Oleh Eneng Rosita

Dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan pemberitaan yang datang dari Sulawesi Selatan, tentang seorang calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang beragama non-muslim yang mengajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Guru tersebut mendapat SK pengangkatan mengajar mata pelajaran Geografi di madrasah. Pada awal nya sang guru pun kaget ketika mengetahui kalo dirinya ditempatkan di sekolah madrasah, meski akhirnya menerima sebagai kehendak Tuhan.

Menurut Analisis Kepegawaian Kementrian Agama (Kemenag) Sulsel Andi Syaifullah , kebijakan itu sejalan dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia tentang pengangkatan guru madrasah khususnya pada Bab VI pasal 30.

Aturan itu menyebut standar kualifikasi umum calon guru madrasah (khususnya pada poin a), yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Tidak disebutkan bahwa harus beragama Islam,” terang Andi Syaifullah. (suarasulsel.id, 30/01/2021).

Dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan semua ini bisa saja terjadi dengan mengatas namakan moderasi, bebas untuk menempatkan tenaga pendidik yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Agama tidak lagi dianggap penting untuk menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Saat ini arus sekulerisme dan liberalisasi kian masif ditancapkan termasuk dalam dunia pendidikan, dengan dalih untuk mengaruskan moderasi Islam, pengaturan pendidikan pun tidak lagi menjadikan agama yakni akidah dan aturan Islam sebagai suatu panduan.

Dunia pendidikan seharusnya memliki arah dan tujuan yang jelas, sehingga dapat menentukan kurikulum yang jelas, metode pengajaran termasuk dengan tenaga pendidik yang diatur dan disesuaikan penempatannya harus sejalan dengan visi yang ingin dicapai.

Dalam Islam pendidikan adalah pilar utama untuk membentuk ketakwaan dalam rangka membentuk generasi unggul yang berkepribadian Islam. Guru bukan hanya menyampaikan materi tapi juga menyampaikan kepribadian, guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu, mereka adalah sekaligus sosok teladan di sekolah yang akan ditiru oleh anak didiknya.

Ada dua tujuan pokok pendidikan dalam Islam yaitu :

Pertama membangun kepribadian Islam yakni pola pikir atau aqliyah dan pola sikap atau nafsiyah bagi umat.

Kedua, untuk mempersiapkan generasi muslim unggul, agar mereka menjadi generasi yang mumpuni dalam bidang keilmuan seperti fiqih, bahasa arab, al-Quran, hadist, tafsir, hukum syariat Islam, maupun ilmu terapan seperti ilmu kimia, teknik, fisika dan lain-lain.

Oleh karena itu, hanya dalam sistem pendidikan Islam sajalah akan terlahir generasi cemerlang yang memiliki akidah yang kuat sehingga dapat menjadi penerus peradaban, dan itu hanya akan tercapai jika Islam diterapkan dalam kehidupan secara kaffah.

Wallahu a’lam bishowab.