Oleh: Maman El Hakiem

Malika masih saja gelisah. Sepulang dari kampus tadi sore, masih saja terpikirkan bagaimana ia mengembalikan buku Najma yang dipinjamnya. Teman dekatnya itu telah berpindah tempat tinggal. Kepindahannya terkesan disembunyikan, beberapa kali nomer telepon genggamnya dihubungi sudah gak aktif lagi. Membuat pikiran Malika selalu mudah berprasangka yang lain-lain.

“Kenapa Nak, kamu kelihatan gelisah banget? Tanya Bu Desi, ibunya Malika.

“Jelas dong, Mah…Najma itu teman dekatku, bahkan sudah dianggap saudara sendiri.” Jawab Malika, ia tampak sedih, terbayang diingatannya, betapa Najma sangat menyenangkan.

“Hmm…gini saja, coba tanya-tanya ke temanmu yang lain, mungkin saja tahu Najma sekarang dimana.” Saran Bu Desi sembari memeluk anaknya.

“Sudah Mah, dicoba tanya ke Naila dan Atilah juga sama gak ada kabarnya, seperti menghilang begitu saja.” Jawab Malika agak ketus.

“Memang buku apa sih, boleh Mamah lihat?” Bu Desi penasaran dengan buku yang dipegang Malika.

“Ini loh…bukunya.” Malika menyodorkan buku hard cover warna putih kepada ibunya.

“Masya Allah…ini buku bagus “Peraturan Hidup Dalam Islam”, sudah dibaca belum?” Tanya Bu Desi.

“Belum..Mah..hehe” Jawab Malika senyum-senyum.

“Anak mamah tuh gimana…pinjam buku buat apa kalau gak dibaca, eh….ini di belakang cover ada tulisan tangan Najma, tulisan apa ya?” Bu Desi lalu membaca tulisan tangan yang mungkin luput dari perhatian Malika.

“Buku ini aku kembalikan kepada siapa saja yang nanti mendapatkannya, karena buku ini milik umat yang telah diwakafkan oleh penulisnya untuk diterapkan dalam kehidupan.” Begitulah isi tulisan tangan, yang membuat Malika akhirnya bisa memahami, jika buku yang dipinjamnya itu harus dimanfaatkan dan dikaji bersama teman-temannya.

“Tapi kenapa ya Mah, kok Najma gak ngasih kabar? Padahal apa susahnya sih!” Malika masih saja hatinya kecewa atas sikap Najma yang seolah menyepelekan arti persahabatan.

Tidak lama kemudian, hape berdering. “Siapa sih malam-malam telepon?” Pikir Malika, kemudian ia mengambil telepon genggamnya. Nomernya belum dikenali, tetapi barangkali urgen ia pun mengangkatnya.

“Hai…puteri penghapal Qur”an lagi gelisah ya?” Maaf, hape saya hilang, ini nomer baru, saya terpaksa pindah tempat tinggal, karena dapat beasiswa ke luar negeri.” Suara di balik telepon itu ternyata Najma.

Malika meskipun hatinya senang, tapi masih saja mangkel, “Apa yang kamu lakukan itu jahat tahu…tetapi bukumu itu yang membuatku sadar, kamu teman terbaikku.” Jawab Malika.

“Ya maaf, tadinya mau ngasih kabar tetapi gadgetku hilang di jalan, jadi baru bisa ngabarin sekarang. O iya jangan lupa bukunya dibaca!” Jawab Najma memberi saran.

“Buku ya dibaca, kalau dimakan namanya kripik…hehe.” Malika akhirnya bisa senyum kembali, mereka menemukan persahabatan sejati meskipun hanya dilakukan jarak jauh.***