Oleh: Agu Dian Sofiyani,S.S

Baru-baru ini, media Inggris BBC menayangkan liputan khusus soal pengakuan Muslimah Uighur yang pernah ditahan di kamp ‘reedukasi’ di Xinjiang, China.

Perempuan-perempuan Muslim Uighur itu mengaku menyaksikan, bahkan menjadi korban penyiksaan, pelecehan seksual, hingga pemerkosaan oleh polisi dan pria China ketika ditahan di kamp reedukasi di Xinjiang, China (pikiran rakyat, 5 February 2021).

Ironisnya, ketakutan, penderitaan dan jeritan yang menggema di gedung kamp reedukasi Xinjiang tak digubris oleh dunia. Umat Islam, khususnya muslimah yang menjadi korban kebiadaban China hanya bisa menelan kesakitan itu entah sampai kapan. Yang semakin menyakitkan,tak ada satu pun pemimpin dari negeri Islam termasuk Indonesia bersuara, membela saudaranya yang tengah menderita.

Apa yang menyebabkan para pemimpin negeri Islam bisu, tak bersuara?

Sejak pertama kali isu Muslim Uyghur mencuat sekitar 2018, para pemimpin negeri Islam bisu, tak bersuara. Para pengamat mengatakan pemerintah negara-negara Muslim memang tidak dimasukkan ke dalam satu kategori, namun, ada sejumlah kesamaan utama di balik kebisuan mereka, yakni pertimbangan politik, ekonomi dan kebijakan luar negeri.

Pakar kebijakan Cina Michael Clarke, dari Universitas Nasional Australia, mengatakan kepada ABC bahwa kekuatan ekonomi China dan takut mendapat balasan menjadi faktor besar dalam politik komunitas Muslim (tempo, 24 Desember 2018).

Begitupun dengan bungkamnya Indonesia. Peneliti Kebijakan Luar Negeri dan Politik Asia Tenggara dari International Institute for Strategic Studies (ISS), Aaron Connelly, menganggap isu Uighur ini sensitif bagi publik Indonesia sehingga Jokowi tak bisa cepat bersuara.

Peneliti lembaga think thank Singapura itu menganggap Jokowi akan berpikir dua kali sebelum menyinggung China soal ini di depan publik, salah satunya karena kerja sama ekonomi terutama modal Beijing yang cukup besar tertanam di Indonesia.

Senada dengan Connelly, pengamat politik internasional dari Universitas Indonesia, Agung Nurwijoyo, menganggap pemerintahan Jokowi memang harus berhati-hati mengangkat isu ini kepada pemerintah China.

Agung menganggap Indonesia tak bisa banyak berbuat apa-apa selain menggunakan jalur dialog dan diplomasi untuk membujuk Beijing bersikap terbuka dalam menjelaskan situasi di Xinjiang.

“Indonesia butuh kalkulasi serius untuk merespons isu Uighur ini karena ini isu sensitif bagi China. Karena memberi respon sekeras apapun pasti akan ada dampaknya bagi Indonesia sebab China tidak mau dicampuri urusan dalam negerinya,” kata Agung saat ditemui dalam sebuah diskusi terkait pelanggaran HAM terhadap suku Uighur di Jakarta (CNN, 21/12 2018).

Demikianlah fakta lemahnya negeri-negeri Islam saat ini dan bergantungnya mereka kepada negara-negara kafir, salahsatunya China. Inilah yang menjadi penyebab bungkamnya mereka terhadap genosida yang dilakukan China kepada Muslim Uyghur. Jangankan perlawanan secara fisik, bahkan sekedar suara kecaman pun tak terdengar.

Padahal dulu umat Islam adalah umat yang kuat. Umat Islam menjadi umat yang satu di bawah satu naungan negara yakni khilafah. Jeritan seorang muslimah di kota Amuria yang meminta tolong kepada pemimpin khilafah yakni Khalifah segera didengar dengan mengirimkan tentara Islam yang sangat banyak. Namun sejak paham nasionalisme dan sekularisme menggerogoti pemikiran kaum muslimin, mulailah bencana demi bencana terjadi. Puncaknya ketika khilafah Islam berhasil diruntuhkan oleh Mustafa Kamal Attaturk.

Sejak saat itu, kaum muslimin mulai terpecah belah, dipisahkan dengan sekat-sekat bangsa. Mulailah mereka menjadi sangat lemah dan bergantung kepada negara-negara kafir. Maka dengan mudah orang-orang kafir memburu mereka. Kaum muslimin layaknya hidangan yang diperebutkan oleh orang-orang kafir. Genosida yang dilakukan China kepada Muslim Uyghur adalah salahsatu buktinya.

Maka selama umat Islam tidak bersatu kembali dalam naungan khilafah, selama itu pula genosida terhadap Muslim Uyghur akan terus berlangsung. Khilafah adalah penjaga Islam dan kaum muslimin, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:
Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]

Sungguh yang hanya akan mendengar jeritan muslim Uyghur adalah Khalifah. Maka sudah saatnya kaum muslimin berjuang untuk segera menegakkannya. Wallahu’alam