Oleh : Zai (Aktivis Mahasiswi)

Bukankah sudah sering terdengar, curhatan emak-emak di tukang sayur depan gang perihal anak-anak mereka yang kian hari kian sulit diatur untuk belajar? Ya kan? Sudah mak angel wes angel! Sini mak, diskusi bahas agak mendalam lagi ada apa dibalik semua ini.
Mak, permasalahan pembelajaran daring ini memang kompleks ya mak. Pada evaluasi 10 bulan pembelajaran daring, ditemui kasus yakni kekerasan pada anak, pemicu stres pada anak dan orangtua, fasilitas belajar kurang memadai dll.
Yang semakin menjadi sorotan adalah situasi pandemi covid-19 disinyalir telah memicu tingginya kasus perkawinan anak di bawah umur. Bahkan Badan Peradilan Agama Indonesia telah menerima catatan sekitar 34 ribu permohonan dispensasi kawin yang diajukan oleh calon mempelai yang belum berusia 19 tahun. (Republika.co.id 7/2/21). Wah, bikin geleng-geleng kepala ya mak…
Perihal evaluasi ini pemerintah memang telah berupaya berbagai cara untuk mengatasi permasalahan pembelajaran selama pandemi covid-19. Diantaranya oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama  yang menerbitkan panduan kurikulum pada masa darurat Covid-19 untuk madrasah. Panduan ini tercantum dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Nomor 2791 Tahun 2020, tertanggal 18 Mei 2020. (Kompas.com)
Namun mak, apakah penerapan kurikulum ini akan mampu menyelesaikan permasalahan pembelajaran selama pandemi ini? Mak, anak-anak kita sudah mengalami learning loss atau berkurangnya pengetahuan dan keterampilan secara akademis. Sehingga diperlukan upaya dan penanganan serius secara sistemis.
Namun saat ini kita dapat memastikan akan sulit untuk mencapai pendidikan ideal di sistem kehidupan sekarang. Karena sistem kehidupan sekarang berasas sekuler yakni memisahkan agama dari kehidupan. Mak selama ini telah terbukti bahwa sistem sekuler menjadi faktor penyebab kerusakan individu karena jauh dari agama.
Jika sistem sekuler tetap menjadi pijakan terutama dalam mengatur pendidikan, maka dipastikan tidak akan menyelesaikan masalah pendidikan ini. Mak sebagai umat Islam kita sangat berharap bisa menerapkan apa yang telah diatur dalam agama Islam.
Jika kita bisa menjadikan Islam sebagai pijakan dalam mengatur kehidupan terutama untuk pendidikan itu lebih baik. Mak, Pendidikan Islam memiliki tujuan membentuk manusia yang memiliki: (1) Kepribadian Islam; (2) Menguasai pemikiran Islam dengan andal; (3) Menguasai ilmu-ilmu terapan (ilmu, pengetahuan, dan teknologi/IPTEK); (4) Memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna.
Kurikulum pendidikan Islam dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islami; (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (IPTEK, keahlian, dan keterampilan). Mak, kita juga bisa membaca sejarah bagaimana pendidikan Islam akan menciptakan generasi emas peradaban. Ayo mak sadar dan bangkit, antar anak-anak menjadi ujung tombak peradaban mulia yaitu Islam.