Oleh: Ummu Aisyah

Kehidupan kita tidak lepas dari smartphone karena banyak aplikasi yang dirancang untuk memudahkan aktivitas kita. Mulai dari aplikasi pembelajaran online dan aplikasi kencan. Ya! Memang kalau dilihat-lihat, banyak sekali aplikasi kencan dan perjodohan online yang sangat umum di antara kita, contohnya Tinder.

Tinder sendiri diluncurkan pada tahun 2012. Muslimahand adalah pionir dalam perjodohan. Aplikasi ini mengklaim mampu menjodohkan para lajang di seluruh dunia, bahkan hingga pernikahan.
Setelah itu, ada aplikasi lain seperti OkCupid, Plenty of Fish, dll. Meski beberapa berakhir di level pernikahan, banyak juga yang berakhir dengan kriminalitas, perselingkuhan pasangan menikah, penipuan, dll.

Kalau dipikir-pikir, kenapa banyak sekali aplikasi perjodohan yang bermunculan seperti ini? Dan banyak juga yang menggunakannya. Tinder telah digunakan oleh lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia.
Di Indonesia, terdapat 7,8 juta orang yang menggunakan aplikasi kencan online dan 41,4% penggunanya berusia 18-24 tahun. Wah, apakah mereka milenial seperti kita? Demikian dikutip dari statista.com/October 2020.

Berkencan, berduaan dengan lawan jenis yang mahram adalah haram dalam Islam. Tidak ada perdebatan. Entah itu pacaran yang ketemu langsung atau lewat lamaran seperti sekarang, apalagi kalau berakhir dengan perzinahan.
Butuh bukti? Inilah buktinya, Al-Qur’an surat al-Isra: 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

“Dan jangan mendekati zina sebenarnya zina adalah perbuatan keji. Kencan merupakan aktivitas yang dekat dengan perzinahan. Jelas ini adalah ketidaktaatan dan mengarah pada banyak kejahatan.
Kok bisa difasilitasi? Inilah yang terjadi jika kita hidup dengan menggunakan aturan selain Islam yang memprioritaskan nafsu dan kesenangan duniawi.

Sistem sekuler saat ini telah memisahkan kehidupan dari aturan agama, standar benar dan salah untuk setiap perbuatan tidak lagi halal-haram.
Akhirnya, pemuda saat ini gagal memahami agama dan syariat Islam mereka. Begitu pula dengan adanya liberalisme yang membuat para pemuda Muslim bertindak bebas sesuka hatinya, termasuk memenuhi instingnya.

Nah, di samping pemahaman agamanya minim individu, masyarakat saat ini juga apatis, mereka tidak peduli satu sama lain. Meski ada amoralitas yang terjadi, orang memilih diam dan membiarkannya. Mereka berkata, “Ini bukan urusanku”, “ini hidupnya”, “ingin rugi atau untung, ini nyawanya” dan kalimat lainnya.
Padahal Islam dengan jelas mengatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat, kita seperti satu kesatuan penumpang di sebuah kapal. Hanya ada satu orang yang membuat lubang di kapal, maka semua penumpang di kapal akan tenggelam. Ditambah, negara tidak peduli tentang ini.

Diperparah lagi penguasa tidak berusaha melindungi yang lebih muda. Pihak berwenang tidak peduli bahwa masa muda mereka jatuh ke dalam amoralitas atau tidak. Aplikasi yang menghancurkan iman dan kepatuhan remaja diperbolehkan.
Itulah mengapa generasi rusak!

Manusia diperbolehkan memiliki pasangan hidup, tidak ingin sendiri, atau menyukai lawan jenis. Ini adalah naluri yang Allah berikan kepada kita semua, atau disebut gharizah nau ‘.
Tapi bagaimana kita memenuhi naluri ini yang bisa menjadi masalah. Islam telah dengan jelas menetapkan bahwa gharizah nau ‘hanya dapat dipenuhi melalui ikatan pernikahan.

Nah, inilah alasan penting bagi kita untuk mempelajari dan mematuhi aturan Islam kaffah (aturan Islam kaffah).
Agar hidup kita jelas, kita tahu bagaimana menyelesaikan masalah hidup dengan benar, dan tidak jatuh ke dalam ketidakpatuhan. Allah menciptakan kita semua bersama dengan seperangkat aturan, yaitu Al-Quran dan hadits, serta ijma ‘dan qiyas.
Aturan apa yang lebih baik dari aturan Pencipta kita?

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ
يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ
ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ

“Bukan untuk pria beriman atau wanita beriman, ketika Allah dan Massenger-Nya telah memutuskan suatu masalah, mereka harus (setelah itu) memiliki pilihan tentang perselingkuhan mereka.” (QS Al-Ahzab: 36).

Peran masyarakat yang senantiasa melakukan amar ma’ruf nahiy mungkar juga sangat penting untuk menghindarkan pemuda dari kerusakan. Dan yang utama adalah kepedulian dan kepekaan negara untuk melindungi pemuda.

Negara pun harus mengontrol dan mencegah penerapan yang memfasilitasi amoralitas dan bahkan menjadi jalur imoralitas. Negara pun berusaha menciptakan kondisi agar para pemuda dalam hal-hal produktif seperti Islam dan menimba ilmu.

Nah, kondisi ideal ini hanya akan terwujud di negara yang menerapkan Islam secara kaffah, yakni Khilafah Islam.

Tentu kita tak ingin melihat generasi berlarut-larut dalam perbuatan amoral?

Inilah saatnya kita berubah menjadi hamba yang taat dan merubah kondisi umat dengan Islam. Mengapa mempertahankan sistem sekularisme-liberalisme yang korup dan merusak?

Yuk, kuatkan persaudaraan. Saling menguatkan dan mengingatkan satu sama lain. Bersama-sama kita bisa, kita tidak bisa melakukannya sendirian! Pahami agamamu bangga berislam kaffah!