Sebuah cerpen oleh : Nur Salamah

“Dasar anak pembangkang!” Rutuk ibuku penuh kekecewaan, emosinya meluap, mendapatiku seolah tak pernah menghiraukan nasihatnya.

Aku hanya tertunduk lesu, bibirpun terasa kelu, sekedar mengeja kata yang singkat pun aku tak mampu.

“Kurang apa Lutfi itu? Sudahlah tampan, kaya, dan terpandang. Malah kamu tinggalkan begitu saja.”


“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Siapa ini?” Jawab Mbak Salma melalui telepon seluler, dengan jawaban salam lengkap, yang memang menjadi kebiasaan beliau seperti itu.

Mbak Salma adalah kakak ipar dari Masku yang pertama, berprofesi sebagai guru di sebuah lembaga pendidikan berbasis pesantren.

“Ini Wulan, Mbak. Maaf mengganggu. Wulan bingung, bagaimana harus memulai pembicaraan. Yang jelas, Wulan pengen ke Batam.”

Aku berusaha menghubungi Mbak Salma untuk menyampaikan keinginanku melanjutkan sekolah di Batam. Karena yang kutahu beliau adalah orang yang peduli dengan pendidikan, dan sangat mencintai ilmu.

Meskipun demikian, Mbak Salma tidak serta merta menyetujui. Beliau menyuruhku meminta izin kepada ibu. Karena tanpa izin dan ridho dari ibu, Mbak Salma tidak mau mengabulkan keinginanku. Karena memang benar apa yang disampaikan oleh Mbak Salma, ridho Allah SWT adalah ridho orang tua. Karena aku sebagai anak perempuan.

Aku siapkan seribu kekuatan untuk merangkai kata, menyusun kalimat untuk dapat menyampaikan segala yang tersimpan di dalam hati ini. Karena memang cukup berat, aku dan ibuku berbeda pandangan.


“Buk…, Wulan ingin melanjutkan sekolah di pondok.”

“Silakan! Mau di Abah Alim atau Yai Zaidi?” Jawaban ibuku memberikan pilihan, yang mana aku tidak sanggup memilih antara keduanya

“Wu. Wu. lan… ingin melanjutkan sekolah di Batam, Buk.” jawabanku agak gugup karena diselimuti rasa takut.

“Mengapa harus ke Batam? Apakah sudah kamu pikirkan baik-baik? Lantas bagaimana hubunganmu dengan Lutfi? Apakah dia sudah mengetahui rencanamu ini?”

Sudah kuduga sebelumnya, ibu pasti melontarkan segudang pertanyaan yang sebenarnya memang belum menyetujui. Dan sepertinya Ibu membaca apa yang ada dalam hati dan pikiranku.

Keinginanku ke Batam sebenarnya bukan sekedar ingin melanjutkan sekolah (kuliah) di Batam. Tapi lebih dari itu. Setelah aku mengenal teman-teman di ‘yuk ngaji’, tiga bulan sebelum masa pandemi, sekitar bulan Desember 2019. Aku mulai belajar tentang ‘cinta dalam pandangan islam’ Mulai dari situ aku merasa tidak nyaman dan tak jarang selisih paham dengan ibuku.

Batam adalah kota tujuan, dimana Mas dan Mbak Salma berada. Mereka berdua adalah tempat yang aku rasa bisa menguatkan langkahku dan meneguhkan imanku.

Ibuku bermaksud menjodohkan aku dengan anak teman dekatnya, yang tak lain adalah teman sekelasku di SMK Baitussalam, iya dialah Lutfi. Yang sedari awal juga menaruh harapan padaku. Bahkan pernah menyampaikan perasaan cintanya padaku. Namun aku tidak begitu menanggapi. Karena memang aku tidak ada perasaan apapun terhadapnya. Di tambah lagi karena dia berlagak sombong, merasa sok hebat, anak pengusaha batik yang kaya raya di Kota Pekalongan. Wajar, dia dan keluarganya masih berpandangan bahwa harta dan kekayaan adalah simbol kemuliaan.

“Pripun Buk?” (Bagaimana Buk) tanyaku kembali kepada Ibu. Aku yakinkan hati ibuku dengan seribu argumentasi. Meskipun dengan berat hati, ibuku mengizinkan aku pergi ke batam, tentunya setelah pengumuman kelulusan.


Setahun kemudian

Tanpa terasa, sudah 300hari lebih aku lalui kehidupan di pondok pesantren bersama teman-teman seperjuangan. Mbak Salma mendaftarkan aku di STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah) jurusan Manajemen Pendidikan Islam yayasan ponpes Hidayatullah, dimana beliau juga menjadi staf pengajar di sana di SMPnya, mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Jadi hampir setiap saat bisa memantau keberadaanku. Termasuk meriayahku seminggu sekali dengan Kitab ‘Nidzomul Islam’. Aku merasa bahagia, meski sebagian besar keluargaku kurang mendukung karena berbeda pandangan tentang harokah.

Saat jadwal perpulangan tiba, sebulan sekali aku di rumah Mbak Salma. Seperti biasa ngobrol bareng dengan Mas Ari dan ponakan.

“Dik…, Kalo ada yang ingin taaruf denganmu bagaimana?”

“Apa?” Jawabku dengan mata terbelalak seketika.

“Mau apa gak?” Sambung Mas Ari lagi.

Hatiku berdebar seribu satu rasa. Gejolak cinta yang membara mendamba belahan jiwa akan segera tiba. Seakan tak percaya, namun Mas Ari serius menyampaikan maksudnya. Sejurus kemudian, diraihlah benda warna hitam berisi berbagai perlengkapan kerja Mas Ari. Diambilnya gawai dan menunjukkan kepadaku biodata ikhwan yang dimaksud. Lengkap dengan foto.

Hasan, itulah nama yang tertera dalam biodata tersebut. Mahasiswa semester 3 jurusan ‘Tafsir Hadist’ bekerja di Indihome. Aktivis di Gerakan Mahasiswa Pembebasan, dan di ‘Yuk Ngaji’. Anak pertama dari 5 bersaudara, yatim. Sehingga mempunyai kewajiban mengurus ibu dan adik-adiknya. Tak jauh beda dengan Mas Ari.

Ada perasaan bahagia dan diselimuti keraguan yang mendalam. Karena Ibuku sudah pasti marah. Karena dilihat dari sisi duniawi tidak ada yang wah seperti yang ada pada diri Luthfi. Ibu masih berpandangan seperti masyarakat pada umumnya, yang memandang bahwa kesuksesan dan kebahagiaan diukur dengan harta kekayaan. Namun kuyakinkan diri ini, dengan secuil pemahaman, bahwa kita akan bersama orang yang kita cintai. Maka aku akan mencintai orang yang mencintai Allah SWT dan RasulNya. Dan kebahagiaan itu bukan karena harta semata. Sedangkan semua itu ada pada diri Hasan.

Meskipun terkadang berbeda prinsip dan pandangan, tidak sejalan dengan jalan hidup yang ditempuh. Ibuku tak bisa menolak jika Mas Ari yang bicara. Ntah karena rasa sayang atau segan. Karena Mas Ari ini adalah anak yang sholih dan penyayang terhadap keluarganya. Tidak pernah ada rasa iri ataupun penyakit hati yang lain. Ibuku juga sering menceritakan tentang Mas Ari. Kalau beliau ini sangat dekat dengan masjid dan mengkaji banyak kitab-kitab ke-NU-an.

“Sudah nggak usah banyak mikir! Biar Mas yang urus semua termasuk bilang ke Ibu”.
Aku hanya mengangguk tanda setuju. Karena aku yakin Mas Ari tahu yang terbaik untukku dan kehidupanku.

Mungkin sudah bagian dari ketetapan Allah SWT, semuanya berjalan dengan mudah dan lancar. Hingga tiba hari di mana aku menyempurnakan agamaku, menghalalkan cinta yang telah Allah SWT anugerahkan. Acara sakral itu tidak banyak dihadiri tamu, hanya sebagian keluarga dan Ibuku. Karena masih dalam suasana covid-19.

Menyaksikan prosesi pernikahan kami, sikap dingin ibuku terbaca jelas dalam sorotan matanya. Aku kenal betul karakternya. Seakan ada sesuatu yang tersimpan dan akan segera diluapkannya.

“Dasar anak pembangkang!” Rutuk ibuku penuh kekecewaan, emosinya meluap, mendapatiku seolah tak pernah mendengarkan nasihatnya.

Aku hanya tertunduk lesu. Bibir ini terasa kelu, sekadar mengeja kata singkat pun aku tak mampu.

“Kurang apa Luthfi itu. Sudahlah tampan, kaya dan terpandang. Kamu menolaknya. Katanya mau kuliah, ternyata menikah. Ibu nggak ngerti jalan pikiranmu. Menikah masih sama-sama kuliah. Mau jadi apa kamu ini. Semua gara-gara pengajian dengan orang-orang radikal. Kamu sudah dicuci otak”. Ibarat kendaraan yang melaju cepat, ucapan ibu seakan tak bisa dikendalikan.

Air mata ku berderai membasahi pipi. Mas Ari mendekatiku dan menenangkan ku. Kemudian memeluk ibu dengan penuh cinta dan hormat.

“Sudahlah Bu. Istighfar! Yakinlah bahwa Wulan akan bahagia dan InsyaAllah akan bisa memulyakan Ibu di dunia dan akhirat”. Mas Ari berusaha membujuk dan meyakinkan Ibu.

Sesaat setelah usai acara, ponsel ibu berdering. Suara isak tangis terdengar jelas. Namun aku belum sanggup mengarahkan pandangan ke Ibu.

“Mbak Far…, Pekalongan banjir bandang. Rumah kami terendam air. Harta benda kami hanyut. Lutfi dan bapaknya hilang belum ketemu. Sekarang aku sebatang kara. Tak punya apa-apa dan siapa-siapa”. Suara tangisan ibunya Luthfi.

Ponsel yang ada ditangan ibu terjatuh, tanpa disadari. Ibuku kelihatan syock. Apa yang didengarnya Barusan seperti mimpi. Seakan tak percaya. Yang digadang-gadang selama ini raip seketika. Tapi aky belum berani juga memulai bicara.

“Buk, apa yang terjadi?” Tanya Mas Ari kepada ibunya.

Ibu hanya terdiam. Tatapan matanya kosong. Tapi Mas Ari peka. Paham betul apa yang sedang terjadi dengan ibunya. Dalam kondisi seperti itu, waktu yang tepat untuk Mas Ari bicara dengan ibu.

“Ibu kenapa? Sudahlah Buk. Setiap kejadian itu atas kuasa dan kehendak Allah SWT. Dan semua pasti ada hikmah kebaikannya. Termasuk apa yang Ibuk dengar barusan. Semua mengingatkan kepada kita, bahwa semua yang ada di dunia ini tak ada yang abadi. Semuanya lemah dan terbatas. semua tidak ada yang kita bawa ketika mati. Termasuk harta, kekayaan maupun jabatan. Yang kita bawa adalah ilmu dan amal kebaikan”. Panjang lebar Mas Ari berusaha mengingatkan ibu.

Namun ibu hanya terdiam, tatapannya kosong, mencerna pelan dalam kesunyian setiap apa yang disampaikan Mas Ari.

Mas Ari tersenyum tipis sambil memeluk ibu. Sepertinya ibu mulai menyadari. Tapi masih ada rasa enggan untuk mengiyakan. Semoga ibu dan keluarga semua segera sadar bahwa mencintai dunia itu adalah sia-sia dan fatamorgana.

Selesai…