Hampir setahun pelajar di Indonesia melakukan pembelajaran dalam jaringan (daring). Pendidikan di negeri ini sejatinya tidak siap akan perubahan cara belajar yang mendadak. Hal ini berdampak besar kepada para siswa, sehingga menimbulkan banyak sekali problematika. Mulai dari kesulitan untuk mengakses hingga hilangnya minat belajar. Melihat hal itu Kemenag dan Kemendikbud menerbitkan kurikulum darurat baik untuk jenjang Raudhatul Athfal , Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, hingga Madrasah Aliyah.

Namun sayangnya, kurikulum yang dikeluarkan tidak tepat sasaran bahkan cenderung tidak sinkron antara Kemendikbud dengan kemenag. Di satu sisi Kemendikbud mengedepankan tujuan-tujuan yang tidak dikaitkan dengan agama. Sedangkan kemenag mengedepankan aspek ibadah semata tanpa landasan keterikatan iman dengan agama. Jika hal ini tetap dijalankan, maka hanya akan tercipta manusia kapitalistik yang fokus terhadap materi tanpa adanya kesadaran diri. Seharusnya penguatan landasan keimanan dan keterikatan siswa terhadap agama dan pendidikan diciptakan terlebih dahulu. Sehingga siswa memiliki kesadaran akan kebutuhan menuntut ilmu dan berperilaku yang baik sesuai dengan tuntunan yang telah ada.

Intan Puspa Arum (Siswi kelas 11 SMA Khoiru Ummah Kasihan Bantul)