Oleh: Isturia

Didalam kehidupan rumah tangga, kita dihadapkan pada beberapa pilihan. Ambil contoh, untuk sarapan, kita bisa sarapan nasi pecel, penyetan lele, soto, rawon, atau menu lainnya. Untuk makan siang, kita bisa membuat sayur bening, sayur lodeh, sup, oseng daun kates, atau menu lainnya. Lauknya pun bebas kita pilih: tempe, tahu, telur, kerupuk, dan lain-lain. Semuanya adalah pilihan. Mau sarapan apa, masak apa, masak sendiri atau beli. Semua adalah pilihan kita. Begitu juga hidup ini. Hidup tidak lepas dari pilihan. Manusia hidup dalam dua lingkup.

Pertama, lingkup yang dikuasai manusia. Di sini, ada intervensi perbuatan manusia. Intervensi perbuatan manusia itu kelak akan dimintai Allah pertanggung jawaban di akhirat. Apakah manusia itu mengkaji Islam, menutup aurat, berdakwah ataukah tidak. Demikian pula, apakah manusia mencuri, berselingkuh, berpacaran, berbohong, bunuh diri ataukah tidak. Apakah manusia taat ataukah bermaksiat. Semua itu adalah pilihan manusia.

Kedua, lingkup yang menguasai manusia. Di sini, tidak ada intervensi perbuatan manusia. Oleh sebab itu, tidak akan ada pertanggung jawaban di akhirat. Contoh: bentuk tubuh manusia. Manusia berhidung mancung atau pesek, bertubuh tinggi atau pendek, berkulit coklat atau hitam, terlahir dari orang tua petani, pegawai, atau pejabat. Rezeki, kematian, jodoh adalah hak Allah.

Setiap pilihan manusia di dunia pasti menuai akibatnya. Manusia taat, ada akibatnya. Dia bermaksiat, ada akibatnya. Di dunia, manusia bebas memilih setiap perbuatan. Namun, di akhirat, dia tidak bebas memilih: hidup abadi di surga atau neraka. Surga dan neraka itulah konsekuensi atau akibat perbuatan yang manusia pilih di dunia.

Ketika kita taat kepada Allah, balasan indah yang kita tuai adalah surga.

وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوۡفُهَا تَذۡلِيۡلًا

“Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik (buah)nya.
Tafsir.” (QS. Al-Insan: 14)

Inilah perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa.

مَثَلُ الۡجَـنَّةِ الَّتِىۡ وُعِدَ الۡمُتَّقُوۡنَ‌ؕ فِيۡهَاۤ اَنۡهٰرٌ مِّنۡ مَّآءٍ غَيۡرِ اٰسِنٍ‌ ۚ وَاَنۡهٰرٌ مِّنۡ لَّبَنٍ لَّمۡ يَتَغَيَّرۡ طَعۡمُهٗ ‌ۚ وَاَنۡهٰرٌ مِّنۡ خَمۡرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيۡنَ ۚ وَاَنۡهٰرٌ مِّنۡ عَسَلٍ مُّصَفًّى‌ ؕ وَلَهُمۡ فِيۡهَا مِنۡ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغۡفِرَةٌ مِّنۡ رَّبِّهِمۡ‌ؕ

“Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka.” (QS. Muhammad: 15)

Ketika manusia bermaksiat, balasannya adalah neraka. Maka jauhilah kemaksiatan. Di akhirat, pelaku maksiat akan berakhir di neraka jahanam. Kulit mereka diganti Allah dengan kulit yang baru untuk disiksa lagi.

Allah Swt. berfirman,

اِنَّ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا بِاٰيٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيۡهِمۡ نَارًا ؕ كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُوۡدُهُمۡ بَدَّلۡنٰهُمۡ جُلُوۡدًا غَيۡرَهَا لِيَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَزِيۡزًا حَكِيۡمًا

“Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”
(QS. An-Nisa’: 56)

Minuman yang tersedia untuk mereka seperti besi yang mendidih.

اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِيۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَا‌ ؕ وَاِنۡ يَّسۡتَغِيۡثُوۡا يُغَاثُوۡا بِمَآءٍ كَالۡمُهۡلِ يَشۡوِى الۡوُجُوۡهَ‌ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا

“Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zhalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Oleh sebab itu, selama hayat kita di dunia, pastikan amal perbuatan kita diridai Allah Swt.
Pastikan pilihan kita tepat, memilih perbuatan yang disukai Allah, yang mengantarkan kita ke surga. Maka yang harus kita lakukan, bersegera kepada syariat-Nya.

وَسَارِعُوۡۤا اِلٰى مَغۡفِرَةٍ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالۡاَرۡضُۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِيۡنَۙ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Mengapa kita harus bersegera menyambut seruan Allah? Karena sikap seorang muslim ketika diseru oleh Rabb-nya adalah “sami’na wa atha’na”, saya dengar dan saya taati. Tidak ada kompromi dengan hawa nafsu kita. Hidup yang kita jalani harus sesuai titah Ilaahi Rabbi.

Wallahu a’lam bishawwab.