Oleh: Choirin Fitri (Pemateri Kajian Pra Nikah Online)

Bicara cinta seperti bicara samudera luas. Tak ada habisnya. Meski puisi, lagu, film, novel, dan yang lainnya membicarakannya. Cinta tak pernah habis dibahas.

Apalagi, ketika bicara cinta 2 sejoli. Seakan tidak akan pernah selesai diungkap. Ya, karena memang cinta indah dirasa dan tidak elok jika ditinggalkan begitu saja.

Sayang seribu sayang cinta yang Allah ciptakan dengan tujuan untuk melestarikan keturunan secara legal ternoda. Aktivitas free sex yang kerap dilakukan oleh kawula muda bahkan mereka yang telah menikah bukan jalan halal untuk mengungkapkan cinta. Hanya pernikahan yang syar’i sajalah jalan penuh pahala bagi mereka yang memiliki rasa cinta.

Allah secara tegas telah mengharamkan aktivitas free sex yang disebut zina ini dalam firman-Nya yang berbunyi:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلً

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32).

Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah memberikan tafsir atas ayat ini yaitu larangan dari mendekati perzinaan itu lebih mengena dibandingkan sekedar larangan dari melakukannya. Karena larangan (mendekati zina) itu mencakup semua foreplay dan faktor penyulutnya. Sesungguhnya barangsiapa yang mengitari sekitar daerah larangan, niscaya hampir-hampir dia terjerumus di dalamnya. Terutama dalam perkara ini, yang pada kebanyakan jiwa manusia terdapat dorongan nafsu yang sangat kuat ke arahnya. Allah mengemukakan perzinaan dan potret buruknya , bahwasanya ia adalah “suatu perbuatan yang keji” maksudnya dosa yang keji dalam sudut pandangan syariat, akal dan fitrah, lantaran memuat pelanggaran terhadap kehormatan pada hak Allah, hak wanita tersebut, hak istri atau suaminya, merusak kesucian hubungan rumah tangga, mencampur adukkan nasab dan kerusakan-kerusakan yang lainnya. Dan Firman Allah, “Dan suatu jalan yang buruk,” maksudnya seburuk-buruk jalan adalah jalan orang-orang yang lancang melakukan dosa besar ini.

Sungguh, zina adalah dosa besar. Pelakunya akan memikul dosa yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Allah. Pengadilan Dzat Yang Maha Adil yang akan memberikan hukuman berat bagi para pelakunya.

Zina adalah dosa besar dan termasuk akbarul kabâir (dosa-dosa besar yang terbesar) setelah syirik dan membunuh. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak beribarah kepada tuhan yang lain beserta Allâh dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).”
[al-Furqân/25:68]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menggabungkan zina dengan syirik dan pembunuhan. Dan Allâh Azza wa Jalla menjadikan balasan semua itu adalah siksa berlipat ganda lagi menghinakan, selama pelakunya tidak bertaubat dan beramal shalih.

Sistem liberalisme sekulerisme yang mendewakan kebebasan dan pemisahan agama dari kehidupan telah menyuburkan aktivitas cinta berbuah dosa ini. Zina bahkan dilegalkan atas nama cinta atau rupiah. Sungguh mengerikan.

Padahal,sebagai seorang mukmin sejati kita tidak boleh paham kebebasan ini sedikit pun. Kita harus menjadikan standar halal haram dalam melakukan berbagai aktivitas. Sehingga, jika Allah telah haramkan zina, pantang bagi kita untuk melakukannya. Wallahu a’lam.