Oleh: Rina Yulistina

Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan jumlah angka kematian akibat bunuh diri di dunia mendekati 800.000 per tahun hampir 1 kematian setiap 40 detik. (merdeka.com, 6/11/2020)

Sedangkan di Indonesia, menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merujuk data mutakhir yang diperbaharui 1 Mei 2018. Tiap satu jam, setidaknya satu orang Indonesia bunuh diri. Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi 103 dari 183 negara dan sembilan di ASEAN. (beritatagar.id, 10/9/2019)

Data Kemenkes kembali mencatat keinginan untuk bunuh diri telah menyasar anak pada kisaran SMP sampai SMA, dari hasil survei 10.837 responden, sebanyak 4,3 persen laki-laki dan 5,9 persen perempuan memiliki keinginan untuk bunuh diri. (merdeka.com,6/11/2020)

Kasus bunuh diri menyebar diberbagai pelosok daerah diseluruh Indonesia, berdasarkan data di Kab. Ngawi terdapat 25 kasus bunuh diri selama tahun 2020. (radarmadiun.co.id, 1/2/2021)

Fenomena bunuh diri di masyarakat bagaikan gunung es, sangat bisa dipastikan yang tak terlaporkan jauh lebih banyak.

Tekanan hidup yang berat mulai dari himpitan ekonomi, polemik masalah cinta, sakit yang menahun tak kunjung sembuh, bullyan, masa lalu yang kelam yang tak bisa teratasi, tuntutan keluarga atau masyarakat yang tak bisa dipenuhi, dan sebagainya menyebabkan seseorang depresi dan memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Namun sangat disayangkan di Indonesia, isu kesehatan mental masih menjadi tabu dan kurang diperhartikan. Sehingga seseorang yang sedang dalam kondisi depresi yang membutuhkan pertolongan malu untuk memeriksakan kondisi kejiwaannya, padahal pertolongan psikolog ataupun psikiater begitu dibituhkan.

Apalagi pandangan masyarakat terhadap kesehatan mental pun sangat sempit hanya mengartikan orang yang mengalami depresi adalah orang yang lemah iman dan sering disebut sebagai “orang gila”. Pandangan sempit inilah yang semakin memperburuk kejiwaan seseorang.

Tingginya angka bunuh diri sebenarnya menunjukan bahwa kehidupan keluarga dan masyarakat sedang kronis. Sistem sekuler kapitalis yang diterapkan yang mengakar membuat keluarga dan masyarakat memandang kebahagiaan terletak pada materi.

Sehingga tuntutan untuk sukses, kaya raya, cantik rupawan, dan selalu nampak sempurna dihadapan manusia, menjadi tuntutan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga seseorang akan merasa gagal jika tak bisa menjalani hidup sesuai dengan tuntutan sosial yang ada. Bullyan verbal menjadi hal yang lumrah ketika melihat orang lain gagal dan mengalami kesusahan.

Sekuler Kapitalis Biangnya
Sekuler kapitalis telah gagal meletakan makna kebahagiaan sekaligus gagal memahami makna “manusia”. Ketika kebahagiaan diletakan pada materi, maka sesungguhnya sejauh mana manusia akan menikmati materi tersebut? Dan seberapa puas manusia menikmati materi yang dimiliki? Kita semua sadar bahwa manusia mempunyai batas, dia tak bisa menikmati seluruh materi yang dia miliki. Contoh kecilnya: ketika lapar dan haus, nikmatnya makan dan minum ketika dalam kondisi itu, selebihnya hambar meskipun dia makan dan minum dengan harga jutaan rupiah. Contoh lagi seperti orang yang sakit, meskipun dia punya wajah yang rupawan, hidup di rumah gedongan, kemana-mana naik mobil, punya banyak tabungan. Apakah dia bisa menikmati dalam kondisi sakit?

Contoh sederhana tersebut sebenarnya bisa kita ambil hikmahnya bahwa kebahagiaan bukan terletak pada materi. Sistem kapitalis sekuler telah menggiring pemikiran manusia bahwa materi adalah sumber kebahagiaan, padahal hal itu salah.

Banyak orang diluar sana yang dia kaya raya, terkenal, memiliki banyak harta tapi hidupnya tak pernah bahagia, jiwanya kosong meskipun jasadnya memiliki segala yang dia mau. Maka letak kebahagiaan tak bisa disandarkan pada materi dunia.

Islam Menjawab Tantangan Kesehatan Mental

Maka, sudah saatnya kita lebih peduli dan peka terhadap makna kebahagiaan dan tujuan hidup sehingga kesehatan mental kita terjaga. Manusia terlahir di dunia dengan kebahagiaan dan kesedihan, dua hal ini akan senantiasa mengiringi kehidupan manusia hingga akhir hayat. Maka Islam mengajarkan bahwa rasa syukur dan tawakal harus saling beriringan. Islam mempunyai tutunan yang jelas dalam memahami tujuan hidup, seperti di dalam surat Adz Dzariyat: 56


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” ayat tersebut jelas, manusia diciptakan di dunia ini dengan tujuan yang mulia yaitu beribadah kepada Allah.”

Makna ibadah disini luas, bukan hanya sekedar ibadah ritual seperti puasa, sholat, zakat, dzikir, naik haji, berqurban dan sebagainya. Namun makna ibadah ini makna yang luas ketika kita beraktivitas apapun aktivitasnya kita niatkan hanya untuk Allah, contoh kecilnya seperti: kita bekerja untuk beribadah kepada Allah maka ketika bekerja kita lebih amanah, ketika mendapatkan gaji kita ingat ada hak orang lain di gaji yang kita terima, kita gemar berbagi kepada orang yang kurang mampu. Sama halnya ketika kita belajar, kita niatkan belajar karena Allah maka ilmu yang terserap lebih barokah, ilmu yang dipunyai bukan untuk mendapatkan kekayaan di dunia namun ilmu digunakan untuk kemaslahatan umat manusia, sehingga ilmu itu barokah tak hanya di dunia namun di akherat.

Ketika kita telah clear dalam memahami tujuan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah. Maka makna kebahagiaan pun akan terarah bukan untuk dunia namun untuk akherat. Bahagia ketika dia terikat dengan aturan Allah, sehingga dalam aktivitasnya yang dia fikirkan hanya bagaimana Allah menilai kehidupannya, dia tidak akan berfikir bagaimana penialaian manusia terhadapnya. Sehingga orang yang memahami tujuan hidup dan makna kebahagaiaan yang benar tidak akan tergerus dengan standar kehidupan sosial yang penuh dengan materi. Sehingga kesehatan mental kita akan lebih sehat.

Tidak cukup hanya perbaikan terhadap individu supaya kesehatan mental terjamin, harus ada perbaikan keluarga, masyarakat dan negara juga. Keluarga merupakan tempat yang seharusnya sangat hangat bagi anggota keluarga, namun faktanya sangat banyak sekali depresi diakibatkan dari keluarga. Minimnya pemahaman agama sebagai pondasi keluarga sehingga ketika membangun rumahtangga yang ada hanya saling menuntut antara suami istri dan anak, suami menuntut istri dan juga sebaliknya, mendidik anakpun juga seperti itu anak dituntut sama seperti anak tetangga, ambisi orangtua dilimpahkan ke anak. Keluarga berubah menjadi monster yang menakutkan.

Di dalam Islam sangat jelas di dalam Misalnya, surah at-Tahrim: 6
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Maka peran keluarga sangat penting sekali dalam membentuk kesehatan mental disetiap anggota keluarga, dengan penuh keimanan, cinta dan kasih sayang yang didasari oleh pemahaman agama terjalin hubungan yang harmonis diantara anggota keluarga.

Masyarat yang hedonis diakibatkan efek dari penerapan sistem sekuler kapitalis oleh negara. Sulitnya mencari kehidupan yang layak sehingga setiap masyarakat saling berlomba-lomba untuk memenuhi kehidupannya, saling bersaing dalam mengumpulkan kekayaan tak jarang mereka saling menjatuhkan efeknya tak ada rasa empati, peduli, dan saling memiliki. Tak ubahnya masyarakat di sistem kapitalis adalah masyarakat hutan yang menerapkan hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan Islam, di dalam Islam masyarat berperan sangat penting sebagai kontrol kehidupan sosial. Masyarakat Islam memiliki rasa empati, kepedulian, toleransi yang begitu tinggi hal tersebut bisa tercipta karena masyarakat terbentuk dari pemikiran, perasaan dan aturan Islam. Stardar sosial di masyarakat Islam jelas yaitu aturan Allah bukan aturan yang berasal dari hawa nafsu manusia.

Peran negara sangat vital, negara mempunyai tugas penting untuk menjaga masyarakat dan individu. Negara wajib memenuhi kebutuhan primer masyarakat terlepas apa agama yang mereka anut, negara memiliki kewajiban memberikan lapangan pekerjaan, modal usaha, pendidikan, perumahan dan kesehatan gratis dan fasilitas umum lainnya sehingga tidak akan ada hukum rimba di tengah masyarakat. Selain itu negara wajib menerapkan aturan Islam dalam bernegara bukan bearti non muslim dipaksa untuk masuk Islam, bukan seperti itu, non muslim akan tetap beragama sesuai dengan keyakinan mereka. Islam dijadikan sebagai pedoman dalam bernegara, sistem yang diterapkan yaitu sistem Islam bukan sistem sekuler kapitalis.

Ketika negara menerapkan sistem Islam, suasana di dalam negara merupakan suasana Islami bukan suasana hedonisme, sehingga memudahkan individu dan masyarakat untuk memahami tujuan hidup dan makna kebahagiaan. Masyarakat punya pemikiran, perasaan yang Islami sehingga terbentuk kepekaan, empati, dan toleran yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan aturan yang dipakai adalah aturan Islam yang dibawah naungan negara.

Islam adalah agama rahmatan il’alamin, rahmat bagai seluruh alam terlepas apapun latar belakangnya perbedaan agama, ras, dan budaya bisa disatukan dengan Islam.