Oleh : Emmy Emmalya (Pegiat Literasi)

Valentine’s Day yang selalu dirayakan di tanggal 14 februari, seakan-akan sudah menjadi hajatan wajib bagi pemuda dan pemudi di seluruh dunia tak terkecuali pemuda dan pemudi di Indonesia.

Konon momen ini di awali oleh orang-orang Romawi yang merayakan hari besar mereka yang jatuh pada tanggal 15 februari yang diberi nama Lupercalia.

Peringatan ini adalah sebagai penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) dan Pan (Tuhan dari alam ini) seperti apa yang mereka percayainya.
Lalu seiring berjalannya waktu, pihak gereja dimana waktu itu agama kristen mulai menyebar di Romawi, memindahkan upacara penghormatan terhadap berhala itu menjadi tanggal 14 februari.

Dan dibelokkan tujuannya, bukan lagi menghormati berhala, tapi menghormati seorang pendeta kristen yang tewas dihukum mati. Nama acaranya pun bukan lagi Lupercalia, tapi Saint Valentine Day. ( Budaya Pop Remaja ; Ideologi Plagiator, hal.17-18).

St.Valentine adalah seorang pemuda yang bernama Valentino yang mati pada 14 Pebruari 269 M karena eksekusi oleh Raja Romawi, Claudius II (265-270). (https://makalahgw.blogspot.com/2015/02/sejarah-valentine-day-maksiat.html).

Dia dieksekusi karena menentang ketetapan raja, di mana dia menjadi pemimpin gerakan yang menolak wajib militer dan dia menikahkan pasangan muda-mudi, yang pada saat itu dilarang.
Karena pada saat itu tengah diberlakukan aturan boleh menikah jika sudah mengikuti wajib militer.

Menurut Hj.Irene Handono dalam tulisan beliau yang berjudul : Sejarah Valentine Day, Maksiat Berbungkus Kasih Sayang. Dipaparkan bahwa di Indonesia Valentine’s Day disebut ‘Hari Kasih Sayang’, yang dilambangkan dengan simbol kata ‘LOVE’. Padahal kalaulah di teliti, kata ‘kasih sayang’ dalam bahasa Inggris bukan ‘love’ tetapi ‘Affection’.
Tapi mengapa di negeri-negeri muslim seperti Malaysia dan Indonesia, menggunakan istilah Hari Kasih Sayang. Inilah langkah penyesatannya.

Kemudian ibu Irene melanjutkan bahwa, makna ‘love’ sesungguhnya adalah seperti sejarah GAMELION dan LUPERCALIA pada zaman masyarakat penyembah berhala, yakni sebuah ritual seks atau perkawinan.

Jadi Valentine’s Day sebenarnya bukan untuk merayakan kasih sayang tapi merayakan love atau cinta dalam makna seks. Atau dengan kata lain, Valentine’s Day adalah HARI BEBAS BERZINA.

Pada faktanya tradisi bebas bergaul inilah yang saat ini berkembang di Indonesia. Maka, jelas semua ini adalah upaya pengaburan akidah generasi muda Islam.
Melihat dari kisah tersebut nyata sekali kalau Valentine Days bukan perayaan yang diperuntukkan untuk Islam. Apalagi perayaan dalam acara Valentine Days tersebut benar-benar jauh dari ajaran Islam.

Valentine’s Day nyatanya adalah hari zina sedunia karena pada hari itu semua batasan antara laki-laki dan perempuan dilanggar dan hubungan sakral yang seharusnya hanya diperbolehkan ketika setelah melangsungkan akad nikah.

Bergaul bebas dengan pasangan yang bukan mahromnya jelas itu merupakan hal yang diharamkan dalam Islam.

Mau dibawa kemana generasi muda kita apabila setiap tahunnya selalu dibiarkan bahkan dilegalkan untuk melakukan perayaan- perayaan yang unfaedah.

Ini sesuai dengan apa yang pernah disampaikan Samuel Zweimer dalam konferensi gereja di Quds (1935) bahwa, misi utama umat kristen bukan menghancurkan kaum Muslim. Sebagai seorang Kristen tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsu. (https://kuliahpemikiran.wordpress.com/category/keluarga-dan-remaja/).

Meski telah banyak syiar, ceramah dan pencerahan dari para ulama tentang Valentine yang selalu didengungkan tiap bulan Februari, tapi nyatanya masih banyak orang tua para remaja yang masih berpemahaman salah tentang Valentine’s Day.

Valentine hanya dianggap sebagai budaya remaja modern saja, sehingga menganggap ceremonial ini biasa, padahal ada bahaya besar di balik Valentine yang siap menerkam para remaja. Ini yang tidak disadari para orang tua.

Pada kenyataannya tradisi pergaulan bebas inilah yang berkembang saat ini di Indonesia. Padahal di Eropa sendiri tradisi ini mulai ditinggalkan. Maka, semua ini adalah upaya pengaburan akidah generasi muda Islam.

Inilah akibatnya ketika negara mengambil landasan tatanan kehidupannya berdasarkan pemikiran sekularisme. Umat Islam digiring menjadi sosok yang jauh dari pemahaman agama. Tragisnya, hal ini tidak banyak difahami oleh umat Islam saat ini.

Model negara seperti ini malah membiarkan mini market-mini market yang memasang ornamen seperti balon berbentuk love atau coklat yang bertuliskan tentang valentine. Prinsipnya selalu kembali pada materi, selama pasar menyukai maka sah-sah saja hal itu dilakukan.

Berbeda dengan Islam, Islam sangat menjaga kehormatan manusia sehingga hal-hal yang berhubungan dengan pejagaan kehormatan manusia sangat dijunjung tinggi, termasuk dalam hal penyaluran naluri kasih sayang ini.

Islam hanya menghalalkan penyaluran naluri kasih sayang hanya melalui jalur pernikahan bukan yang lain. Tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa ada aturan, karena Inilah yang membedakan antara manusia sebagai makhluk yang berakal dengan hewan.

Naluri rasa sayang ini diciptakan oleh Allah Swt untuk menjaga kelestarian manusia agar peradaban kehidupan manusia tetap berlangsung.

Dengan tujuan tersebut maka Islam memiliki seperangkat aturan yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan. Jangankan berzina mendekati saja diharamkan oleh Islam.

Oleh karena itu, dalam Islam seorang pemuda dan pemudi yang belum menikah lalu melakukan zina maka hukumannya adalah di cambuk sebanyak 100 kali, sebagaimana firman Allah Swt dalam Qur’an surat An Nur ayat 2.

Hal ini untuk memberikan efek jera agar manusia tidak seenaknya saja bertingkah laku sesuai hawa nafsunya karena imbas dari kebebasan dalam pergaulan hari ini akan berefek panjang pada kelanjutan kehidupan manusia berikutnya.

Ketika sepasang pemuda dan pemudi berzina maka selanjutnya akan mengacaukan nasab dari anak yang dilahirkannya. Dan ini bukan perkara yang bisa dianggap enteng.

Oleh karena itu para pemuda dan pemudi harus berani mengatakan say no to Valentine’s Day, karena ini merupakan momen yang melegalkan untuk berzina secara berjama’ah.

Oleh karena itu perlu ada peran negara untuk melarang dan menindak warga negaranya yang merayakan hari Valentine, sehingga kerusakan generasi muda tidak semakin parah.