Oleh: Ummu Habil

“Ni, kamu sudah lama tinggal di Batam. Kok masih begini aja!, Beli lah rumah, sekarang tuh kan bisa nyicil rumah. Bisa diajukan KPR, dari pada ngontak, uang habis rumah gak dapat. Kalau nyicil meskipun lama, kan jadi milik kita nantinya”, Tiba-tiba argumen yang sama muncul dari salah satu anggota keluarga Ku lagi, yang kala sore itu menelpon Ku.

“Hmm… begitu lah, jika belum paham agama.” Gumam Ku dalam hati.


Di lain waktu.
“Ndeeh, tau ndak Kau Ni! (ngerti tidak kamu, bahasa Minang), kalau tidak KPR, mungkin hingga saat ini Ajo tidak punya rumah”, Kata salah satu abang Ku, yang mencoba membanggakan diri karena sudah memiliki rumah.


Begitulah singkat komunikasi terkait kepemilikan rumah pribadi. Memiliki rumah sendiri tentu menjadi impian banyak orang. Apalagi dengan sesuka hati bisa mendisainnya. Pasti merupakan hal yang sangat membanggakan bagi sebagian orang. Mungkin juga yang Aku inginkan dahulu di awal pernikahan. Pernah Juga sempat mengambil rumah dikala itu dengan cara KPR. Tapi peringatan itu cepat datang, membuat Aku kembali pada-Nya. Bersegera mengakiri KPR itu, meskipun rugi dalam hal materi.

Aku tipikal orang yang suka mendengarkan nasihat. Apalagi itu berkaitan dengan azab dan siksa neraka. Membuat bulu kuduk merinding, membayangkan pedihnya di dalam kubur. Aku juga suka mengikuti kajian agama. Singkat nya Aku bertekad dan membuat janji kepada diriku sendiri. Mulai saat ini juga. Aku akan menjemput hidayah-Nya Allah SWT. Berharap Allah SWT mengampuni segala kesalahanku di masa lalu yang berlumur dosa.

Segera saja Aku membanting setir, meninggalkan perkara riba, termasuk suamiku. Ku suruh resign dari pekerjaan nya yang waktu itu bekerja sebagai marketing kendaraan. Tentu bukanlah hal yang mudah. Tidak menggunakan Asuransi Kesehatan untuk biaya Operasi Caesar. Padahal waktu itu kondisi keuangan menipis.

Satu yang Aku ingat. Juga pesan dari guru ngajiku. “Ingatlah, jika kita menolong agama Allah, pertolongan Allah itu sangat lah dekat dan tepat”, katanya.

Benar saja. Semuanya Allah Mudahkan. Ada ada saja rezeki yang tidak disangka-sangka. Semuanya mudah saat proses persalinan. Padahal Aku dan suami saja di rumah sakit. Ibu ku tidak ke Batam, Aku mencoba mandiri bersama suami. Kami merasa sangat enjoy dengan kehadiran buah hati kami yang kedua ini. Tentunya kebahagiaan ini karena petunjuk Allah SWT. In sya’a Allah.


Kembali pada persoalan memiliki rumah tadi. Memiliki rumah pribadi tentu saja boleh. Namun, Islam melarang memiliki rumah dengan cara KPR (Kredit Kepemilikan Rumah), jelas sekali hukumnya adalah haram. Haram berarti secara mutlak harus ditinggalkan, jika tetap dilakukan maka berdosa yang amat besar.
Allah SWT juga menyatakan perang kepada pelaku riba. Sebagaimana Firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَاإِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَفَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَوَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah apa yang tersisa dari riba, jika kalian adalah orang-orang yang beriman. Maka jika kalian tidak meninggalkan, maka umumkanlah perang kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika kalian bertaubat, maka bagi kalian adalah pokok harta kalian. Tidak berbuat dhalim lagi terdhalimi. Dan jika terdapat orang yang kesulitan, maka tundalah sampai datang kemudahan. Dan bila kalian bersedekah, maka itu baik bagi kalian, bila kalian mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 278-280).

Nah, sangat jelas. Allah SWT melarang keras agar kita meninggalkan riba. Bahkan Allah SWT mengumumkan perang bagi pelakunya. Percayalah. Bahwa tidak ada orang yang selamat jika melakukan perang dengan Sang Maha Pencipta.

Maka dari itu. Segala sesuatu yang menurut kita baik. Belum tentu baik menurut Allah SWT. Karena standar kebaikan itu adalah berdasarkan hukum yang telah Allah SWT tetapkan. Bukan berdasarkan keinginan hawa nafsu. Apalagi disandarkan atas penilaian baik dari orang lain. Semua yang diusahakan di dunia ini tidaklah kekal. Maka yang harus dilakukan mulai detik ini adalah memastikan diri untuk meninggalkan riba dalam segala aktivitas nya.

Wallahu’alam Bisshowabb.