Oleh: Sri Ratna Puri (Pemerhati Masyarakat)

Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia, menurun dibanding dengan tahun sebelumnya. Bahkan, kalau tak mau dibilang anjlok, mundur tiga tahun. Cuit mantan Jubir KPK di media sosial Twitter, Febri Diansyah. (Sabtu, 6 Februari 2021)

Memang sudah tak asing lagi. Penegakan hukum untuk memberantas korupsi, tak bergigi. Ibarat mata pisau yang hanya tajam ke bawah, namun tumpul ke atas. Terlebih bila pelaku korupsi, dari pihak yang memegang kekuasaan. Susah tersentuh, malah bisa memutarbalikan fakta yang ada. Banyak kasus korupsi yang menguap beritanya. Seperti kasus korupsi Hambalang, sampai terbaru kasus Bansos pandemi.

Alih-alih mendapat dukungan penuh, upaya pelemahan KPK sering terjadi dari pihak yang punya kepentingan. Akibatnya, korupsi di negeri ini semakin menjadi-jadi. Arah pandang Kapitalis yang segala hal dihitung dengan keuntungan, tak menghadirkan adanya campur tangan Tuhan (baca: Allah Swt) dalam ranah kehidupan. Inilah dasar dari segala permasalahan.

Kapitalis Sekularis, beda dengan Islam. Islam tak hanya agama spiritual, melainkan agama yamg mempunyai paket aturan yang wajib dilaksanakan oleh negara. Termasuk masalah penanganan kriminal.

Namun, sebelum hukuman diberlakukan, negara akan memenuhi segala hak warganya. Seluruh aspek yang dibutuhkan dalam kehidupan diperhatikan. Kebutuhan dasar setiap individu masyarakat tanpa sedikit pun membedakan, akan diselenggarakan. Sehingga, saat ada pelanggaran, warga tak ada lagi alasan. Bila mencuri mencapai nisab, yakni 10 dirham, maka akan dihukum potong tangan (Qs. Al-Maidah:38). Apalagi, pelaku korupsi saat ini.

Dan tiga pilar sebagai penopang dari sehatnya sebuah negara, yakni adanya kontrol dari keimanan pribadi, koloni dan serta kontrol keiman negara, berjalan dalam rangka mencapai keridaan Allah Swt, tuhan yang akan meminta pertanggungjawaban.

Jadi, korupsi pasti hilang, bila Islam yang diterapkan. Bukan menerapkan Kapitalis Sukelaris. Wallahu’alam.

)