan ini terjadi bukan muncul tanpa sebab, bahkan hal ini bisa menjadi fenomena gunung es, efek dari sistem kehidupan yang diyakini dan dijalankan oleh masyarakat dan penguasannya.

Kapitalisme Sekulerisme Memberi Peluang Anak Durhaka

Anak yang seharusnya untuk berbakti kepada orang tua, bisa durhaka ketika berhadapan dengan harta. Mereka tidak sadar akan fungsinya sebagai anak wajib berbakti, mematuhi orang tua selama orang tua tidak salah.

Standar nilai benar dan salah bagi mereka sudah beralih pada kepentingan masing-masing. Tidak ada pada mereka nilai lain kecuali nilai materi sebagai satu-satunya nilai yang diperjuangkan. Apapun tindakan yang dilakukan ukurannya adalah manfaat atau materi. Hal ini menunjukkan mereka telah dikuasai ide-ide kapitalisme sekulerisme.

Krisis pemahaman mereka terhadap Islam, menunjukkan juga bahwa sistem kehidupan yang ada tidak lagi berpedoman pada agama pada semua aspek kehidupan. Tidak ada penanaman nilai baik buruk yang berdasar agama. Agama meski diyakini mayoritas, tapi telah ditinggalkan. Paham sekuler yang memisahkan urusan agama dengan urusan kehidupan telah merusak akhlak. Akhirnya akhlak berdasar kemanfaatan/materi.

Pendidikan akhlak tanggung jawab semua pihak. Baik keluarga, masyarakat, dan negara dengan sistem pendidikannya. Tujuan pendidikan anak salah satunya agar anak berbudi pekerti atau berakhlak. Sumber akhlak selama ini adalah agama. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan maka inilah yang terjadi, demoralisasi. Wajar bila anak yang bersekolah pun tidak memahami bagaimana berakhlak dalam kehidupan mereka

Selain itu, ekonomi kapitalisme liberal yang dilaksanakan di negeri ini sangat kuat pengaruhnya dalam menanamkan paham materialis. Kehidupan hanya distandarkan pada materi. Tuntutan kebutuhan membuat orang tua baik ayah ataupun ibu sibuk mencari uang. Akhirnya penanaman akhlak kepribadian di rumah terabaikan.

Dalam era kapitalis sekuler ini, nilai nilai luhur akhlak tidak ditanamkan sedari kecil, pemahaman adab pun tidak dimengerti anak-anak. Padahal membentuk anak yang berakhlak itu tidak instan, tidak bisa hanya sekedar disekolahkan, apalagi saat ini kondisi pendidikannya sekuler kapitalis.

Ide sekuleri liberalisme juga telah mengakar. Karena HAM, kebebasan, dan individualisme membuat mereka mementingkan diri sendiri. Tidak mempedulikan adab dan orang sekitar, meski orang tuanya sendiri. Inilah yang menjadi sebab kenapa banyak anak yang tega menggugat orang tua demi harta atau harga diri.

Masyarakat saat ini telah kehilangan nilai-nilai luhurnya. Pandangan terhadap segala hal lebih diukur pada materi. Paham individualis telah menghilangkan kepedulian bersama-sama menjaga nilai-nilai luhur akhlak, yang ada adalah pembiaran terhadap hal yang sebenarnya salah, akhlak yang salah dan hal lainnya.

Paham sekulerisme telah mengikis nilai-nilai kemanusiaan, moralitas dan spiritual. Meski ada yang masih peduli sifatnya hanya beberapa orang saja, yang lainnya lebih bisa dikatakan tidak peduli.. Inilah masyakat kita hari ini jauh dari Islam dan nilai-nilai luhur sebuah masyarakat, akibat kapitalisme sekulerisme yang diterapkan.

Islam Pembentuk Pribadi Anak yang Berbakti

Keberadaan idiologi kapitalis sekuler yang diterapkan di kehidupan ini, berimbas pada perubahan pemahaman, kepekaan sosial dan nilai-nilai dalam kehidupan kita. Sangat nyata orientasi kehidupan bergeser seputar materi dan hal-hal dunia. Sangat berbeda dengan Islam yang semula masih mewarnai kehidupan masyarakat.

Keluarga terutama orang tua harus menyiapkan anak-anak mereka untuk punya kepribadian yang sholih dan berbakti pada orang tua. Saat ini pun meski masalah di kehidupan keluarga itu berat, pendidikan adab dan akhlak harus dilaksanakan dan diselesaikan. Karena ini adalah kewajiban bagi orang tua. Mereka harus kembali memahami Islam dengan benar.

Masyarakat pun juga harusnya menyadari bahwa mereka itu bak para penumpang dalam sebuah kapal, yang berlayar bersama menuju tujuan yang sama, meski ada yang duduk di atas, ada yang duduk di bawah. Ibarat masyarakat Islam yang bertujuan menggapai ridho Allah, ada yang jadi pengusasa, ada yang rakyat biasa, semuanya harus saling menjaga agar sampai pada tujuannya. Ini adalah tugas kita bersama amar ma’ruf nahi munkar, agar semuanya melaksanakan perintah dan nilai Islam .

Penguasa fungsinya melayani rakyat, sesuai dengan aturan Allah, agar menjadi sebaik baik pemimpin. Dalam pelaksanaan sistem pendidikan harus menciptakan kepribadian Islam. Sistem ekonomi harus menjamin terpenuhi semua kebutuhan rakyatnya. Islam telah memberikan petunjuk dan aturan bagaimana mengelola negara yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Pendidikan dalam Islam punya posisi yang istimewa di mana pendidikan adalah bagian dari kebutuhan primer yang wajib dijamin oleh negara. Satu sisi orang tua tidak akan terbebani dengan mahalnya biaya, semua telah tersedia dengan biaya yang bisa dijangkau bahkan gratis. Jadi orang tua bisa fokus ikut berperan membentuk pribadi anak yang sholih dan berakhlak mulia.

Sudah saatnya kita membuang kehidupan kapitalis, sekuler, liberal, dan individual yang hanya menciptakan masalah (salah satunya anak durhaka). Kita buka kehidupan baru dengan sistem Islam dalam segala halnya. Tentunya hanya bisa terwujud dibawah naungan Islam yang pastinya akan memunculkan anak-anak yang sholih, berbakti pada ayah ibunya. Allahu Akbar