Oleh: Irfina Murbarantri

Viral, di media sosial terkait situs aishawedding.com yang mempromosikan pernikahan anak. Aisha wedding dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh advokat dan penggiat Samindo-Setara Institute Diana Riantina, lantaran dalam promosi situsnya adar narasi yang menganjurkan dan mewajibkan anak perempuan menikah di usia 12 tahun sampai 21 tahun. Bahkan juga ada narasi lain bahwa anak perempuan yang belum menikah adalah beban bagi orang tuanya sehingga dianjurkan untuk nikah muda. (17/2).

Setelah dilaporkan, saat ini situs aishawedding.com sudah tidak bisa diakses dan laman media sosialnya telah dinonaktifkan. Siber Distreskrimsus Polda Metro Jaya masih menyelidiki siapa pemilik dan pembuat situs aishawedding.com, karena di dalam situsnya tidak terdapat informasi alamat maupun contact person yang dapat dihubungi untuk menggunakan jasa WO. Hal ini juga menimbulkan dugaan bahwa situs tersebut bisa saja sengaja dibuat oleh buzzer atau kelompok tertentu untuk menciptakan isu provokatif mengiring opini publik, menyerang syariat pernikahan karena di dalamnya banyak dalil-dalil agama sebagai landasan mempromosikan jasanya.

Padahal, sejatinya sebuah pernikahan bertujuan untuk menjaga diri dari perbuatan zina, melestarikan kehidupan dan memelihara nasab, serta menjadi salah satu cara memperkuat ibadah. Pernikahan adalah akad sakral yang di dalamnya terdapat hak, kewajiban dan tanggung jawab yang diperlukan mental dan materil dalam menjalankannya. Pernikahan tidak mudah dijalani tanpa adannya pemahaman ilmu syariat pernikahan secara menyeluruh.

Oleh karena itu, butuh edukasi massif syariat pernikahan terhadap masyarakat. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyesatan pandangan keagamaan yang dapat menggunakan dalil-dalil agama untuk melakukan eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual. Kemudian, kaum perempuan tidak akan menjadi hanya sebagai objek semata tanpa melindungi hak-hak kaum perempuan dalam ikatan pernikahan.