Oleh: Maman El Hakiem

“Udahlah Naila, jangan mikirin terus Atilah. Dia emang begitu, kuliah sambil jualan kripik di kampus.” Malika mencoba menasihati Naila, sahabatnya yang merasa malu lihat Atilah promosiin terus kripiknya.

“Bukan begitu Ka, ini menyangkut imej kita selaku aktifis dakwah di kampus. Kesannya jualan terus yang diurus, target binaan kita kan masih banyak!” Ucap Naila.

“Ya, tapi kan Atilah bisa ngatur waktunya berjualan dan kumpul diskusi sama kita.” Malika selalu berusaha membujuk Naila agar bisa bersikap adil.

“Kemarin saja pas diamanahi tugas ngisi mentor binaan malah ngalihkan ke yang lain, alasannya ada pelanggan kripik yang komplain.” Naila masih saja menggerutu.

“Sabar dulu ya, nanti kita konfirmasi biar gak kotor hati, semoga produk kripik Atilah gak ada masalah dengan pelanggannya.” Jawab Malika menenangkan hati Naila.

Beberapa saat kemudian, seorang ibu menghampiri mereka berdua. Ternyata, Bu Sherli ibunya Atilah, tentu membuat Naila dan Malika kaget karena gak biasanya datang ke kampus.

“Ada apa Bu, gak ada masalah dengan Atilah kan? Tanya Malika.

“Gak ada apa-apa, cuma ini ada titipan dari anak saya katanya buat agenda kajian Ahad.” Jawab Bu Sherli sambil menyodorkan amplop.

“Apa tuh Bu?” Tanya Naila penasaran.

“Kata Atilah, ini hasil jualan kripik buatannya, alhamdulillah dananya sudah cukup buat agenda kajian. Jadi gak usah cari donasi ke luar.” Jawab Bu Sherli.

Malika dan Naila hanya bisa tertegun, hatinya merasa bersalah telah berburuk sangka pada Atilah. Terutama Naila sangat terharu, ternyata selama ini Atilah justru lebih bertanggungjawab untuk bisa mandiri mengupayakan pendanaan buat dakwah.

“Masya Allah, semoga kebaikan Atilah diberikan balasan yang lebih baik dan rezeki yang penuh berkah.” Jawab Naila.

“Oh iya, Atilah juga nitip ini katanya kripik rasa barunya, kripik pedas rasa seafood.” Ucap Bu Sherli lalu mengeluarkan dua bungkus kripik dari kantongnya. Wah, kemasannya menarik dan menggoda lidah.

“Awas loh…Naila, suka kripik tapi gak suka pedasnya…..hehe.” Kata Malika mencandai Naila. Tentu saja, meskipun nadanya nyindir politik, tapi wajah Naila agak memerah juga maklum dirinya gak suka yang pedas-pedas.

“Rasa seafood gak pedas kan Bu?’ Tanya Naila yang disambut senyum Bu Sherli. “Gak kok, Atilah sudah ngasih tahu, bahwa kalian suka juga kripik, tapi gak suka dikritik”. Wah, kena deh!***