Oleh: Maman El Hakiem

“Konspirasi terselubung menghantam Turki Utsmani. Musuh-musuh Islam menyerang dengan jalan paling mistis dan kelam, di samping yang paling maju dan canggih. Kepemimpinan Islam digempur dari luar dan dalam. Namun, masih ada orang-orang yang bersedia berjuang untuk membendung semua itu. Salah satu dari mereka adalah Sultan Abdul Hamid II.” (Sayf Muhammad Isa dalam buku “Abdul Hamid Ghazi, Benteng Terakhir Khilafah Islamiyah, Ghazi Publishing).

Langit Andalusia begitu kelam, kemewahan Konstantinopel penuh dengan duka, begitupun negeri-negeri yang masih bertahan tinggalah negara kecil karena banyak yang telah memisahkan diri. Mereka yang berkhianat karena propaganda perang pemikiran dan budaya yang dilancarkan oleh sekutu penjajah, berhasil menanamkan anteknya Mustafa Kamal At Tarturk untuk membubarkan kekhilafahan Islam yang menjadi warisan Rasulullah Saw.

Banyak faktor internal maupun eksternal yang menjadi sebab keruntuhan daulah Islam yang mengakibatkan hancurnya peradaban manusia dari kemuliaan menjadi kehinaan. Faktor internal, kaum muslim telah banyak terkontaminasi ajaran filsafat dan hadlarah Barat yang menyusup ke dalam ajaran Islam. Mereka dengan cerdik, namun licik meracuni pemikiran Islam dengan nilai-nilai yang dianggap maslahat, padahal mafsadat buat umat, seperti nasionalisme dan faham demokrasi yang menyesatkan.

Selain itu pengkerdilan syariat Islam yang hanya sebatas ajaran moral dan ritual telah melemahkan ghirah kaum muslimin untuk berijtihad dan berjihad di jalan Allah SWT. Banyaknya ilmu keislaman yang dikotori oleh ajaran filsafat dari Yunani dan India turut mewarnai Islam yang tegas hitam dan putihnya menjadi abu-abu, bahkan tidak punya warna sama sekali. Islam cahayanya meredup ketika kaum muslimin tidak lagi bangga dengan nilai-nilai keislaman yang utuh dan menyeluruh.

Ibarat penyakit kronis yang merasuki tubuh kekhilafahan Islam, kian diperparah dengan datangnya algojo “Mustafa Kamal” yang dicuci otaknya dari hasil didikan Yahudi atas kompromi sekutu negara kafir harbi fillan, Inggris, Amerika dan Perancis. Mereka hanya butuh waktu singkat untuk menggulingkan Khalifah Abdul Hamid II, benteng terakhir kaum muslimin yang dihinakan dan diusir dari negerinya sendiri. 28 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M menjadi malapetaka bagi dunia karena runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah.

Kondisi saat ini, seabad kemudian adalah kondisi yang sama langit peradaban manusia masih kelam. Mendung duka bagi kaum muslimin yang masih tertindas dalam segala hal, tidak hanya fisiknya yang disiksa, ajaran Islampun selalu dinista. Dengan dalih moderasi dan modernisasi, mereka memahamkan pemikiran sekularistik, kapitalistik memecah belah persatuan kaum muslimin dengan propaganda pengelompokan Islam radikal-ekstrimis, tradisionalis, modernis, dan apalah-apalah lainnya. Namun, secercah harapan itu masih ada saat hujan semangat para pengemban dakwah tidak lagi takut dengan kekuasaan, bahkan turun ke bumi menyadarkan umat akan pemahaman Islam yang benar, rahmat bagi seluruh alam. Yakinlah, seusai malam yang kelam akan terbit cahaya kemenangan Islam. In syaa Allah. Wallahu’alam bish Shawwab.***