Oleh:Dhiyaul Haq

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama menerbitkan panduan kurikulum pada masa darurat Covid-19 untuk madrasah. Panduan ini tercantum dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Nomor 2791 Tahun 2020, tertanggal 18 Mei 2020. “Panduan ini merupakan pedoman bagi satuan pendidikan dalam melaksanakan pembelajaran di madrasah pada masa darurat Covid-19,” kata Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Ahmad Umar melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (26/5/2020).

Umar mengatakan, panduan itu berlaku bagi jenjang pendidikan madrasah mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Ia berharap, dengan adanya panduan ini, kegiatan belajar mengajar pada masa darurat Covid-19 dapat berjalan dengan baik dan optimal. “Dalam kondisi darurat, kegiatan pembelajaran tidak bisa berjalan secara normal seperti biasanya, namun demikian siswa harus tetap mendapatkan layanan pendidikan dan pembelajaran,” ujarnya. kurikulum darurat berakibat learning loss.

Pembelajaran di masa covid sudah berjalan satu tahun yang belum tau pasti kapan akan berakhir. Pembelajaran daring berakibat learning loss yakni  berkurangnya pengetahuan dan keterampilan secara akademis. Learning loss ini bisa terjadi karena berkurangnya intensitas interaksi guru dan siswa saat proses pembelajaran. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Rachmadi Widdiharto mengatakan, Kemendikbud memahami kekhawatiran learning loss tersebut di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai. Selain learning loss yang paling menakutkan akan terjadi adalah grest loss

Generasi Terdidik, Khairu Ummah Pengemban Visi-Misi Akhirat

Jelas sudah, pendidikan harus segera dikembalikan dalam rangka meraih output generasi dalam posisinya selaku makhluk Allah Swt., sebagaimana firman Allah Swt.,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56).

Mereka juga harus diarahkan agar mampu mengemban amanah akhirat, sebagaimana firman Allah Swt.,

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [03]: 110).

Perkara pendidikan bukan suatu hal yang remeh temeh, perlu dukungan dari beberapa komponen. Yaitu keluarga, lingkungan dan Negara.

Keluarga sebagai unit terkecil kepemimpinan umat berperan besar menjadi madrasah pertama anak didik. Pembinaan iman, takwa, dan kepribadian Islam, semua berawal dari keluarga. Ibu selaku guru pertamanya dan ayah berperan sebagai kepala sekolahnya.

Sekolah, harus mengakomodasi kurikulum sahih berdasarkan visi-misi besar pewujud khairu ummah. Murid-murid diisi dengan aspek ruhiyah dan dididik dengan target besar untuk menjadi sosok-sosok yang berkepribadian Islam. Intelektualitas yang diperoleh melalui proses pembelajaran akademik semata-mata untuk meraih derajat takwa dan mengemban amanah keumatan.

Negara, tentunya adalah negara yang menerapkan mabda Islam, sehingga Islam mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Inilah negara Khilafah Islamiah, negara berideologi Islam, penerap aturan Islam secara kafah

Wallahu a’alm bi ash-showab