Oleh : Desti Ummu Hamzah

5 orang gadis di Lampung menjadi korban love scammer seorang lelaki cabul. 5 gadis ini terkena bujuk rayu seorang lelaki yang hanya berinteraksi dengan mereka via Line Chat. Tak sekedar chat mesra, mereka rela melepaskan pakaiannya saat diminta oleh si lelaki. Tanpa curiga mereka melakukan atas alasan cinta. Ternyata si lelaki menscreenshoot aksi bugil gadis-gadis ini. Foto ini digunakan untuk memeras dan mengancanm korbannya jika tidak menuruti permintaannya yang lebih mengerikan lagi. (www.jambikita.id)

Bulan  Januari tahun  2020 ada  12 korban dengan kerugian Rp. 1.079.628.000. Ini nilai yang sangat fantastis disaat krisis. Per tanggal  24 Januari 2021,  total kerugian dari 5 orang korban mencapai Rp. 157.000.000. (Kompasiana, 24/01/2021)

Love Scammer atau penjahat cinta, sedang masif terjadi di generasi sekarang. Korbannya terdiri dari janda, duda, jomblo, bahkan yang masih berumah tangga pun ada.
Mengapa hal ini terjadi? Lemahnya mental dan lemahnya aqidah menjadi sebab para korban luluh dan mau memberikan segala yang diminta oleh love scammer. Tujuannya adalah mengeruk harta dari para korbannya.

Awalnya, korban dibuai oleh cinta palsu. Melemahkan mental dengan kata kata manis, mengumpan rayuan, hingga meminta mengirim foto syur yang nantinya akan jadi senjata untuk memeras korban. Ada korban yang dengan sukarela dan tak sadar diperas hartanya. Ada juga yang dalam keadaan sadar, tidak menyadari pacarnya hanya mengeruk kekayaannya saja.

Kurang nya cinta dari orang terdekat seperti keluarga, bisa menjadi faktor lemahnya mental. Lalu, tidak adanya bekal keimanan yang kokoh menjadikan kejahatan cinta ini semakin meluas dan beragam.

Maka dari itu, untuk mengokohkan benteng pertahanan dan keimanan dari bahaya love scammer, mulai dibekali dengan penguatan aqidah dirumah. Kemudian beralih ke masyarakat dengan pembekalan yang sama. Penguatan aqidah.

Tetapi, di atas semua itu, tetaplah sistem negeri ini tidak menjamin keamanan yang paripurna. Karena, yang menjaga aqidah masyarakat adalah Negara. Negaralah yang harusnya menjamin kekokohan aqidah masyarakat. Tentunya dengan sistem Islam Kaffah. Wallahu ‘alam bishowab.