Oleh: Afaf Mochammad Najmudin

Dinar-dirham belakangan menjadi perhatian publik lantaran penggunaan keduanya sebagai alat transaksi di Pasar Muamalah Depok dan berujung pada ditetapkannya Zaim Saidi, sang pendiri pasar tersebut sebagai tersangka.

Penangkapan Zaim Saidi yang terkesan represif justru memunculkan kesan bahwa pemerintah tidak berpihak terhadap kepentingan umat Islam. Sebab, istilah dinar-dirham telah menjadi istilah yang khas sebagai mata uang dari sistem ekonomi Islam dan keberadaannyapun tercantum dalam dalil-dalil syariat.

Keunggulan dinar-dirham sebagai alat tukar terbaik yang dapat meredam terjadinya spekulasi, manipulasi dan menekan inflasi secara signifikan adalah sebuah fakta. Namun, dinar-dirham yang lahir dari sistem ekonomi Islam dapat dirasakan keunggulannya jika sistem pemerintahan yang berlaku juga berasal dari Islam.

Seyogianya pemerintah tidak berlebihan menyikapi penggunaan dinar dan dirham oleh masyarakat. Bukankah pemerintah tidak dirugikan sedikit pun dengan aktifitas pelaksanaan ajaran islam oleh masyarakat? Justru dengan kembalinya kepada sistem Islam, masalah-masalah moneter yang menyengsarakan umat selama ini bisa teratasi.