Oleh: Ria Asmara (Bogor)

Bagi sebagian orang, bulan Februari adalah bulan cinta. Mereka saling memberi hadiah tepat di tanggal 14, di hari valentine. Pusat-pusat perbelanjaan pun menggelar karpet merah untuk para konsumen yang ingin merayakan hari valentine. Pernak pernik perayaan valentine seperti bunga dan boneka terpajang rapi di etalase. Aneka Merek coklat, dilebeli diskon sepesial. Gayung bersambut.

Sejatinya, jika dirunut sejarahnya, hari valentine berasal dari tradisi bangsa Romawi Kuno. Perayaannya adalah sebagai cara memeringati kematian seorang pendeta yang bernama Santo Valentine. Artinya, hari valentine bukanlah budaya Islam. Sehinga tak selayaknya seorang muslim ikut-ikutan merayakannya.


Sebagaimana hadits Rosullullah:
“Barang siapa yang menyerupakan diri pada suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka”.(H.R. AbuDawud)
Dari hadis ini jelas bahwa jika seorang muslim latah ikut-ikutan merayakan hari valentin, maka musibah akan menimpanya. Karena dia telah masuk ke dalam golongan orang-orang yang diikutinya. Sebagai umat Nabi Muhammad, tentu tindakan ini sangat disayangkan. Hanya gara-gara ingin merayakan hari kasih sayang, tetapi justru terperosok ke lubang dosa. Juga terlepas dari ummatnya Nabi Muhammat. Padahal safaat beliau inilah yang kelak akan kita nanti-nantikan.