Oleh : Ummu Aqeela

Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine/Valentine’s Day. Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang. Menyasar disemua kalangan masyarakat, tua bahkan muda.

Ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda 6 orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998). Oleh karena itu Hari Valentine menurut beberapa literature ilmiyah dapat menunjukkan bagian dari simbol agama Nasrani. Sejarah awal mulanya pun dari Non Muslim. Sayangnya, masih saja ada umat Muslim yang turut merayakan Hari Kasih Sayang tersebut.

Di masa sekarang ini Perayaan Valentine day’s mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih. Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Dalam Islam, tidak mengenal hari perayaan lainnya melainkan dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Kedua hari raya tersebut disyariatkan karena seusai melakukan ibadah, Idul Fitri usai dari ibadah puasa Ramadhan, sementara Idul Adha usai dari melaksanakan Ibadah Haji. Kedua hari raya tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat kemampuan beribadah. Cara bersyukur atau merayakan pun harus dengan menambah ibadah. Kalau Idul Fitri dengan zakat fitrah dan sholat hari raya, sementara Idul Adha dengan qurban dan sholat hari raya. Atas dasar itu, sebagian ulama tidak membenarkan merayakan apapun kecuali sebagai rasa syukur atas nikmat ibadah.

Di samping itu juga, Islam melarang kita menyerupai budaya non Islam, dan Valentine Day adalah termasuk budaya Non Muslim. Saking dilarangnya kita menyerupai budaya Non Islam, umat Islam laki-laki diperintahkan memelihara jenggot karena di masa Nabi, orang Yahudi suka mencukur jenggot. Begitu juga puasa Asyura yang dianjurkan 2 hari karena orang Yahudi melakukan puasa Asyura hanya 1 hari.
Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Al-Libas, 3512. Al-Albany berkata dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih no. 3401)
Islam sebagai agama yang sempurna, memiliki pandangan tentang kasih sayang. Islam memahami bahwa manusia merupakan makhluk yang sempurna, dibekali dengan akal, nafsu, dan segala perasaan di hatinya. Tidak seperti malaikat yang selalu taat dengan perintah Allah, manusia terkadang lebih mengutamakan akal atau nafsunya dibandingkan perintah Allah. Maka, Islam pun mengatur batas-batas atau bentuk kasih sayang yang diperbolehkan dalam Islam.

Kasih sayang memiliki makna yang tidak terbatas. Memiliki rasa kasih sayang kepada makhluk lain merupakan fitrah yang dimiliki manusia. Maka, tentu kita harus menempatkan rasa kasih sayang ini sesuai kodratnya, tidak melewati batas-batas hukum Islam.
Untuk mengungkapkan rasa kasih sayang dalam Islam juga telah diatur dengan mengikuti ajaran yang telah dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bentuk kasih sayang ini dibungkus dengan iman. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. “


Dalam mewujudkan kasih sayang tersebut, manusia diajarkan untuk melakukan perbuatan yang nyata. Kasih sayang kepada manusia lain bisa berbentuk perbuatan tolong menolong, menjaga silaturahmi, meringankan beban dan kesulitan orang lain, mengajak orang lain ke jalan Allah, menjaga kedamaian dan lain sebagainya. Sementara itu, kasih sayang kepada makhluk lain dan lingkungan bisa berupa menjaga kebersihan, keasrian, dan kelestarian lingkungan. Maka, kasih sayang dalam Islam dapat terwujud sepanjang waktu, sepanjang usia manusia tersebut hidup di bumi.


Dari banyak hadis di atas, jelaslah bahwa kasih sayang dalam Islam memiliki makna yang sangat luas. Sifat kasih sayang ini termasuk dalam sifat yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala membenci orang-orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang di hatinya. Maka, dengan kita menciptakan kasih sayang kepada manusia dan makhluk lainnya, asalkan tetap dalam koridor syari’at, merupakan salah satu bentuk ketakwaan kita kepada Allah. Hal  ini bisa menjadi penyebab Allah mencintai diri kita. Kasih sayang yang termasuk akhlak mulia tentu disukai oleh Allah dan merupakan bentuk ibadah kita kepada Allah jika diniatkan dan ditunjukkan dengan cara yang benar. 


Untuk itu sebagai muslim kita harus bisa menempatkan rasa kasih sayang dengan benar dan sesuai ajaran agama Islam, pertama-tama kita harus terlebih dahulu mencintai Allah. Menjadikan Allah dan seluruh Syari’atNYA sebagai pedoman hidup yang utama di hati kita, dan menjadi penjaga setiap langkah kita kearah yang benar dan diridhoi. 
“ Say NO to Valentine’s Day “
Wallahu’alam bishowab